Ikan dan Tumbuhan

Joko Priyono

KITA masih ingat saat Presiden Joko Widodo ketika melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah, hal biasa dilakukan adalah dialog bersama perwakilan masyarakat. Upaya itu tentu memiliki makna Bisa jadi hal itu cara untuk membangun citra, memberikan pengaruh pada masyarakat luas bahwa presiden dekat dengan rakyat. Kedekatan tentu penting, tapi jauh lebih penting menjadikan aspirasi masyarakat terpenuhi.

Di banyak kesempatan, Presiden Joko Widodo berdialog dengan anak-anak. Beliau sembari memberikan panggung untuk anak, mempersilakan memperkenalkan diri mereka, hingga memberi beberapa pertanyaan kepada anak yang berani maju. Alih-alih semangat seorang anak memberanikan diri karena iming-iming hadiah sepeda. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul adalah menyebutkan nama-nama ikan. “Sekarang sebutkan sepuluh nama ikan!” kalimat biasa terucap.

Presiden Joko Widodo memiliki maksud adanya dialog menekankan hadirnya ilmu pengetahuan. Kita ingat, dalam kurikulum sekolah dasar, pelajaran berkaitan ikan dan tumbuhan menjadi dua hal tak terpisahkan. Dalam cakupan lebih luas, pendidikan terus berupaya menumbuhkan kesadaran berpengetahuan, menilik lingkungan hidup secara keseluruhan, dan membebaskan diri dari belenggu kebodohan. Pendidikan juga memiliki tujuan untuk mengasah kemampuan berbahasa dan penyesuaian bahasa terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Kita membuka salah satu buku pelajaran terbitan tahun 1981 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan judul Bahasa Indonesia Bacaan Jilid IV. Anak-anak diajak mengingat nama-nama ikan. Misal,bacaan di  halaman 23, penyusun buku menulis beberapa jenis ikan: gabus, mas, tawas, mujahir, sepat, bandeng, lele, teri, dan tongkol. Bahkan, dalam daftar tersebut dimasukkan juga udang, kepiting, dan cumi-cumi.

Apakah ketiganya termasuk jenis ikan atau bukan? Rasanya, pada masanya anak rada bandel, akan mempertanyakan kepada gurunya. Dari jenis ikan yang telah ditulis dalam daftar, beberapa pertanyaan yang hendak diajukan kepada anak-anak dalam buku tersebut berwujud kemampuan membedakan habitat tempat hidup dan jenisnya masuk kelompok bersisik maupun tak bersisik. Sebatas itu. 

Sementara itu, pada bagian jenis tumbuhan, anak-anak disuguhkan nama buah dalam sebuah kalimat di halaman 48: ”Manggis, jeruk, durian, dan mangga adalah nama buah-buahan.” Kemudian diikuti kalimat selanjutnya, “Pernahkah kamu mendengar kampung yang bernama KKmanggisan, Kebun Jeruk, Pedurenan, dan Duku?”

Anak-anak seakan hanya diajak mengembangkan imajinasinya pada persoalan kedaerahaan saja. Hal itu menandakan ada sebuah gejala serius dalam berbahasa kita, khususnya adalah pembahasaan terhadap ilmu pengetahuan. Bahasa Indonesia masih menghadapi kesulitan dalam upaya adaptasi maupun penyesuaian perkembangan ilmu pengetahunan. Di sekolah, anak-anak kerap menghadapi kondisi kekakuan macam itu. Anak-anak kemudian terhambat dan telat memahami apa saja yang ada di lingkungan hidupnya.

Kita kemudian membaca buku serial Pustaka Life berjudul Ikan (1979) susunan Drits W. Went. Kita menemukan penjelasan begini pada dalam halaman 9: ”Dan di antara segala makhluk vertebrata di dunia, ikanlah yang paling tua, sebab ikan telah menghuni perairan jauh sebelum ikan pertama membernaikan diri keluar dari air dan pindah ke daratan untuk memulai proses evolusi yang panjang secara perlahan-lahan. Proses evolusi itulah yang melahirkan mamalia dan akhirnya manusia.”

Kita juga bisa menemukan pengertian ikan dan tumbuhan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka tahun 1995. Ikan memiliki pengertian dua macam: “(1) Binatang bertulang belakang yang hidup dalam air, umumnya bernapas dengan insang dan (2) Lauk. Sementara tumbuhan memiliki tiga pengertian, masing-masing: (1) Sesuatu yang tumbuh, (2) Segala yang hidup dan berbatang, berdaun, dan berakar, dan (3) Makhluk hidup yang berinti sel mengandung klorofil.”

Alih-alih kita perlu serius dalam menggarap pengembangan bahasa dalam penyesuaian berbagai istilah baru di ilmu pengetahuan, kita masih menemukan hal-hal yang lucu dalam penggunaan istilah yang sebenarnya merepresentasikan perkembangan ilmu pengetahuan seperti halnya ikan dan tumbuhan dalam ruang publik. Kita sejak kecil hanya diajak terbiasa sebatas kagum pada keindahan alam. Misalkan, lewat lagu Lihat Kebunku dan Naik-naik ke Puncak Gunung. Bahkan perkara ikan, utamanya di masyarakat perkotaan hanya diidentikkan dengan makna makanan sea food, yang menjamur dan bertebaran di pinggir jalan.

Belum lagi dalam konteks hari ini, jenis tumbuhan kerap menjadi hal yang dimasukkan dalam lagu. Kita menemukan salah satu lirik dalam lagu yang mulanya berjudul Siborong-borong diciptakan oleh Nanu Mulyono pada 1970-an. Kemudian, populer dengan Sayur Kol: “Sayur kol… sayur kol… makan daging anjing dengan sayur kol.” 

Belum lagi istilah ikan kita juga menemukan pada sebuah novel gubahan Raditya Dika dengan judul Manusia Setengah Salmon (2011) dengan mengangkat cerita penuh komedi. Oh, perihal ikan dan tumbuhan mungkin bagi kita lebih menggemari pada urusan makan dan drama komedi. Kita mudah gandrung mengenyahkan istilah tersebut dalam menafsirkan dan merenunginya lebih mendalam terkait perkara ilmu pengetahuan dan perkembangannya. 


Joko Priyono, bergiat di Lingkar Diskusi Eksakta, tinggal di Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s