Makan dan Tangan

Ratna Hayati

MAKANAN khas Nusantara cenderung tak berkuah, berbumbu pekat dan kuat. Sehingga, menyantap sedikit saja ditambah nasi putih yang mengepul hangat akan terasa afdol kalau menggunakan tangan saja. Sejumput demi sejumput, rasanya bumbu makin meresap nikmat bercampur rata dengan nasi. Ditambah juga sambal uleg saat diambil dengan tangan. Masuk ke mulut melalui perantaraan tangan kosong juga. Praktis! Itu lebih higienis karena lebih bisa dikontrol sebersih apa kita membersihkan tangan kita saat akan makan. 

Cara makan ini kadang menjadi bahan olok-olokku di keluarga atau pergaulan. Di keluarga, ada yang cenderung lebih suka menggunakan sendok untuk hidangan apa saja, bahkan hidangan tak berkuah seperti rendang, gudeg, atau bebek goreng. Kita tak tahan dengan adegan menyendok bisa-bisa berkomentar, “Keturunan Belanda, ya, senangnya makan pakai sendok”. Komentar yang lainnya, “Dulu pasti nenek moyangnya priyayi.”

Bukan tanpa alasan atau sembarangan bila orang berkomentar seperti itu. Sebab, berdasar sejarahnya, pada umumnya rakyat pribumi makan dengan menggunakan jari-jari tangan seperti yang diamati oleh seorang penulis Inggris, H.W. Ponder (1950: 35). Disebutkan juga dalam buku Rijsttafel, Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942 garapan Fadly Rahman, pada masa kolonial sebagian kalangan elite pribumi mulai menerima ide dan kebiasaan makan Eropa yang dipandang suka menampilkan kemewahan. 

Pada umumnya rakyat pribumi duduk di lantai ketika makan. Mengalasi makanan mereka dengan daun pisang atau piring kayu. Sebelum dan sesudah makan, tangan kanan dicuci dengan air supaya nasi yang dikepal tidak lengket di tangan sehingga mudah disuapkan ke mulut. Mencuci tangan dan makan dengan menggunakan tangan kanan adalah adab yang penting dalam budaya makan di Nusantara. 

Mencuci tangan dan makan dengan menggunakan tangan kanan adalah adab yang penting dalam budaya makan di Nusantara.

Cara makan mulai bercampur ketika orang-orang Belanda mengambil pribumi untuk dijadikan “istri” selama mereka berada di tanah Hindia. Percampuran tidak sekadar terjadi di ranjang yang kemudian menghadirkan anak-anak Indo tapi juga di meja makan dalam bentuk percampuran hidangan yang dikenal dengan nama “Rijsttafel”. Sebelumnya, orang-orang Belanda makan roti keras, mentega, dan keju. Kalaupun sayuran biasanya dengan sedikit bumbu dan cenderung hambar. Ketika mereka beristrikan orang-orang pribumi maka mulailah terjadi percampuran, mulai muncul aneka hidangan hasil perpaduan Barat dan Timur: bestik dan huzarensla. Orang-orang Belanda itu mulai makan dengan nasi, aneka sayuran, lauk pauk, dan sambal yang sangat mereka suka. Sehingga, di meja makannya, hidangan akan terdiri dari sajian sayur, lauk pauk, nasi, dan sambal, yang awalnya disebut hidangan penutup. Alih-alih, sebagai hidangan pelangkap dan penambah nikmat santapan. Kemudian bermunculan aneka buku resep hidangan Rijsttafel, ada buku resep aneka sambal. 

Pada masa kejayaanya, beberapa hotel terkemuka di Jakarta, Bandung, atau Surabaya menampilkan hidangan Rijsttafell sebagai salah satu daya tarik pengunjung. Aneka hidangan disajikan dengan banyak pelayan berpakaian baik saat menyajikannya. Penyantap serasa menjadi bangsawan. Sampai saat penjajahan berakhir dan mereka kembali ke negerinya, ingatan akan hidangan Rijsttafel  membuat beberapa restoran di Belanda yang menghadirkan hidangan Indonesia. 

Sampai terciptalah lagu “Geef Mij Nasi Goreng” oleh Wieteke Van Dort, yang menceritakan kerinduannya akan hidangan nasi goring dan aneka hidangan Indonesia lainnya seperti kerupuk, terasi, srundeng, bandeng, tahu petis, kue lapis, onde-onde, bakpau, ketan, gula jawa, dan lain-lain. Sekembalinya ke negeri asal di Belanda, mereka pun kembali ke cara makan ala bangsa Eropa pada umumnya.

Sementara kita, rakyat bekas jajahannya, sepertinya tak pernah sepenuhnya kembali ke cara makan awal walau hotel-hotel yang menyajikan Rijsttafell satu demi satu tutup karena alih fungsi oleh Jepang. Tapi, cara makannya tetap menetap bahkan makin meluas ke semua kalangan. Kalau dihitung saat ini pasti lebih banyak yang menganggap makan menggunakan satu set piring lengkap dengan sendok lebih “beradab” dibanding makan sekadar menggunakan pincuk daun pisang dan makan menggunakan tangan kosong yang bersih saja. 

Hidangan pun menyesuaikan, menjadi lebih banyak berkuah dan ala Rijsttafel tidak lagi sederhana seperti nenek moyang kita dahulu. Makanan tradisional berubah status menjadi daya tarik wisatawan saat mengunjungi daerah tertentu saja, yang hanya dinikmati saat berlibur atau wisata kuliner tapi bukan menjadi hidangan harian sebagian besar masyarakat.

Anehnya juga, perlahan jajanan tradisional seperti lapis, nagasari, serabi, apem dan lainnya tergeser oleh hidangan ala negeri asing yang dianggap lebih keren seperti aneka roti, kue dan biskuit, yang bahan baku utamanya saja harus diimpor dari luar negeri. Jadilah Indonesia salah satu pengimpor terbesar gandum di dunia. Padahal, negeri kita kaya akan aneka tanaman sumber tepung non gluten, yang konon jauh lebih sehat daripada gandum. 

Jadilah Indonesia salah satu pengimpor terbesar gandum di dunia. Padahal, negeri kita kaya akan aneka tanaman tepung non gluten, yang konon jauh lebih sehat daripada gandum.

Sekarang, coba saja kita makan pakai tangan kosong tanpa sendok. Bisa saja saat acara makan kenegaraan yang nantinya akan dipandang aneh atau mungkin jorok. Padahal, harusnya tangan adalah alat makan yang paling bersih di dunia karena kita bisa memastikan tingkat kebersihannya sendiri saat mencucinya. Hanya di rumah makan tertentu kita masih bisa mendapati cara makan pakai tangan tanpa perlu dipandang rendah seperti di rumah makan Sunda atau Padang.

Sehari-hari di rumah pun makanan selalu tersedia lengkap dengan peralatan piring dan sendoknya. Hidangan pun lengkap: lauk pauk, sayur, nasi dan sambal ala Rijsttafel. Cara makan baru atau campur itu sudah menjadi gaya hidup seluruh lapisan masyarakat umumnya. Makan pakai tangan bisa jadi hanya akan tinggal menjadi kenangan.


Ratna Hayati, penulis tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s