Dendang Radio

Adib Baroya

Radio cerahkan hidupnya” 

(Sheila On 7-Radio)

RADIO adalah alat komunikasi yang tak manja. Saat menghidupkannya, kita tak dipaksa untuk tetap menemaninya tiap waktu. Menikmati radio, bisa sambil menyapu, sinau, umbah-umbah, isah-isah, menyetrika, atau pekerjaan lainnya. Radio tetap ikhlas dan bersetia mengumandangkan siarannya meski ditinggal ke mana-mana, disambi apa-apa. Sangat pas jadi teman berkegiatan atau merintangi waktu senggang. Radio menembus sekat-sekat rumah keluarga Indonesia. 

Aku tumbuh bersama radio di rumah. Ini, sebenarnya, bisa terjadi gegara televisi telat masuk rumah. Orangtua memiliki alasan tersendiri tak ingin buru-buru menghadirkan televisi di rumah. Konon, televisi membuat lupa waktu dan memapras jam belajar. 

Episode masa kecil lantas dipenuhi senandung dari radio. Aku mengerti radio itu dipenuhi lagu-lagu. Senandung memendar-memercik dalam ingatan. Aku berkenalan tanpa berjabat tangan dan perlahan-lahan mengakrabinya. Setelah menyalakannya, aku harus memutar-mutar tuning dulu agar suaranya jernih alias tidak kemresek. Mencari kanal radio juga melatih kesabaran lho. 

Yang paling aku tunggu dari siaran radio, jelas musiknya. Beragam musik mulai mengalun dan masuk di telinga. Musik-musik pop Indonesia atau Barat (alias yang berbahasa Inggris) sedikit-banyak mengantarkanku merasai dunia, tak melulu lewat dangdut yang lazim disetel di mana-mana. Meski banyak juga lagu yang diputar berbahasa Inggris, dan aku sama sekali tak mengertimaknanya, asal nyaman saja di gendang telinga, mantab sajalah! 

Pagi-siang-sore-malam, siaran radio terus mengudara. Saat sarapan sebelum berangkat sekolah, radio menyala: menghiasi pagi dan meminjamkan harapan. Pulang, di kala siang terik atau sudah meremang senja, radio menemani mengusir penat. Malam pun tiba, radio jadi teman menyuntuki pelajaran dan gelontoran PR dari sekolah. Sedang bapak nglembur di bangku kerjanya

Pulang, di kala siang terik atau sudah meremang senja, radio menemani mengusir penat. Malam pun tiba, radio jadi teman menyuntuki pelajaran dan gelontoran PR dari sekolah. Sedang bapak nglembur di bangku kerjanya.

Tempo jatuh bulan puasa, radio ikut menambah-menggeser program-program acaranya. Tak mau kalah dan heboh dengan jadwal program televisi. Ramadhan memang jadi momentum tersendiri bagi media-media Indonesia. Kita tak bisa menafikkan itu. 

Satu acara khusus Ramadhan, umpamanya, adalah serial yang diputar saat sahur. Serial ini berlangsung cuma pas Ramadhan. Ibu sering membangunkanku dengan godaan kisah yang dialami tokoh utama dari serial radio itu. Saat di meja makan pun, radio masih dibicarakan. Ia berada di antara selingan dan obrolan anggota keluarga. 

Radio menemani hidup manusia membentuk biografi dalam segala hal. Bermodal suara, radio membuat imajinasi membumbung tinggi. Daya khayal diajak menari-nari. Ini pula yang dirasakan Ulid dalam novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009) garapan Mahfud Ikhwan. Pas punya radio, Ulid bisa mendengarkannya dengan khusyuk-nikmat. Terutama siaran sandiwaranya. 

Adanya radio memang menawarkan kesenangan dan kenikmatan tersendiri, bagi Ulid yang menggembalakan kambing. “Kesenangan yang dimaksud adalah saat menunggangi kambing, sementara radio National kecilnya, yang kini sudah tidak berjarum gelombang tanpa antena, dan tali gantungnya telah berganti dengan pilinan sobekan kain sarung, terkalung di lehernya dan memperdengarkan sandiwara radio paling mutakhir.” 

Ulid antusias banget mengonsumsi radio. Di sekolah, ia lantas mengobral apa saja yang didengar-didapat dari radio di hadapan teman-temannya. Radio jadi bekal perbincangan memikat teman sebaya. Ketelatenan bersama siaran radio mengesahkan diri sebagai pendengar setia. 

Harian Kompas, 5 September 2021 membuat jajak pendapat tentang eksistensi radio di zaman digital. Dari hasil jajak pendapat, tujuh dari sepuluh responden memilih menggunakan radio antena berbentuk fisik atau radio di mobil. Namun, banyak pula yang memakai aplikasi radio di gawai dan streaming di situs-situs. Satu alasan yang membikin pendengar setia bertahan menikmati program radio adalah kebutuhan informasi atau berita. 

Jika boleh dibilang, seolah memang ada kedekatan dan ajakan untuk benar-benar berinteraksi dengan penyiar. Apalagi, sebagian besar radio menerima kiriman pesan yang berisi titip salam atau minta lagu. Siapa saja boleh berkirim-kirim salam serta menanti lagu favorit dimainkan. Pemutaran acak membuat kita menunggu dan mengenali lagu-lagu lain, dari beragam genre pula. Kita tak protes dan berterima saja. Sensasi yang disodorkan radio memang tak tergantikan!

Band indie tahun 2000-an macam The Upstairs membuat lirik tentang radio. Kita cerap lagu berjudul “Sekelebat Menghilang” ini: Gelombang tertangkap telinga/ menembus dinding bubarkan sedih yang datang/ disela sesal manisnya yang telah terukir zaman, membangkitkan gelombang pikiran… Penuh kisah keseharian/ memutarkan lagu yang pas keadaan.  Persembahan dari radio membubarkan rasa sedih. Secara apik-biografis, radio menggambarkan sesuatu yang pas keadaan. Rasa gundah dan gelisah pun agak terobati. Lagu-lagu di radio adalah obat mujarab tanpa perlu digerus atau ditelan. 

Pada masa kolonial, radio rupanya jadi media yang cukup penting. Kita mendapati penjelasan di buku Enggineers of Happy Land (2006) garapan Rudolf Mrazek. Radio itu barometer dan perlengkapan cukup penting dan populer di rumah-rumah keluarga di Hindia Belanda. Kita simak: “Berbeda dengan mobil, pesawat radio di Hindia Belanda itu biasanya dijual di toko-toko musik dan toko piano. Bagi mata masyarakat Hindia Belanda, mereka itu tampak sebagai semacam pernik-pernik baru yang sensasional, ‘perabotan baru yang fantastik’, tanpa perabot listrik ini, segera, tak ada rumah modern yang dianggap lengkap.” Kecanggihan radio beserta suaranya termasuk alat komunikasi yang fenomenal hingga memeriahkan Hindia Belanda di tengah nasib anak jajahan. 

Kini, saat jagat digital mulai jadi kewajaran dan tuntutan, suara radio masih menggema dimana-mana. Radio enggan surut atau kukut meski diserbu media (maya) baru. Radio pun gigih bertahan dan diminta berdaptasi-berinovasi. 

Kita menjumpai radio di tengah kepungan piranti digital. Radio pun terlipat di saku. Kecil-mungil. 


Adib Baroya, pendengar radio, tinggal di Sragen 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s