Searching, Infinite Scrolling, dan Waktu

Lyly Freshty

BOCAH-BOCAH memanggilnya Mbak Hape. Dia gampang dikenali karena sering ditemui berada di taman bermain. Bukan, bukan bermain di taman seperti yang dilakukan anak-anak lain, tapi bermain dengan hape di tangan. Dia selalu tampak sibuk dengan hape dalam genggamannya. Tak bisa lepas. Tatapannya terpaku pada layar seperti tersihir oleh benda persegi empat yang ukurannya tak lebih besar dari telapak tangan. Tak sedikit pun keramaian dan keriuhan anak-anak yang berlarian sambil berteriak ke sana ke mari mengganggu fokusnya pada hape.

Ia sendirian di tengah keramaian sekelilingnya. Tapi, dari raut wajahnya yang selalu berubah-ubah dan jemari tangan yang tak berhenti menjentik hape, sepertinya ia tak pernah benar-benar sendiri. Hape berhasil menyedotnya ke dunia lain yang lebih ramai.

Sebentar-sebentar, jempolnya lincah menari-nari di atas keyboard hape. Sesekali, wajahnya berpose dengan aturan layar terbaik, pilihan latar belakang paling oke, dan senyum termanis. Aneka macam swafoto lengkap dengan beragam ekspresi ala emoticon dijajalnya. Tanpa sadar, dia senyum-senyum sendiri pada hapenya, terputus dari dunia nyata di sekitarnya. 

Menurut cerita anak-anak, mereka sering mendapati dia berbicara keras-keras dengan seseorang sambil menatap sepotong wajah dalam layar. Pernah juga dia terlihat sedang menangis tersedu-sedu lalu tanpa malu-malu, lalu tak berapa lama tertawa-tawa di depan hapenya. Entah apa yang terjadi, yang pasti ia memiliki kehidupan sendiri di dunia lain dalam hapenya yang turut mempengaruhi lika liku emosinya.

Entah apa yang terjadi, yang pasti ia memiliki kehidupan sendiri di dunia lain dalam hapenya yang turut mempengaruhi lika liku emosinya.

Anak-anak memanggilnya Mbak Hape. Mereka cerita kerap diajak berswafoto dan direkam dalam video bersamanya untuk dijadikan status dan konten paling terkini dalam halaman rumah sosial medianya. Saat-saat begitu saja Mbak Hape berhubungan dengan sekelilingnya, terutama kalau sedang bengong sejenak dengan hapenya. Bengong memikirkan ide untuk kembali asyik masyuk lagi dengan hapenya.

Mbak Hape masih remaja, tapi menurut anak-anak, dia bukan sedang sekolah daring karena tidak pakai seragam dan tidak pasang wajah diam manis mendengarkan. Hape di tangannya sering selalu mengeluarkan musik nyaring-nyaring, sementara jemarinya sibuk pencet-pencet hape dengan jempol yang tiada henti melakukan scrolling. Apalagi sejak taman bermain memiliki fasilitas wifi bagi mereka yang haus koneksi (internet), Mbak Hape semakin sering terlihat nongkrong dengan hapenya di situ. Entah, kapan dia pulang ke rumah, yang jelas waktu anak-anak ke luar rumah bermain di taman, Mbak Hape juga sedang bermain di sana dengan hapenya. 

Anak-anak lain kadang seperti Mbak Hape. Ke taman untuk bermain hape. Tapi, tak ada yang setahan Mbak Hape berlama-lama dengan hapenya terutama ketika teman-teman juga mengajak bermain. Anak-anak lain masih memilih bermain dengan teman daripada main hape terus-terusan. Mbak Hape tidak memiliki teman sebaya yang mengajaknya untuk tidak hanya main hape. Sepertinya semua temannya ada di dalam hape. Mungkin saja sedang bermain hape seperti Mbak Hape, sama-sama online. Coba kalau Mbak Hape punya teman betulan seperti anak-anak lain?!

Zaman sekarang, berteman tak harus kenal akrab memang. Teman di dunia maya tak harus dekat seperti di dunia nyata, asal terkoneksi dengan tombol bertuliskan friend, follow, subscribe. Tinggal pencet, sejumlah teman bisa didapat dan didekati. Pertemanan media sosial namanya, berteman melalui perantara media sehingga tak harus secara langsung.

Seorang si ibu mengaku pernah mengalami kejadian lucu terkait pertemanan ala media sosial. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah instagram-nya, menyapa dan mengenalkan diri sebagai tetangga satu kompleks, mengaku mengenali ibu dan pengikut setia postingan si ibu. Si ibu tentu kaget saat disapa akrab oleh tetangga nyata di dunia maya, sebab sekalipun tak pernah bertegur sapa di dunia nyata. Si ibu sendiri tak punya ingatan pernah mengenal nama tetangganya itu, bahkan wajahnya pun tidak, sampai ia membaca profil akun media sosial tetangganya dan rasanya memang pernah berpapasan dengan wajah itu. Mereka pun semakin sering bertegur sapa via kotak bicara media sosial dan lebih sering malah daripada berinteraksi sungguhan di dunia nyata.

Kejadian seperti itu bukan sekali saja dialami si ibu. Masih tetangganya, kali ini yang baru mengontrak di sebelah rumahnya. Sependek ingatan si ibu, mereka baru bertukar nama dan berbicara basa basi biasa. Tiba-tiba besoknya, tetangga baru sudah meninggalkan pesan di akun Instagram si ibu lagi, mengatakan dia akhirnya menemukan si ibu di Instagram setelah mencari nama dan memeriksa konten foto yang tampil di sana. Si ibu tidak kaget. Hanya ada sedikit perasaan tidak nyaman seolah sudah dilacak, diperiksa, dinilai, dan ditelanjangi, sebelum mengenal lebih jauh di dunia nyata. Namun, si ibu sadar bahwa semua yang tampil di dunia maya merupakan sepak terjang si ibu juga. Jika tak ada yang sengaja dipalsukan mestinya tak ada alasan untuk khawatir. Pada titik itu, si ibu tak bisa tidak berkesadaran menyoal perkara yang ia lakukan dan tampilkan di media sosial. Si ibu sendiri yang bertanggung jawab mencipta dan meninggalkan jejak digitanya sendiri.

Tindakan stalking dan profiling terhadap pribadi sudah lazim dilakukan untuk mengenal seseorang di dunia maya. Terlebih jejak digital bertebaran di mana-mana dan sangat sulit dihilangkan. Meskipun tak ekuivalen mewakili profil nyatanya, tapi semua jejak digital yang ditorehkan di dunia maya menggambarkan siapa pribadi seseorang di dunia maya, bukan dunia nyata. Sehingga, sebetulnya tidak adil membandingkan atau bahkan menyimpulkan secara umum semua yang ada di dunia maya sebagai dunia nyata. Tapi, kecenderungan orang menyalahartikan dunia maya identik dengan dunia nyata. Sebab tak bisa mengendalikan persepsi orang tentang jejak digital dan profil diri di dunia maya, maka paling bijak adalah berhati-hati dengan jejak digital dalam semua aktivitas daring yang dilakukan.

Yah, mau bagaimana lagi. Era digital, semua hal bisa dicari dengan mesin pencari. Bermodal mengetikkan kata kunci yang tepat, mesin berkecerdasan intelijen akan bekerja menghadirkan seluruh rekaman jejak digital terkait. Jika yang dicari adalah sebuah nama, semua jejak digital akan berbicara tentang apa saja yang seseorang telah belanjakan, makan, baca, tonton, bicarakan, lakukan, khayalkan, dan seterusnya, dan seterusnya, sampai terbentuk sebuah profil lengkap. Kamu adalah apa yang kamu cari dan jejak yang kamu tinggalkan di mesin pencari, itulah yang nyata di dunia maya.

Tak puas dengan satu dua informasi, tangan akan terus menjentik tautan demi tautan yang disodorkan mesin pencari. Mesin pencari itu pintar benar memanfaatkan psikologis manusia yang berhasrat ingin tahu dan takut ketinggalan hal-hal baru. Tak cukup satu tautan, namun satu tautan terkait dengan tautan lain yang juga terhubung dengan tautan-tautan lainnya bagaikan jaring-jaring raksasa yang tak henti-hentinya terajut secara otomatis. Maksud hati ingin mencari satu hal, kenyataannya dihadapkan dengan banyak hal, lalu terjadilah infinite scrolling, pencarian tak terbatas, dari satu tautan ke tautan lain, dari satu hal ke hal lain yang berhubungan dekat atau yang melenceng jauh.

Mencari dan mencari tanpa akhir melalui gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Awalnya bermaksud mencari sesuatu yang spesifik, tahunya malah tersasar ke mana-mana terutama jika aktivitas ini dilakukan tanpa fokus dan keinsafan akan tujuan dan kebutuhan utama. Tahu-tahu, waktu sudah habis separuh hari, makanan belum dimasak, anak rewel minta perhatian, rumah belum disapu, malas keluar rumah, lupa olah raga, dan lain sebagainya. Searching dan infinite scrolling secara aktif di dunia maya, namun dunia nyata kenyataannya terbengkalai. Sebabnya jelas, waktu-waktu yang dihabiskan menjelajah di belantara maya, berbanding terbalik dengan yang digunakan di dunia nyata karena kalau keduanya dijumlah, bukankah waktu itu berjumlah tetap sebanyak 24 jam sehari – tak kurang ataupun lebih?

Kembali ke Mbak Hape yang terlihat lebih banyak hidup dengan dunia dalam hapenya, pastilah banyak hal di dunia nyata yang terlewat olehnya. Lagi-lagi anak-anak heran dengan Mbak Hape karena dia masih anak remaja tapi terus pegang hape seperti tak ada kegiatan lain. Barangkali dunia nyata di sekitarnya sudah membosankan baginya sehingga yang nyata justru adalah dunia maya. Dunia menjadi semakin rumit dan menyempit dalam jentikan jemari memang, lama-lama dunia maya dan dunia nyata tak lagi terbedakan. Maya menjadi yang nyata, nyata menjadi yang maya. Pusinglah kalau dipikirkan! Barangkali analogi, lagi-lagi seorang remaja, yang muring-muring tidak jadi jalan-jalan ke ke tempat nongkrong atau lokasi wisata tertentu supaya bisa berswafoto memenuhi konten dunia maya, akan membantu membayangkan betapa kehidupan di era digital memang kehidupan yang meleburkan dunia nyata dan dunia maya.

Orang tua juga banyak yang seperti Mbak Hape dan yang seperti remaja yang merasa dunianya hancur ketika gagal mengisi konten sosial media. Tapi, anak-anak memakluminya, sebab orang tua sering beralasan bukan sedang bermain dengan hapenya, tapi menggunakan alasan yang lebih berbobot seperti bekerja, belajar, atau berbagi. Padahal, bermain atau tidak, sama saja berlama-lama memegang hape seolah tiada jeda. Jika tidak mengenal batas dan tidak pandai mengendalikan diri, sama saja seperti anak remaja yang kediriannya telah didikte oleh gawai dan beragam fitur-fiturnya sehingga kelimpungan. Alih-alih menjadi tuan atas perangkat dan koneksi, malah dikendalikan oleh hape.

Apalagi fungsi hape kini semakin meluas tak lagi sekadar untuk berkomunikasi dan bertukar kabar. Perangkat ini telah menguasai setiap lini kehidupan manusia. Semua aktivitas tersambung secara otomasi dengan program dan aplikasi hape. Dari urusan pekerjaan sampai hiburan terfasilitasi oleh hape. Berbelanja, bekerja, belajar, mengedit foto, menulis, membuat ceklis, berolah raga, memotret, mendengarkan musik, melukis, menonton, membuat poster, berkonsultasi, bergosip, rekreasi, bergaul, mencari tahu apa saja di mesin pencari nomor satu masa kini bernama google, scroll sana scroll sini mengikuti keinginan dan kebutuhan. Semua bisa dilakukan dengan hape asalkan terkoneksi dengan internet. Ironinya, tanpa hape yang terkoneksi dengan internet, semua aktivitas hape akan terputus dengan yang tadinya terkoneksi. Itulah koneksi maya alias koneksi semu.

Tiba-tiba, orang-orang kebingungan ketika koneksi maya terputus. Orang-orang mengalami kegagapan dengan dunia nyata tanpa hape. Semua pekerjaan, pembelajaran, dan aktivitas harian jadi terhenti dan terbengkalai menanti kembali adanya koneksi. Wifi pun jadi idola dan rebutan di mana-mana. Orang-orang linglung berkehidupan tanpa wifi seolah-olah dunia akan kiamat tanpanya. Ketergantungan! Tapi, persetan dengan ketergantungan yang diciptakan oleh bahasa lainnya, yaitu kebutuhan. Internet dan fitur-fiturnya sudah bagian dari sejarah hidup manusia, kini dan kedepannya, masa mau mundur? Tak terbayangkan bagaimana kehidupan tanpa koneksi internet! Akhirnya, tiada pilihan selain beradaptasi. Mengurus kehidupan di dunia maya kini sama pentingnya dengan kehidupan di dunia nyata. Asal pintar-pintar sajalah mengatur keduanya dengan penuh kewarasan dan keinsafan.


Lyly Freshty, Ibu menulis di Jemaah Selasa, tinggal di Surabay

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s