Kamus (Pernah) Penting

Bandung Mawardi

PADA suatu sore, Mawar mengobrol bersama ibu-ibu. Mereka tak sedang menggosip atau membuang kata-kata picisan. Sore itu berpikir. Selingan adalah tawa. Menit demi menit, obrolan bertema kamus. Pada masa lalu, kamus itu buku-buku tebal. Orang-orang susah membeli atau mengoleksi tergoda cukup edisi bajakan saja. Gagal memiliki kamus-kamus besar dan tebal, orang-orang membeli kamus edisi saku atau berukuran kecil. Mawar dan ibu-ibu mengingat bahwa kamus pernah tergunakan: penting bagi murid-murid ingin mengerti mata pelajaran, terutama bahasa Inggris. 

Dulu, orangtua “mengajarkan” bahasa ibu agar bocah-bocah bisa mengerti hidup di keluarga dan kampung. Penguasaan bahasa bertambah dengan sekolah. Bocah-bocah diajari bahasa Indonesia dan Inggris. Di sekolah-sekolah Islam, bocah juga belajar bahasa Arab. Kewajaran adalah memiliki sekian kamus. Belajar bahasa memerlukan kamus-kamus. Anggapan itu berlalu setelah orang-orang mudah mencari pengertian sekian kata dalam beragam bahasa menggunakan gawai. Kamus tak wajib. Kamus tak memberati tas atau membuat tangan pegal.

Bocah-bocah belajar bahasa “ini” dan “itu” untuk mendapat nilai dalam mata pelajaran, bermaksud bisa naik kelas atau lulus. Sekian bocah berpikiran jauh. Belajar bahasa Inggris bisa untuk bersenandung atau menonton film. Bahasa itu memudahkan mengerti segala hal di Indonesia gara-gara acara, merek, atau pengumuman mulai sering berbahasa Inggris. Bocah tak cukup dengan bahasa Inggris menambahi pelajaran bahasa Prancis, Jerman, Arab, Belanda, dan lain-lain.

Abad XXI menjadi abad bepergian. Orang-orang sudah belajar atau agak mengerti bahasa-bahasa asing berpikiran bisa bepergian alias piknik tanpa kebingungan. Bahasa menjadi bekal piknik. Di kota-kota atau tempat wisata dikunjungi, kemampuan berbahasa memberi kelegaan dalam kenikmatan liburan. Bahasa Inggris tentu menangan dibandingkan bahasa-bahasa lain. Orang ingin kerasan di Prancis mungkin memilih menekuni bahasa Prancis. Rangsangan belajar bahasa bisa dikuatkan dengan membaca novel-novel dan film-film berbahasa Prancis. Keinginan tak lagi mewajibkan kepemilikan kamus-kamus. 

Situasi itu berbeda dari abad-abad lalu. orang-orang Eropa berdatangan ke Nusantara terpikat bahasa-bahasa. Mereka mempelajari sekian bahasa. Orang-orang pribumi dijadikan guru. Hidup berbaur dengan orang-orang desa kadang memudahkan mereka mengalami gairah berbahasa lokal. Pilihan lain menikahi perempuan lokal, membentuk rumah tangga (belajar) bahasa bermisi asmara, keilmuan, agama, atau politik. Timbal balik dari keterpukauan bahasa adalah penulisan kamus-kamus. 

Nusantara menjadi “tempat ramai bahasa”. Masa demi masa, jumlah pembuatan dan penerbitan kamus terus bertambah. Keluarga-keluarga di Nusantara bersekolah dan mengetahui “kemadjoean” terbantu oleh kamus-kamus buatan kaum asing. Khasiat kamus menjadikan kaum muda bila melanjutkan sekolah ke Belanda atau Eropa. Penguasaan bahasa-bahasa asing turut memajukan keluarga, terpikirkan pula memuliakan Indonesia. Pada awal abad XX, rumah-rumah di Indonesia memiliki kamus, selain ditaruh di sekolah-sekolah atau kantor-kantor. 

Di pertengahan abad XX, orang-orang Indonesia mulai membuat kamus beragam bahasa dan ukuran. Kemauan mengadakan kamus-kamus tebal itu berkeringat, membutuhkan modal besar, dan terestui kebijakan politik-pengajaran. Penambahan jumlah melek aksara memungkinkan industri perbukuan berkembang ditambahi penerbitan majalah-majalah. Keluarga-keluarga membaca menghadapi perkembangan bahasa, mengerti kedatangan kata atau istilah baru dari pelbagai bahasa asing. Kamus pun (agak) diperlukan.

Keluarga sadar bahasa tak selalu tergoda bahasa asing. Mereka tetap ingin mendalami bahasa Indonesia dan Jawa. Pada masa 1950-an, terbitlah kamus saku berjudul Bausastra Indonesia-Djawa susunan Unggar diterbitkan Toko Buku Lauw, Solo. Kamus berharga murah bisa terbeli tanpa berpikir seribu kali. Kamus itu turut menandai ada kemauan meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia dan Jawa meski godaan bahasa-bahasa asing makin menguat. Dulu, kamus itu mungkin berpengaruh bagi lakon keluarga atau murid-murid saat mengikuti pelajaran-pelajaran di sekolah. Begitu.          


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s