London, Aku Padamu!

Setyaningsih

IMAJINASI(KU) pada Kota London dirawat oleh film animasi Detective Conan: Phantom of Baker Street (Kenji Kodama, 2002) dari serial manga Detective Conan. Melalui permainan digital Noah’s Ark, Conan dan teman-teman memasuki London abad ke-19. Mereka mengejar Jack the Ripper yang terkait dengan kasus pembunuhan anak genius bernama Hiroki di dunia nyata. London abad ke-19 bukanlah kota yang hangat. Kota itu muram dan berjelaga oleh kasus pembunuhan berantai dan revolusi industri. Namun, menara Big Ben sebagai ikon kota niscaya adanya. Menara itu berdiri di sana: tinggi, megah, dan misterius.   

Majalah Bobo, 23 Mei 1996, memuat liputan “Melenggang ke Masa Silam (2): Kapal Lewat, Jembatan Diangkat”. Liputan informatif agak menyejarah berfokus pada dua penanda Kota London: jembatan angkat Tower Bridge dan menara Big Ben. Liputan disertai foto tidak hanya ingin mengabarkan kepada anak-anak Indonesia ikon kota yang terkenal, tapi juga kedigdayaan teknologi pembangunan. Bobo menulis: “Kepala kejedut, duk, ah paling-paling benjol! Naaa kalau kapal kejedut, waaah repot jadinya. Sungai Thames, sungai lebar yang membelah Kota London, biasa dilayari kapal besar. Padahal harus ada jembatan di atasnya. Maka dibuatlah jembatan angkat. Tower Bridge namanya.”

Tower Bridge dibangun pada 1886-1894: “Pada tahun 1886 itu sudah ditemukan teknologi sistem hidrolik. Lihat gambar. Seseorang memutar sebuah pompa. Pompa itu mampu menggerakkan alat yang bernama akumulator. Akumulator yang beratnya 1.000 ton ini, memberi tekanan pada sebuah pipa berisi air. Tekanan air inilah yang membuat jembatan bisa naik turun. Butuh waktu 60 detik untuk mengangkat jembatan. Sistem hidrolik sederhana ini diciptakan oleh Pak William George Armstrong.”

Tentang menara Big Ben yang serba besar dan rajin berbunyi sejak 1859, Bobo menulis, “Nama itu berasal dari pimpinan pembuatan menara ini Sir Benjamin Hall. Sekarang, bayangkan apa yang ada di dalamnya. Sebuah lonceng berukuran garis tengah 2,7 meter dan tinggi 2,3 meter dengan berat 13,5 ton bergantung di dalamnya. Setiap 15 menit, lonceng ini dipukul oleh palu dengan berat 180 kilogram.”

Anak-anak diajak plesir sejarah, geografi, sekaligus fisika. Penemuan dan penciptaan adalah hal yang mendasari kemodernan dan peradaban. Eropa itu jauh, halaman Bobo mendekatkan kota dan apa yang ada di dalam kota. Pukau kota di negeri-negeri asing juga pernah dilakukan oleh citra sampul buku-buku pelajaran bahasa Inggris. Pada tahun 1951 di Surakarta misalnya, terbit buku I’m Learning English garapan Z.A. Moechtar. Buku untuk sekolah lanjutan ini menampilkan bapak, ibu, dan dua anak. Bapak menenteng kopor bertuliskan Paris, London, USA, Australia, dan India. Keluarga Indonesia sedang melangkah di atas globe. Di belakang keluarga, tampil dengan semarak gambar menara Big Ben, menara Eiffel, dan gedung-gedung tinggi mencitrakan dunia Barat. Indonesia baru saja menata rumah tangga. Setiap anak, sebuah keluarga, boleh bermimpi kelak bepergian ke negeri jauh berbekal bahasa. Belajarlah bahasa (Inggris), maka kamu bisa mendatangi dunia!

Mengenal Tempat

Mengenal tempat sama berarti mengerti anggota keluarga, mengenal hewan, atau memahami waktu. Seri Hastakarya Anak-anak Tira Pustaka menerbitkan Tempat-tempat Terkenal (1984). Buku tidak membabar tempat hanya berdasar kata kunci penting: bersejarah. Tempat-tempat menawarkan pelanglangan campur; seram, unik, religius, rekreatif, misterius, penting, megah, teknologis, dan bersejarah. Ada makam, gedung parlemen, museum, katedral, pasar, gunung, pantai, patung di istana, sungai, penjara, piramida, candi. 

Tempat seram, berhantu, dan misterius pasti memantik penasaran. Mari cerap “Kota Hantu” bernama Bodie di Kalifornia. Nama kota ini diambil dari keluarga penambang emas, Body, yang menemukan tambang pada 1859. Emas membuat kota berkilau sekaligus sunyi melampaui makam keramat. Begini, “Namun, ketika emas habis, penduduk kota Bodie berkemas-kemas dan ikut pergi. Rumah, lumbung, toko dan rumah minum ditinggalkan. Hotel, rumah penginapan dan gereja pun kosong. Sekolah, penjara, rumah pemadam kebakaran, kantor pos dan rumah mayat dibiarkan terbengkalai.”

Tempat-tempat terkenal yang misterius dan seram berhak meninggalkan kesan. Menara Eiffel di Paris, patung Liberty di New York, atau Piramida di Giza bolehlah dianggap sudah terlalu terkenal. Namun, tempat-tempat tidak hanya ditandai capaian atau kepemilikan fisik. Tuskegee, Alabama, karib sebagai penghasil kacang. Para petani yang awalnya menanam kapas, beralih karena serangan hama. George Washington Carver, ilmuwan potensial yang membujuk petani menanam kacang sekaligus melakukan penelitian ragam produk turunan, di antaranya kopi, minyak sayur, cuka, dan tinta.  

Sebuah kota sering mewakilkan perjalanan riwayat dirinya melalui museum. Eh, seorang bocah perempuan bernama Tracy Baker di novel The Dare Game (2005) garapan Jacqueline Wilson, mengaggap pergi ke museum itu kuno. Tracy mengomel: “kunjungan ke museum (oke, aku suka melihat mumi dan mayat kecil bungkuk itu namun berbagai lukisan dan pecah-belah itu rongsokan semua).” Tracy bukan anak yang mudah bepergian karena dibesarkan di panti asuhan. Dia baru saja mendapat orangtua asuh, Cam, yang menyukai makanan vegetarian dan tokoh Jo di Little Woman-Louisa May Alcott. Cara hidup Cam terasa cukup Inggris. Sedang bagi Tracy, menjadi anak trendi di awal dekade pertama abad ke-21 berarti bersantap di McDonald’s dan berjalan-jalan ke Disneyland. Terasa ngamerika dan keren kan!

Anak-anak (Indonesia) melihat dunia bukan sebagai pernyataan identitas yang menekan tapi menjadi bagian dari warga negara (meng)global. Sepertinya anak-anak lebih tahu tempat-tempat di negeri asing daripada tempat-tempat di negeri sendiri. Film, komik, iklan liburan, buku bacaan, acara televisi, apalagi siaran Youtube meleburkan batas geografis. Anak-anak bagian warga negara dunia dan boleh merawat mimpi untuk kelak bisa berlibur, bersekolah, dan bahkan tinggal di sana.

London, London, London aku padamu! 


Setyaningsih, Kritikus sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s