Ah, Rambutku!

Taci

RAMBUT, sumber kejengkelan! Rambut maunya harus dirawat dengan “kasih sayang”. Umpamakan itu menghubungkan seorang “ibu kucing” dan “anak kuda”. Apa tidak salah? Kita menjadi “ibu kucingnya”, sedangkan rambut adalah “si anak kuda” yang susah diatur. Petakilan! Rambut yang akhirnya mudah berkeringat dan berdaki. Kotor dan bau! Tidak semua rambut seperti itu. 

Tapi, rambutkulah yang seperti itu. Aku harus berkeramas setiap hari karena rambutku cepat berkeringat. Kulit kepala, maksudku. Kalau rambutnya yang berkeringat mungkin sudah masuk berita menggelikan. 

Aku suka iri pada teman temanku yang memiliki rambut yang tidak mudah bau. Mereka cukup berkeramas 2-3 hari sekali. Paling iri itu sama mereka yang hanya butuh 3 menit saja untuk menyisir rambut. Aku minimal membutuhkan 10 menit untuk melakukannya. Sebab, rambutu kusut sekali.

Warna juga penting dalam urusan perambutan ini. Misal, kita ketahui dalam lagu “Bentuk Cinta” dari Eclat Story. Lirik dalam lagu: “Rambut warna warni, bagai gulali, imut lucu walau tak terlalu tinggi.” Kesannya warna rambut  sangat penting dalam kehidupan.

Nah, sekarang masalah rambut di kepalaku. Lihatlah, rambutku yang “singa” dari nenek. Rambutku yang setengah kribo dari kakek.  Jadi, rambutku seperti singa berbulu domba. Sisir banyak yang kugunakan. Ada yang berbentuk mikrofon. Ada catok yang tanpa listrik, cukup menggencetnya sekuat tenaga “Hulk”. Oh, ada juga yang berwarna hijau, sisir souvenir pernikahan. Tak lupa  bekas sisir tanteku yang sudah patah tapi paling ampuh kalau rambut sedang kusut-kusutnya. 

Aneh memang, sudahlah!

Setahuku, kepalaku saat kecil botak, mulus seperti bola untuk boling. Di depannya, ada mata dan hidungnya. Aku tetap botak sampai usia 2 tahun. Orang-orang sering bertanya kepada orangtuaku, “Anaknya baru dicukur, ya?” Padahal, tidak pernah dicukur sebab belum ada rambutnya. Nah, rambutku mulai ada sedikit demi sedikit saat berusia 3 tahun. Rambutnya sudah “menyinga” dan tampak sangat uwet-uwetan. Tapi, aku tidak pernah paham dengan adanya “anak kuda” di rambutku ini. Ah, sudahlah!


Taci, remaja suka tertawa, tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s