Yang Bergembira di Kereta

Bhellinda I Santoso

Buku berjudul Berkelana dengan Kuda Besi karangan Diah Ansorie mengajak kita bertualangan. Ya, kuda besi yang dimaksud adalah kereta api, yang kita jumpai di stasiun-stasiun. Benda berbentuk seperti kotak-kotak berjajar dengan iringan suara nguk-nguk dan mengeluarkan asap di cerobongnya. Kereta api memang memberikan daya tarik tersendiri karena bentuk dan fungsinya yang berbeda, terutama ciri khas suara peron dan suara kereta berjalan di atas rel langsung menyita perhatian kita. 

Sejarah “kuda besi” dimulai oleh seorang anak kecil bernama James Watt. Sejak kecil, James tertarik, dengan uap air. Ini terjadi saat ibunya memasak air di sebuah ketel. Maka, James tidak ada beranjak jauh dari ketel: mengamati setiap gerakan yang terjadi pada ketel itu. James berucap: “Aku yakin, bahwa uap air yang mengepul dari lubang cerek itu mempunyai tenaga, kalau tidak tak mungkin tutup cerek itu bergerak-gerak seperti didorong sesuatu.” Setelah melakukan banyak sekali pengamatan, akhirnya James pun yakin tenaga uap air sebenarnya  dapat berbuat sesuatu. Itu pasti menguntungkan, pikirnya.

Keingintahuan James terus berlanjut. Gayung bersambut, Nicholas Cugnot, seorang Perancis, pada 1769 membuat lokomotif. Keisengannya memodifikasi gerobak yang terbuat dari besi beserta ketiga buah rodanya. Penemuan itu sukses membuat takjub banyak orang. 

Setiap Nicholas melaju dengan besi bajanya, dari jauh orang-orang mendengar dan paham. Suara khas gesekan besi menandai kedatangan Nicholas. Tapi, di masanya, besi baja Nicholas terguling. Sejak itu besi baja dilarang beroperasi kembali. Dari sebuah kesalahan Nicholas, para pembuat mesin mulai berinovasi. George Dephenson 1825 membuat locomotip dengan kecepatan 20 mil/jam disambung dengan John Steven dan Pullmann.

Sejarah perkeretapian terus melaju. Kita menikmati penemuan dan modifiksai sampai menghasilkan beragam kereta api. Seperti pengalaman saya, 15 tahun lalu, ikut naik kereta api jurusan Semarang-Tegal. Itu pengalaman yang tak terlupakan. Dalam gerbong kereta api, kita akan bebarengan dengan para pedagang, pekerja, dan anak sekolah yang kumpul menjadi satu? Para pedagang membawa keranjang besar berisi dagangan seperti sayur, terkadang ada yang membawa hasil perikanan. Bisa dibayangkan betapa nikmatnya bau-bauan yang tercampur dalam satu gerbong kereta. Menariknya, para penumpang yang tidak mendapat kursi akan menggelar kertas koran sebagai alas  duduk. Suatu pemandangan yang sangat aduhai dengan persiapan berlari kencang dan desak-desakan saat pintu kereta dibuka. Tetapi, model kereta seperti ini sudah jarang kita jumpai. Para pemilik modal mulai menilai kenyamanan penumpang sehingga muncullah kereta eksekutif, bisnis, dan kereta barang sendiri. 

Penumpang di kereta api bisnis-eksekutif dimanjakan dengan kursi yang bisa diubah menyesuaikan posisi tidur, dilengkapi selimut yang hangat. Entah, kenapa AC di kereta api malam sangat dingin.

Perkembangan perkeretaapian menjadikannya salah satu alat transportasi yang diminati, yang semula dari antarkota menjadi alat transportasi dalam kota, seperti di Tokyo, New York, Jakarta, dan lain-lain. 

Tiga tahun lalu, saya mengajak anak naik kereta api jurusan Semarang-Jakarta dengan pemberangkatan siang. Harapannya, di sepanjang perjalanan akan banyak yang bisa dilihat. Benar seperti yang saya pikirkan. Betapa gembiranya anak naik kereta api, suaranya saat  melaju, dan kebebasannya bergerak selama di dalam gerbong. Ia bisa berjalan-jalan, menari, dan memandangi sawah, pantai, rumah-rumah. Itu membuatnya tidak mau tidur selama di dalam kereta. Perjalanan dengan sebuah pengalaman yang tak terlupakan. 

Betapa gembiranya anak naik kereta api, suaranya saat melaju dan kebebasannya bergerak selama di dalam gerbong. Ia bisa berjalan-jalan, menari, dan memandangi sawah, pantai, rumah-rumah. Itu membuatnya tidak mau tidur selama dalam kereta. Perjalanan dengan sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

Pengalaman lain juga dituliskan Diah Ansorie dalam Berkelana dengan Kuda Besi: “Para penumpang dalam perjalanannya yang meletihkan ini, dapat berbuat seenaknya, bisa tidur dengan nyaman sementara kereta api terus meluncur.” 


Bhellinda I Santoso, pengoceh dan penulis, tinggal di Kudus

One thought on “Yang Bergembira di Kereta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s