Wedang(an)

Uun Nurcahyanti

SUARA dan ucapan khas penjual wedangan menggenapi suasana petang masa kecilku. “Heiiik… heiiik… heiiik.” Suara lantang tersebut layaknya alarm bagi para penggemar wedang jahe panas. Pak Triman dengan pikulan dagangannya lantas berhenti di pertigaan dekat rumah. Pembeli berdatangan untuk menikmati malam, menghangatkan badan berteman wedang jahe segar panas. Ada yang membawa teko blirik bila ingin membeli wedang jahe untuk dibantu pulang. Bagi mereka yang menikmati wedang jahe di lapak pikulan Pak Triman, tersedia tikar pandan.

Selain wedang jahe, bakul hik juga menyediakan berbagai panganan khas petang hari. Tahu bacem, tempe bacem, tempe mendoan, nagasari, mendut, kacang bawang, marning, jadah, tape singkong, tape ketan, dan wajik. Disamping jajanan, menu khas hik adalah “sego kucing”. Disebut nasi kucing karena nasinya sangat sedikit seperti porsi nasi untuk makanan kucing. Lauknya secuil bandeng dengan sambal lombok goreng pedas. Makan atau madang nasi kucing menjadi ritual pelengkap wedangan.

Disebut nasi kucing karena nasinya sangat sedikit seperti porsi nasi untuk makanan kucing. Lauknya secuil bandeng dengan sambal lombok goreng pedas. Makan atau madang nasi kucing menjadi ritual pelengkap wedangan.

Malam bulan purnama adalah waktu istimewa bagi warga kampung. Tua-muda dan anak-anak keluar rumah. Mereka yang sepuh jagongan, yang muda bermain. Canda tawa menggenapi peristiwa malam seperti ini, juga kedatangan beberapa bakul wedang. Selain Pak Triman, bakul hik, ada juga penjual wedang ronde dan wedang kacang putih. Penjual makanan turut menemani perayaan malam purnama. Bakul kacang rebus, kedelai rebus, jagung rebus, dan putu, wira-wiri  bersama serakan aroma harum wedang jahe.

Wedang, secara bahasa, merupakan bentuk ringkas frasa “ngawe kadang”. “Ngawe” berarti permintaan atau ajakan untuk mendekat. “Kadang” artinya saudara atau karib kerabat. “Ngawe kadang” merupakan suatu simbol perangkulan bagi  tetangga, teman, kerabat, atau bahkan siapapun yang mau “mendekat”, demi menjalin persaudaraan, paseduluran. Minuman membentuk narasi kekerabatan.

Minuman panas hangat, yang dalam Jawa disebut wedang ini, disajikan di rumah ataupun dijual di lapak pikulan, seperti hik, atau lapak dasaran yang disebut “wedangan”. Saat ini lebih populer dengan istilah angkringan. Di rumah orang tuaku dulu, sajian wedang yang rutin tersedia di pagi dan sore hari adalah teh manis panas. Cita rasa pahit kental sering dilengkapi dengan bunga melati kering. Harum aroma teh masa sekolah tersebut masih lengket bersemayam dalam ingatanku. Hmmm!

Zaman bergerak dan membawa wedang berbahan baku jahe menjadi marak ditemui di lapak minuman pinggir jalan. Penjual wedang jahe tidak lagi berkeliling kampung. Pertengahan dekade 1980-an, lapak wedangan mulai ditemani minuman ala kota yaitu susu sapi segar. Lapak susu pertama yang kukenal adalah milik tetangga. Lapak susu ini berada di Jalan Dr Radjiman, Solo. Kampanye menu nasional rezim Orde Baru turut mendorong keluarga kami menikmati susu segar hangat sebagai minuman rutin. Tentu orangtua kami mengharapkan zat gizi pada susu menyumbang tumbuh kembang kami. 

Kampanye menu nasional rezim Orde Baru turut mendorong keluarga kami menikmati susu hangat segar sebagai minuman rutin. Tentu orangtua kami mengharapkan zat gizi pada susu menyumbang tumbuh kembang kami.

Rutinitas minum susu adalah seminggu sekali. Selepas isya, bapak akan menyuruh salah satu diantara kami untuk membeli susu dengan membawa rantang aluminium. Setiba di rumah, susu dibagi dalam empat gelas untuk masing-masing anak. Kegiatan minum susu tak sesantai menikmati teh atau jahe. Bapak senantiasa mengawasi dan memastikan kami menghabiskan porsi susu masing-masing. Bagiku yang penyuka susu tentu tak jadi masalah. Namun bagi dua adikku yang enggan minum susu, rutinitas minum susu sangatlah menyiksa. Tentu saja, sebab susu bukan wedang.

Bapakku adalah ahli siasat. Untuk membujuk dua adikku yang tidak suka minum susu, bapak sesekali mengajak kami sekeluarga “ngiras” alias makan di luar rumah. Kegiatan “ngiras” di lapak susu tak mungkin ditampik. Selain susu, kedai susu ini menyediakan jajanan yang berbeda dengan angkringan. Susu beragam menu sajian membuat kami lebih leluasa memilih sesuai selera. Susu coklat dan susu sirup atau soda gembira adalah varian andalan untuk kami pilih. Selain susu, telur setengah matang, roti bakar dan tahu goreng bulat adalah pilihan yang bisa dinikmati di lapak susu.

Tak ada menu nasi kucing ataupun nasi bungkus karena minum susu sudah terasa mengenyangkan. Berbeda dengan wedangan. Jahe dengan manis gula merah juga harum serai menghangatkan namun tidak mengenyangkan. Aroma sajian susu adalah pekat dan amis. Sementara, aroma eksotis menguar dari wedang jahe di warung angkringan. Hangat yang membuat nyaman. Mengingatkan kata spice yang diajukan beberapa literatur untuk menggambarkan aroma rempah, yang konon senantiasa berkonotasi erotis.


Uun Nurcahyanti, pengajar dan penulis, tinggal di Pare, Kediri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s