Yang Memutuskan Memasak …

Grace

DAFTAR belanja sudah selesai kubuat. Besok pagi, aku akan ke pasar tradisional untuk berbelanja bahan-bahan masakan selama dua minggu ke depan. Kulihat lagi satu persatu, siapa tahu ada yang terlupa.

Lauk: Ayam kampung, ayam tanpa tulang, daging has sapi, bakso, nila, gurami, dori, bawal, bandeng cabut duri, tempe, tahu

Sayur : brokoli, bayam, kacang panjang, kol,tomat, wortel, timun

Buah : Apel, jeruk, salak, melon

Bumbu: Bawang merah putih, bombay, lombok keriting-rawit-setan, jahe-kencur-kunyit-laos-kunci

Apalagi ya? Oh ya, asam. Asamku sudah hampir habis. Aku suka membuat kunir asam dan sayur asam untuk suami. Catat juga: gula jawa. Pete. Sesekali masak pete, bisa untuk menu nasi goreng maupun dibuat balado sambal. Jinten. Anakku suka makan soto yang ada bumbu jintennya. Kalau makan soto itu,  dia bisa sampai minta tambah. Ah, hampir lupa menuliskan kerupuk! Itu setiap makan harus ada. Ada rasa yang tidak lengkap tanpa kerupuk.

Sekarang aku memasukkan kotak sterofoam ke dalam mobil. Kotak itu untuk menaruh setiap belanjaan yang basah agar airnya tidak mengotori mobil. Pernah suatu kali aku lupa membawanya dan kemudian cairan dari udang menetes ke karpet mobil. Sampai beberapa hari kemudian aroma busuk masih tertinggal walaupun karpet sudah kucuci.

Kemudian, aku menyusun kotak-kotak tupperware ke dalam satu tas besar. Dalam rangka menyelamatkan bumi, aku berusaha meminimalkan penggunaan tas kresek. Akhirnya, kuputuskan sedikit repot dan berat untuk membawa kotak-kotak untuk diisi bahan belanjaanku nanti. Penjual langgananku sudah tahu kebiasaanku. Mereka bercerita, sekarang jarang yang bawa tempat sendiri. Masih banyak orang yang menggunakan plastik. Sayang sekali, bukan? Jika separuh saja pengunjung pasar membawa kotaknya sendiri, pasti kita bisa mengurangi penggunaan plastik secara signifikan.

Masih banyak orang yang menggunakan plastik. Sayang sekali, bukan? Jika separuh saja pengunjung pasar membawa kotaknya sendiri, pasti kita bisa mengurangi penggunaan plastik secara signifikan.

Begitulah ritual persiapanku untuk berbelanja di pasar. Kalau dulu ketika kecil aku paling malas diajak ke pasar, sekarang aku sangat menyukainya. Melihat banyak bahan makanan segar yang dijual. Karena aku berbelanja dua minggu sekali, bisa dibayangkan seberapa banyak bahan yang kubeli. Aku dibantu oleh seorang mbok gendong untuk membawa belanjaanku.

Setiap kali pulang berbelanja, lemari es selalu penuh isinya. Bagian yang paling cepat kosong biasanya yang bagian bawah, tempat penyimpanan buah. Anak-anak suka makan buah. Aku memang sengaja tidak memberikan snack kemasan untuk mereka, jadi kalau mereka lapar biasanya lalu mencari buah di lemari es. Selain beli di pasar, penjual buah dan sayur langgananku juga bisa mengantar ke rumah. Tinggal pesan saja, besoknya mereka akan mengantar ke rumah.

Kesenangan ke pasar sepertinya kontras dengan keinginanku untuk memasak. Niatan untuk memasak biasanya timbul tenggelam. Kalau sedang niat, bisa seharian aku memasak beberapa menu. Nasi kuning, misalnya. Menyiapkan kunyit, daun salam, daun jeruk, lengkuas dan lainnya untuk memasak nasinya, lalu menyiapkan kering tempe, sambal goreng, telur dadar, ayam goreng, tak lupa menggoreng kerupuk dan mengiris timun serta menyajikan es jeruk sebagai minumannya. Tapi kalau sedang tidak niat memasak, paling mudah ya menggoreng telur ceplok atau sesekali mie instan. Paling sering terjadi adalah tidak niat memasak. Aku membuka lemari es, melihat stok bahan apa saja, lalu kemudian menutup pintu lemari es kembali tanpa ide yang muncul. Itu biasanya terjadi setelah berhari-hari sebelumnya aku memasak setiap hari. 

Paling sering terjadi adalah tidak niat memasak. Aku membuka lemari es, melihat stok bahan apa saja, lalu kemudian menutup pintu lemari es kembali tanpa ide yang muncul. Itu biasanya terjadi setelah berhari-hari sebelumnya aku memasak setiap hari.

Kalau dulu ketika aku belum menikah, mama selalu mengomentari kebiasaanku yang seperti anak kos. Bangun tidur lalu mandi, memakan sarapan yang sudah tersaji di meja makan, lalu berangkat kerja. Pulang kerja ketika matahari sudah mulai terbenam, bisa makan di luar, atau makan di rumah, mandi, lalu tidur. Jadi di hari-hari libur aku hanya ingin bermalas-malasan. Tidak tertarik dengan urusan dapur. Mama selalu mengomel, katanya: “Bocah wedok itu harus mengerti urusan dapur. Besok-besok kalau kamu sudah menikah, bisa ngirit kalau masak sendiri. Lebih tahu juga kualitas dan kebersihan bahannya.”

Sekarang ketika sudah menikah dan mempunyai anak, aku harus bisa mengatur pengeluaran. Oleh karena itu, kuputuskan untuk memasak sendiri. Tapi ternyata konsep perempuan harus bisa memasak tidak selalu disetujui oleh semua orang tua. Buktinya, tetangga depan rumahku, seorang ibu yang sudah cukup berumur, cucunya 18 orang. Siang itu aku lupa pesan pada bapak sayur langganan untuk membawakan daun kemangi. Aku mau mau masak sup ikan. Aku ingat kalau tetangga depan rumahku itu di halaman belakangnya lumayan lengkap isi tanamannya. Lidah buaya, kecombrang, kunyit, jahe, kemangi, kelor. Aku iseng mampir ke rumah seberang lalu bertanya, apakah beliau masih mempunyai kemangi. Namun ternyata tidak ada, yang ada aku malah diberi daun korokeling. Baiklah, masih bisa dipakai. Yang mengejutkan, beliau memberi sambil berkomentar, “Owalah, Mbak, hari begini kok masih sempet-sempete masak. Nek aku mending pesen pake Gofood apa Grab wae. Praktis!”

Beberapa kali mengikuti acara demo memasak. Setiap selesai, selalu ditawari alat-alat untuk memasak yang didemokan. Akhirnya, sekali waktu aku membeli panci presto dengan alasan, aku belum punya. Setelah membeli, aku akan memasak sop buntut seperti yang didemokan. Tapi, sop buntut hingga sekarang tidak pernah tersaji. Malahan,  panci presto hanya diam menganggur di tumpukan panci dan wajan yang lain. Ada juga yang lain yang mendemokan alat memasak, yang katanya sehat, berbahan titanium 316: aman tidak menimbulkan reaksi dengan makanan. Sehingga, tidak meracuni tubuh kita dengan timbal yang ada di wajan teflon anti lengket. Memasak dengan metode semi vakum tidak membutuhkan banyak air maupun api dengan suhu sangat tinggi sehingga bisa menjaga nutrisi makanan. Wah, dalam hati aku sudah tergiur. Ketika disebut angkanya, hanya untuk satu jenis wajan saja, aku langsung teringat panci prestoku yang menganggur. 

Begitulah  semangat dan niat memasakku sudah melewati puluhan kali siklus naik turun. Semangat memasak – jenuh – semangat lagi – jenuh lagi – semangat lagi – jenuh lagi. Tetapi, soal memasak yang pasti akan berlangsung seumur hidup ini membuatku banyak merenung. Apalagi selama mengikuti anjuran pemerintah ini aku juga mengalami PPKM, yang aku artikan pelan-pelan kita melebar. Jarum timbangan sepertinya konsisten bergerak ke arah kanan. Belum lagi laporan dari sana sini mengeluhkan hasil angka dari laboratorium hasil pemeriksaan kolesterol dan gula serta tensi menunjukkan tanda bintang. Mumpung belum terlambat, aku harus segera merencanakan pola makan yang sehat untuk keluargaku.

Jadi mulai survei ke sana ke mari. Mencoba mengikuti anjuran diet sana sini. Mulai diet mayo, memasak tanpa garam. Baru sekali mencoba, aku sudah memutuskan tidak akan melanjutkan. Lalu, mencoba diet dengan jendela waktu, yang pernah dipopulerkan oleh mentalis yang berubah menjadi youtuber,  Deddy Corbuzier yaitu OCD atau istilah aslinya intermitten fasting. Diet yang mirip puasa menurutku. Tapi yang terjadi adalah sakit maagku malah kumat. Lalu, mencoba anjuran teman, diet keto. Sepertinya menyenangkan: kurangi karbohidrat, perbanyak protein dan lemak. Namun ketika berkonsultasi dengan seorang teman yang mempunyai bisnis katering sehat, dia melarang dengan keras dan malah mengajariku banyak hal.

Akhirnya, kuputuskan mengikuti sarannya, walaupun tidak bisa seratus persen. Aku juga mencari informasi tentang seharusnya makan yang sehat. Temanku ini mengajari bahwa yang penting bukan jenis diet apa yang kita ikuti, tapi pengaturan makan yang benar yang bisa selalu kita jalankan untuk jangka waktu yang lama. Termasuk bagaimana cara pengolahannya. Meminimalkan menggoreng. Minyak mengandung lemak yang banyak, apalagi yang digoreng menggunakan teknik deep fried atau yang menggunakan minyak sangat banyak.

Lebih disarankan pilihan menumis, mengukus, maupun membakar. Minimalkan masakan berkuah karena pasti mengandung garam yang tinggi. Perbanyak konsumsi buah dan sayur sebisa mungkin dimakan dalam bentuk aslinya tanpa diolah menjadi salad. Sebab, pasti akan ada tambahan mayones atau keju. Perbanyak konsumsi air putih untuk melancarkan proses metabolisme dan membuang racun. Makan protein nabati tanpa lemaknya, sebisa mungkin dengan bentuk asli dan tanpa diproses apalagi yang dicampur tepung dan digoreng.

Dari semua pilihan yang tersedia, menurutku yang paling masuk akal adalah seperti yang disarankan oleh temanku ini. Tidak ribet memasaknya, tidak perlu diolah menjadi macam-macam. Baiklah, mari kita coba! Walaupun sekali-sekali tetap boleh memasak dan memakan yang bagi mata kita tampaknya sangat menarik seperti pisang goreng, bakwan sayur, atau nasi gandul yang nikmat itu.


Grace, ibu suka menulis, tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s