Memilih dan Memutuskan

Yunie Sutanto

Karmila menghela napas. Dia menyukai cerita-cerita happy-end. Tapi dalam dunia nyata, tidak semuanya happy-end. Dia tahu itu. Kalau dia harus memilih…ah! 

(Marga T, Karmila, 1987)

DONGENG masa kecil rupanya cukup sukses membuai anak-anak. Dongeng klasik sebelum tidur. Entah, mengapa sering ditutup untaian kata sakti: “….dan mereka hidup bahagia selamanya.” Tamat. Hampir selalu tokohnya putri cantik dan pangeran impian. Manusia memang ingin akhir kisah yang bahagia (jika boleh memilih). 

Namun, keputusan-keputusan dalam hidup sejatinya kitalah yang memilih. Bahagia atau tidak adalah masalah pilihan. Upaya mengambil keputusan adalah upaya hidup yang paling melelahkan, demikian kata Charlotte Mason dalam Home Education yang ditulis di abad ke-19. Tak terhitung banyaknya keputusan yang harus diambil dalam satu hari saja! Hal-hal sepele pun butuh pengambilan keputusan dan aksi memilih. Masak apa hari ini? Belanja apa saja? Pakai baju apa? Berangkat jam berapa agar tidak terlambat? Hal-hal penting butuh pemikiran mendalam. Diajak kencan kolega, apakah menyanggupi atau menolak? Diajak ikut arisan tetangga. Diajak berdonasi. Pastikan batin ini prima untuk keputusan-keputusan yang lebih “berat”. 

Tak jarang keputusan yang salah berujung pada konsekuensi yang berdampak panjang. Tak mengapa jika hanya salah memilih gaya rambut, paling-paling beberapa bulan lagi rambut itu tumbuh kembali. Namun bagaimana jika salah memilih pergaulan? Pergaulan buruk merusak kebiasaan baik. Saat diri terjerumus pada pergaulan bebas, penyesalannya seumur hidup.

Karmila (telanjur) salah bersahabat dengan Ana. Ajakan Ana ke pesta itu berakibat panjang. Pesta yang mengubah nasibnya. Perbuatan Feisal pada Karmila di pesta itu berakibat dirinya hamil. Akhir kisah menjadi sedih untuk pertunangan Karmila dan Edo. Kuliah Karmila pun terhenti. Masa depan macam apa yang menantinya? Ini rupanya bukan kisah berakhir bahagia!

Marga T adalah nama pena dari Tjoa Liang Tjoe alias Intan Margaretha Harjamulia, demikian nama lengkap penulis kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1943. Lewat novelnya, Karmila, namanya menjadi tersohor. Berawal dari cerita bersambung di harian Kompas pada tahun 1971. Akhirnya, dibukukan oleh penerbit Gramedia pada tahun 1973. Karmila terus dicetak ulang. Pada September 1987 sudah dicetak ulang 11 kali,  masih terus dicetak ulang hingga kini. Karmila pun diangkat ke layar perak tahun 1974 dengan Muriani Budiman sebagai pemeran Karmila. 

Pada 1981, Karmila kembali difilmkan dengan Tanty Josepha sebagai Karmila dengan judul Dr. Karmila. Film terbilang sukses bertahan lama terbanjiri penonton di bioskop-bioskop Nusantara. Sukses meraih nominasi untuk sutradara terbaik dan aktris terbaik dalam Festival Film Indonesia 1982. Karmila pun pada tahun 1998 sukses diangkat ke layar kaca sebanyak 26 episode dengan pemeran Paramitha Rusady. Serial TV itu meraih Panasonic Award sebagai sinetron terfavorit tahun 1998. 

Kisah ini sukses ternikmati khalayak sebagai romansa yang mengaduk emosi berkat gaya bertutur Marga T. yang manis. Penikmat kisah Karmila terbawa perasaan dan telanjur sayang pada tokoh pemerkosa bernama Faisal. Penikmat kisah Karmila terambil hatinya dan turut mengharap pertobatan Faisal bisa meluluhkan hati Karmila dan mereka berakhir hidup bahagia (selamanya). Dongeng nina bobo rupanya berperan memuluskan harapan-harapan ini! 

Bandingkan dengan novel bergenre thriller psikologi berjudul Berlin Syndrome gubahan Melanie Joosten yang terbit tahun 2011. Novel ini juga difilmkan dengan judul yang sama tahun 2017. Novel berkisah hubungan cinta semalam Clare, seorang fotografer cantik asal Australia dengan Andi, seorang pria Jerman berprofesi guru. Clare dalam perjalanan di Berlin dan berjumpa Andi. Pilihan (baca: keputusan) Clare untuk bercinta semalam dengan Andi ini ternyata berujung penyanderaan. Clare menemukan dirinya disekap di apartemen Andi keesokan harinya. Kisah cinta semalam ini pun tidak berakhir bahagia. 

Kisah Karmila menabrak pandangan umum dengan termunculkannya hubungan emosional berlanjut romansa antara pelaku kejahatan dan korban. Bagaimana rasa takut dan benci korban pada pelaku kejahatan perlahan bisa terubahkan menjadi rasa simpati dan sayang? Terbentuknya jalinan emosi antara korban dan pelaku kejahatan merupakan sebuah anomali. Keanehan respons psikologis! Fenomena yang setelah tahun 1973 dijuluki Stockholm Syndrome ini memang terjumpai pada banyak kasus-kasus nyata. Karmila mengalami jugakah sindrom ini? Dari benci luar biasa kepada Feisal lantas berubah 180 derajat mencintainya dan bersedia menjadi istrinya?

Adakalanya Karmila masih terbingungkan pilihannya sendiri. Terbaca di halaman 268, Karmila tak bisa tidur dan ia menyalakan musik ciptaan John Strauss II. Sembari Blue Danube mengalun dilanjutkan Tales  From The Vienna Woods, pikiran Karmila penuh kecamuk. 

Kegalauan batinnya jelas terungkap: “Dipejamkan matanya. Betapa kecilnya aku, memikirkan diri sendiri. Apa artinya sebuah cinta dibandingkan dengan kebesaran yang telah dicapai jenius-jenius untuk memuliakan Tuhan? Mereka miskin, tuli, buta, tapi mereka tidak sempat memikirkan diri sendiri. Mereka mempergunakan waktu mereka seluruhnya untuk Tuhan. Tapi aku? Aku asyik memikirkan  betapa malangnya nasibku-Feisal tidak mencintai aku dan kemungkinan mendapat cinta Edo sudah tidak ada. Aku mengira diri paling malang, padahal mataku utuh, kakiku tidak lumpuh, tubuhku tidak cacat, hidupku serba cukup. Aku terlalu egois, pikirnya dengan mata berat. Pikirannya kemudian terasa ringan. Sebelum lagu berakhir, tangannya sudah terulur ke samping bantal dan Strauss terdiam.” Menarik disimak betapa Karmila merasa egois dan merasa tidak dicintai Feisal. Persepsi terhadap diri dan keadaannya penuh rasa tak aman. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s