Perempuan dan Kesedihan

Yulia Loekito

“Otoko, perempuan adalah makhluk yang menyedihkan, benar bukan? Seorang lelaki muda tidak akan pernah mencintai seorang perempuan berumur enam puluh tahun, tetapi gadis ingusan terkadang bisa jatuh cinta kepada laki-laki berumur lima puluh atau enam puluh tahun. Bukan melulu karena mereka hendak mendapatkan keuntungan dari hubungan itu … Betul begitu, bukan?” 

(Yasunari Kawabata, Beauty and Sadness, 2017)

IBU-IBU suka duduk berjam-jam di depan layar televisi. Menonton sinetron! Sinetron berseri-seri tak kunjung usai. Bila banyak yang gandrung, episode terus diperpanjang walau cerita jadi makin ora nggenah. Sinetron-sinetron biasanya bercerita tentang cinta, perempuan yang bersedih dan tersakiti. Walau zaman sudah merambat ke gawai dan kanal YouTube, masih banyak ibu-ibu duduk berjan-jam di depan layar televisi menonton sinetron. Perempuan sering terceritakan menyedihkan. 

Otoko Ueno tidak tampil dalam sinetron atau kanal YouTube, tapi dalam buku gubahan Yasunari Kawabata. Penulis asal Jepang, meraih Nobel Sastra pada tahun 1968. Cerita bernada klasik: percintaan, perselingkuhan, kepedihan. Cerita ditulis dengan ritme perlahan, tidak grusa-grusu disertai deskripsi dan narasi yang terbaca indah. Otoko, perempuan belia itu digambarkan sungguh naif. Cinta buta membuatnya dirundung malang dan sedih berkepanjangan. Bertahun kemudian, waktu Oki Toshio tidak lagi jadi bagian hidupnya secara fisik dan ia menjadi perempuan jelang paruh baya, seorang perempuan belia dengan semangat berkorbar dan rasa suka yang aneh kepadanya melontarkan pendapat menyengat perasaan: “Otoko, Perempuan adalah makhluk yang menyedihkan, bukan?”

Otoko menjadi pelukis, sementara Oki Toshio adalah penulis novel yang mendapatkan ketenaran justru dari peristiwa perselingkuhannya dengan Otoko yang dituangkannya dalam novel. Maka, sepanjang cerita, lukisan demi lukisan jadi metafora gambaran perasaan dan kesedihan Otoko. Lukisan juga jadi sarana penggambaran amarah dan hasrat Keiko, pembalasan dendam terhadap Oki Toshio. Sedih! Itu pun belum cukup, masih istri Oki, Fumiko. Satu perempuan lagi bersedih, sementara laki-laki digambarkan ada di ordinat berbeda dan tidak terlalu terguncang badai kesedihan. 

Banyak perempuan diceritakan menyedihkan dalam novel tentunya bukan tanpa alasan. Latar sosial-budaya adalah salah satunya. Beauty and Sadness terbit pertama kali tahun 1964. Kita menduga, Otoko, Fumiko, dan Keiko adalah perwakilan gambaran kehidupan sebagian perempuan di Jepang. Gambaran serupa juga kita temui di Nusantara dalam banyak roman klasik. Ambil saja salah satunya Lajar Terkembang garapan St. Takdir Alisjahbana (1937). Namun, dalam Lajar Terkembang, tak sekadar ratapan tentang keadaan perempuan yang masih dianggap kanca wingking,  kita menemukan greget dan perlawanan. 

Perlawanan itu juga bernada demi kepentingan hidup berbangsa. Kita baca petikan orasi tokoh Tuti: “Sesungguhnjalah hanja kalau perempuan dikembalikan darajadjatnja sebagai manusia barulah keadaan bangsa kita dapat berubah. Djadi perubahan kedudukan perempuan dalam masjarakat itu bukanlah semata-mata kepentingan perempuan. Kaum laki-laki jang insaf akan kepentingan jang mulia dari kepentingan hatinja jang loba sendiri, tentu akan harus mengakui itu.” Nanti kita juga akan temukan bentuk perlawanan dalam cerita Otoko Ueno. 

Rupaya kisah perempuan menyedihkan ini terjadi di berbagai belahan dunia pada masanya masing-masing. Kita ingat buku Kim Ji Yeong, Lahir Tahun 1982 dari Korea. Perempuan dalam posisi subordinat baik dalam latar keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat secara luas diceritakan gamblang dalam buku. Di latar keluarga, anak perempuan mencari nafkah supaya anak laki-laki bisa bersekolah tinggi dan mendapat derajat baik di masyarakat. Di perkantoran, perempuan juga masih dituntut melakukan tugas-tugas domestik, seperti membuatkan minuman untuk tamu dan pegawai lain. Menyedihkan. Posisi perempuan mendatangkan depresi pada tokoh, pergulatan dan perlawanan terjadi dalam diri. Seandainya Otoko bisa bertandang ke novel-novel lain, mungkin dia akan sumringah karena tahu ia tak sendirian. 

Kita berpindah ke Somalia, negara asal Ayaan Hirsi Ali. Kisah Ayaan Hirsi Ali bukan fiksi, tak banyak beredar di sini. Kesedihan perempuan dalam kisahnya kontroversial dan sensitif, berkaitan dengan agama. Kita baca kutipan: “In Somalia, like many countries across Africa and the Middle East, little girls are made ‘pure’ by having their genitals cut out.” (Ayaan Hirsi Ali, Infide, 2007). Sirkumsisi dilakukan pada anak-anak perempuan dengan tujuan menjauhkan mereka dari rayuan setan menurut ajaran agama. Banyak di antaranya menderita infeksi berat akibat proses tidak steril yang sangat menyakitkan, bahkan mengakibatkan kematian. Ayaan beruntung menjalani proses tersebut dan selamat, tapi banyak perempuan lain tidak. Kita membayangkan rasa sakit yang sama ketika Otoko melahirkan bayi hasil hubungannya dengan Oki dan kehilangan bayinya dalam waktu singkat dalam Beauty and Sadness. Barangkali rayuan setan semacam diperbuat Otoko yang berusaha dihindari dengan proses sirkumsisi di Somalia itu. Akan tetapi, kita melihat kedua-duanya berakhir dengan kesedihan bahkan kematian. 

Otoko menghabiskan seluruh kemampuannya mencinta untuk Oki, bahkan sampai dua puluh empat tahun kemudian. Bahkan sampai rasa sakit akibat kehilangan bayinya tak kunjung mereda. Sementara, Ayaan Hirsi Ali mewakili perempuan-perempuan di Somalia berusaha sekuat tenaga untuk diizinkan mencintai laki-laki yang dipilihnya sendiri. Kutipan: “We, too, wanted to fall in love, with men we imagined in our bed at night. Nobody wanted to get married to a stranger chosen by her father. But we knwe that the best we could do was simply stave off the inevitable.” Perempuan digeluti kesedihan waktu demi waktu oleh sebab yang berbeda-beda. 

Kisah demi kisah perempuan dan kesedihan terus terdokumentasi. Tentu tak melulu kesedihan tapi beserta usaha dan perlawanannya. Hari ini kita makin akrab dengan gerakan-gerakan perempuan berdaya dalam latar keluarga, pendidikan, atau sosial. Bahkan kadang ada yang berlebih, seperti perjuangan hak perempuan memilih mau menyusui atau tidak, karena menyusui dipandang sebagai hal yang boleh dipilih. Oh! Perempuan juga perlu menetapkan batas-batas pemenuhan haknya. Kodrat juga bukan sesutu yang hina. Perlawanan juga patut mempertimbangkan kewajaran. 

Demikian pula Keiko yang mencintai Otoko secara aneh telah dibelenggu dendam, terjerumus dalam ketidakwajaran dalam perlawanannya. Akibat kesadarannya bahwa perempuan adalah makhluk yang menyedihkan, Keiko mengikuti hasratnya mentah-mentah. Di akhir cerita, Keiko berhasil menyamakan kadar kesedihan Otoko, Oki, dan Fumiko. Ia berhasil menjerat Taichiro, anak Oki dari Fumiko dalam jaring cintanya. Jeratan itu mengakibatkan kematian Taichiro. Namun, bukan kebahagiaan didapat akibat keberhasilan, tapi kesedihan yang lain. Kalimat akhir dalam cerita terbaca: Keiko membuka mata. Bulir-bulir air mata menggenangi matanya saat dia menengadah memandang Otoko.” 

Oh, sedih ….


Yulia Loekito, ibu menulis di Kaum Senin, tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s