Bekerja, Nongkrong, Kopi

Anwar M.

ADA sebuah warung kopi kecil di gang Anyelir. Warung kopi itu dibuat di belakang dapur rumah. Ada dua meja panjang dengan kursi bambu yang bersandar di dinding dapur. Pak Dur bersandar pada warung kopi itu sejak 30 tahun lalu, jauh sebelum Pare dikenal sebagai “Kampung Inggris”. Beliau menjual kopi dan teh dengan harga 2.000 rupiah. Yang menarik, beliau hanya menjual dua jenis minuman itu saja tanpa ada menu lain seperti warung kopi pada umumnya. Tak ada kopi susu atau teh susu.

Kita bisa menikmati kopi atau teh dengan tahu goreng atau kedelai goreng. Jika pohon pisang yang tumbuh di samping rumahnya berbuah, akan ada menu musiman yang sebenarnya sederhana tapi terasa spesial. Hanya hadir di waktu tertentu: pisang goreng. Dari warung kopi kecil, Pak Dur berhasil menyekolahkan anak perempuannya sampai wisuda di salah satu universitas negeri ternama di Jawa Timur.

Saya mengunjungi warung kopi itu hampir tiap hari, tiga kali sehari. Di pagi hari, saya bertemu dengan bapak-bapak yang sarapan di sana. Mereka berbincang apa saja di pagi hari: pekerjaan, keluarga, berita di televisi, dan gosip-gosip kampung. Di siang hari, saya bertemu dengan orang yang hampir selalu sama. Mereka menikmati separuh hari yang berlalu dengan menyesap kopi atau teh sambil berbincang dan mengisap rokok atau bermain catur. Di malam hari, kami bertemu lagi melewati malam yang tenang. Mereka melepas lelah atau menikmati malam saja serupa ritual. 

Tidak ada orang yang tergesa. Tidak ada mereka yang berseragam sambil tetap membawa pekerjaan ke atas meja. Mungkin masing-masing membawa beban, sama seperti saya yang membawa beban berat pelajaran dari tempat kursusan. Tapi, tidak saya dapati beban itu merenggut kekhusyukan mereka menikmati bercangkir-cangkir kopi. Kehidupan terasa berjalan lambat di sana. Mereka melalui tanpa hingar bingar musik dan riuh seperti di kafe atau tempat nongkrong modern yang mulai mengambil ruang di desa itu.

Warung kopi serupa rumah yang terbuka tanpa memberi rasa canggung. Di warung kopi, mereka yang tidak beruang bisa berutang. Utang di warung kopi serupa simbol keakraban, saling percaya. Sebuah modal yang tumbuh di masyarakat kecil, yang di sisi lain tidak jarang membawa mereka dalam belenggu. Tapi, utang hanya sedikit pilihan yang tersedia untuk mereka, untuk sekadar bertahan hidup. Warung kopi adalah sedikit pilihan yang tersedia untuk mengobati penat mereka.

Tapi, utang hanya sedikit pilihan yang tersedia untuk mereka, untuk sekadar bertahan hidup. Warung kopi adalah sedikit pilihan yang tersedia untuk mengobati penat mereka.

Di warung kopi, obrolan adalah salah satu menu yang tersedia. Frasa obrolan warung kopi kita kenali, kerap kita temukan dan di dalam sastra Indonesia Makhfud Ikhwan menggambarkan obrolan warung kopi sebagai narasi tempat Dawuk. Diceritakan: “Warto Kemplung menjajakan ceritanya demi rokok dan kopi gratis.” Bualan adalah cerita yang menarik yang walaupun kita tahu bahwa di dalamnya adalah kebohongan. Membual adalah keahlian yang tidak semua orang menguasai.  Makhfud Ikhwan menyajikan kepada kita obrolan warung kopi itu secara apik.

Tempat nongkrong sebagai ruang tak lepas dari citra, strata. Masyarakat sejatinya memang terkotak. Kotak-kotak itu terisi dan beririsan, yang bermasalah kotak yang bernama ketimpangan, yang semakin hari semakin tajam.

Dari dalam sebuah kafe di Mumbai, Bollywood, seorang pemuda duduk di dekat jendela menikmati secangkir kopi yang disajikan dengan alat modern, biji kopi spesial, bukan kopi campur biji jagung yang disajikan tubruk seperti di warung kopi. Pemuda itu mengaduk kopinya yang masih hangat, memandang keluar ke kenyataan Mumbai yang sengkarut. Dari balik jendela, seorang bocah menangkap pemandangan, mengikuti apa yang dilakukan pemuda. Dia mengaduk kopi imajinernya, menyesap cangkir yang dibayangkan di tengah debu dan bau sampah yang nyata. Adegan itu muncul dalam sebuah film berjudul Lion.

Dia mengaduk kopi imajinernya, menyesap cangkir yang dibayangkan di tengah debu dan bau sampah yang nyata. Adegan itu muncul dalam sebuah film berjudul Lion.

Scene yang cukup membekas itu memberitahu kita secara gamblang bagaimana kotak itu mengada. Kafe adalah gambaran modern. Kelas tinggi, yang membawa citra eksklusif. Kafe menjadi penanda gaya hidup kelas menengah, tempat kelas di bawahnya tidak menjadi bagian, tulis Seno Gumira.

Obrolan di kafe terpisah dalam meja-meja. Ada kotak dalam kerumunan. Dari meja-meja itu, identitas tergambar. Obrolan ini hadir dalam cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa gubahan Yusi Avianto. Obrolan dibagi dalam meja-meja berbeda. Isi obrolan memberi kita gambaran diri mereka. Satu-satunya kejadian yang akhirnya memecah kelompok untuk melebur adalah pertengkaran di salah satu meja, sesaat saja mereka menoleh. Namun, semua akhirnya kembali lagi dalam kelompok masing-masing. 

Orang-orang bergaji kerap membawa serta pekerjaan mereka ke tempat yang semestinya adalah ruang bersantai tersebut. Tempat itu pun mengamini mereka yang tetap dikejar kerja. Tersedia wifi, colokan, dan ruang atau meja privat bagi mereka yang membayar. 

Demikianlah, tongkrongan memisahkan mereka yang bergaji, berdasi, dan yang bersendal jepit.


Anwar M., penulis pernah belajar di Pare, Kediri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s