Kue, Dongeng, Agama

Ahmad Sugeng R

KUE menjadi makanan yang belum masuk daftar makanan pokok. Di gambar empat sehat lima sempurna, kue tidak ditemui di dalamnya. Anak-anak diajarkan pengganti nasi dengan jagung, ketela, dan gandum. Kue malah masuk dalam daftar makanan selingan di waktu luang seperti halnya keripik, wafer, dan jajanan pasar. Kue mungkin malah menjadi makanan bergizi di negeri lain, namun belum berkhasiat membuat kenyang bagi masyarakat di negeri ini.

Tetapi, kue dapat ditemui tidak hanya di warung, toko, atau pasar. Kue ada dalam dongeng. Kue menjelma menjadi makanan yang dapat menginsafkan keluputan seorang manusia atas perbuatan buruknya. Kue tidak memberi wahyu, ilham, atau kitab suci. Kue beresep nikmat malah memicu tobat dari seseorang. 

Di dalam buku Kumpulan Dongeng Dunia Mimpi (2011), kue malah memuat kebaikan-kebaikan pengubah perilaku di masa modern. Pada dongeng berjudul “Penyihir Wanita yang Ingin Menjadi Pembuat Kue”, kita disuguhi cerita ketertarikan penyihir pada aroma kue. Ia mengintip lantas mencuri resep kue. Peristiwa itu berbuah malang pada si pembuat kue yang berubah wujud menjadi katak karena memergoki si penyihir. Alih-alih berterimakasih, si penyihir malah melempar tawa sambil lalu. Sesampai di kediaman, resep itu malah berbuah kesal. Sekian resep yang tidak akrab di telinga penyihir diperlukan guna membuat kue yang nikmat berasa lezat di lidah. “Rumit sekali nama semua bahan yang diperlukan!” Dan hasilnya, kue itu tidak bisa dimakan. Seperti halnya semua pekerjaan, setiap permulaan buruk maka hasilnya juga akan sama, buruk. 

Dan hasilnya, kue itu tidak bisa dimakan. Seperti halnya semua pekerjaan, setiap permulaan buruk maka hasilnya juga sama, buruk.

Kita menduga penyihir itu ingin belajar membuat kue secara otodidak. Ia emoh kursus. Ia luput belum membaca 100 Resep Kue & Cake Populer Ny. Liem (2008). Di situ, sekian resep membuat kue disediakan lengkap dengan tahapan-tahapan pembuatannya. Nama Ny. Liem didapuk sebagai kursus boga terkemuka di Kota Bandung. Sekian murid dan alumni tukang kue pernah mendaku murid padanya. Namun buku itu dibuat juga untuk mereka yang ingin menekuni boga tanpa harus kursus padanya, termasuk si penyihir itu. Di prakata ditegaskan: “Penerbitan buku-buku seri resep andalan Ny. Liem selain untuk ikut memperkaya kuliner Indonesia sekaligus juga untuk memudahkan mereka yang memiliki minat dan kepentingan dalam dunia boga, namun belum memiliki kesempatan mengikuti kursusnya”.

Kelanjutan cerita di dongeng itu agak wagu: “Kemudian, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Si penyihir segera membukanya. Di depan pintu, dia melihat seekor katak tua, si tukang roti.” Pernyataan itu memuluskan kerampungnya cerita tapi membuat imajinasi pembaca agak kacau. Katak itu lantas berubah lagi menjadi manusia dengan syarat mau mengajari penyihir membuat kue. Di akhir cerita, penyihir pun bertambah profesi: tukang pembuat kue.

Di situ, anak-anak mendengar dongeng diajak membayangkan rupa penyihir sekaligus perubahan wujud tukang kue menjadi katak. Anak-anak hanya ditekankan pada nasihat di dalamnya meski sulit terbaca secara pasti. Penyihir yang berbuah sikap menjadi baik karena bertambah profesi, atau segala pengetahuan itu perlu guru yang mengajarkan dengan cara benar, atau malah nasihat dilarang mencuri. Pembaca dongeng bisa memilih tafsir sesukanya atas dongeng itu untuk bekal imajinasi baik anak-anak di masa mendatang.

Kue juga tidak bisa lepas dari narasi historis yang melingkupinya. Kue tidak selesai hanya sebagai makanan. Kue malah kerap kita temukan di acara-acara besar yang mengundang orang banyak. Di situ kue dihadap-hadapkan dengan beragam afiliasi, status kesejahteraan ekonomi, dan kepentingan dari si penikmat kue. Kue menunggu penilaian, meski tidak bisa protes dari si rakus pemakan kue atau hanya sekadar pencicip sebagai daftar kehadiran.

Kue menunggu penilaian, meski tidak bisa protes dari si rakus pemakan kue atau hanya sekadar pencicip sebagai daftar kehadiran.

Pada masa silam, kue malah memperoleh penjelasan berkaitan penyebaran agama. Kita mengutip pernyataan Fadly Rahman dalam buku Jejak Rasa Nusantara, Sejarah Makanan Indonesia (2016): “… kegiatan zending (misi penginjilan) Belanda pun menyelinapkan selera ini dalam rupa-rupa olahan yang kemudian identik dengan selera pribumi – seperti di Maluku dan Sulawesi Utara.” Sekian olahan kue di negeri kincir angin, diramu dengan bahan-bahan lokal seperti cengkih, kayumanis, jahe, dan pala. Dari situ muncul sekian nama kue seperti onbijtkoek, klapertaart, dan spekkoek berasa lezat dengan aroma agama.

Masyarakat kita di masa itu mungkin belum tahu bila makanan dapat mengubah tatanan sosial, politik, dan ekonomi di masa depan. Mereka menurut, lazimnya penduduk di wilayah kolonial. Bagi mereka, di masa yang sulit seperti itu, kebutuhan perut untuk kenyang mungkin lebih utama ketimbang mengurusi misi yang ada di balik makanan itu sendiri. 

“Makanan adalah salah satu cara strategis dalam petualangan misi-misi kristenisasi untuk menaklukkan yang liyan dan mengubah seleranya mengikuti kebudayaan dominan kemudian membuat yang ditaklukkan bergantung pada “mulut dan perut” alias selera si dominan,” pernyataan Fadly Rahman.

Kue menjadi makanan enak sarat dengan cerita dan misi kristenisasi. Tapi lazimnya di masyarakat, kue selesai sebagai makanan dengan sekian penilaian. Kue malah jarang terbaca di buku-buku, kecuali resep masakan. Kue juga terlupakan dalam sejarah di buku-buku pelajaran digunakan murid-murid di sekolah. 


Ahmad Sugeng R., penulis tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s