Bertamu, Pamitan, Ketegangan

Agita Yuri

PADA masa sekarang, kita mengerti masanya orang-orang bertemu tanpa perlu bertamu. Lha gimana, wong pandemi belum rampung! Obrolan bersama Kaum Senin, sudah berlangsung beberapa bulan, ternyata menuntut permenungan yang rumit. Kami bertemu tanpa bertamu. Tidak ada ketuk pintu, tidak ada ucapan:  “Mari masuk dan duduk dahulu.” Hanya jumpa lewat layar, baik ponsel maupun laptop dengan mengakses tautan ruang pertemuan virtual Zoom

Ah, mengapa pula namanya Zoom? Zoom itu bahasa Inggris, yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah memperbesar atau membesarkan. Oh, saya pikir tepat juga nama aplikasinya karena memang aplikasi ini pemanfaatannya “dibesar-besarkan” untuk menggantikan banyak pertemuan muka yang terhenti atau terbatasi yang alasannya pandemi yang meden-medeni

Pertemuan Zoom yang saya ikuti selama masa pandemi luar biasa banyak, lebih banyak daripada pertemuan langsung dengan orang-orang tentunya. Saya akhirnya merasa gagap bila harus bertemu muka. Lupa bagaimana bertamu yang baik, sesederhana main ke rumah tetangga. Saya lupa, sungguh lupa, kapan terakhir kali bertamu dan merasakan kehangatan tanpa dikekang batasan protokol kesehatan. Saya perlu waktu dan kopi untuk membantu mengingat-ingatnya. Sebab, bertamu dan bertemu perlu diabadikan kisahnya. Di dalamnya, tersembunyi harta karun bagi anak-anak saya yaitu adab atau etika. Siapa lagi yang akan mengajarkan etika bertamu dan bertemu ini jika bukan orang tua anak-anak yang paling dekat dengan mereka. 

Dalam buku yang baru saja saya baca (ternyata ada buku tentang etika bertamu), dikatakan sejak kecil atau balita, anak-anak perlu diajarkan sopan santun bertamu dan kemandirian. Tujuannya agar kelak lebih mudah beradaptasi dan diterima dalam masyarakat. Pada usia 5 tahun, anak sedang menikmati senangnya bermain bersama teman-teman sebaya. Balita sering berburu teman dan tak segan untuk mengunjungi rumah temannya. Hal ini kadang membuat kita kesal karena repot menemaninya berpindah-pindah tempat untuk bermain ke tetangga, namun justru inilah saat yang penting mengajarkannya bersosialisasi. Pengajaran tata krama mendapat peran pentingnya. 

Pada usia 5 tahun, anak sedang menikmati senangnya bermain bersama teman-teman sebaya. Balita sering berburu teman dan tak segan untuk mengunjungi rumah temannya. Hal ini kadang membuat kita kesal karena repot menemaninya berpindah-pindah tempat untuk bermain ke tetangga, namun justru inilah saat yang penting mengajarkannya bersosialisasi. pengajaran tata krama mendapat peran pentingnya.

Selanjutnya dalam buku juga disebutkan apa saja yang perlu diajarkan orang tua. Orang tua perlu memberi tahu anak-anak untuk masuk ke rumah orang lain melalui pintu pagar (bukan melompati dinding pembatas), memberi salam sebelum masuk, tidak langsung masuk ke ruangan lain, tidak menyentuh benda-benda di dalam rumah tetangga, tidak mengintip makanan di atas meja atau di kulkas, memperhatikan waktu berkunjung, serta memahami aturan yang berlaku di rumah tetangga. Namun diingatkan pula agar orang tua mempertimbangkan usia anak saat memberi tahu karena pemahaman di tiap rentang usia tentu berbeda. Penulis buku juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap tayangan televisi yang malah tidak mengedukasi anak-anak sehingga kata-kata kurang sopan tertancap dengan mudah di kepala anak-anak yang menonton televisi tanpa pengawasan orang tuanya. 

Meskipun sebenarnya ada juga tayangan anak-anak yang mengajarkan sopan santun kala bertamu dan bertemu. Tengok saja Upin Ipin, kartun Malaysia yang rasa-rasanya saya pun hafal episodenya yang diputar berulang di televisi dan saya tonton bersama anak saya. Sopan santun tampak dari cara mereka memberi salam kepada orang atau teman. Upin Ipin selalu mengucap salam kepada Kak Ros dan Opah saat meninggalkan rumah atau baru saja sampai rumah. Upin Ipin juga menunjukkan rasa hormat pada orang yang lebih tua di sekitarnya. Upin Ipin selalu mengucapkan kata permisi, tolong, minta maaf dan terima kasih meskipun di sisi lain kerap memperlihatkan sifat usil selayaknya anak-anak seusia mereka. 

Mari kita bandingkan dengan acara lainnya yaitu film layar lebar Yo Wis Ben, yang kemudian ada juga versi serialnya yang bisa dinikmati via aplikasi ponsel. Memang, film remaja ini tidak ditujukan untuk anak-anak, namun saya mengajak anak menonton bersama karena penggunaan bahasa Jawa dalam film porsinya cukup besar. Cerita persahabatannya cukup mengharukan dan bisa dijadikan pelajaran. Ada kesetiakawanan, saling membantu, membalas budi, dan mengatasi perundungan dengan cara menunjukkan prestasi dan berbagai hal positif. 

Film ini juga mengajarkan penerimaan diri serta kasih sayang dalam keluarga apapun dan bagaimanapun kondisinya. Sekalipun anak-anak remaja tokoh dalam film terkesan nakal atau usil tapi mereka juga saling menyapa atau mengucapkan salam saat bertemu dan bertamu, khususnya terhadap orang yang lebih tua. Yang saya pikir lucu adalah cara memanggil teman di dalam film yang berlatar situasi kota, ternyata sama dengan cara memanggil teman di dusun tempat saya tinggal. “Ndo…. Nando… oooo!” Nada panggilnya sama dengan teman-teman anak saya, “Ra….Gara.. aaa!” Mungkin jika dituliskan dalam notasi angka, menjadi demikian: “3 5…5 3…5”. Senang rasanya bisa merasakan persahabatan yang demikian kuatnya di dalam film. Saat bertamu ke rumah teman, beberapa kali memang tampak adegan masuk ke dalam rumah bahkan ke lantai atas namun itu dilakukan karena sudah ada kedekatan antara anak juga anak dengan orang tua temannya. Adab bertamu dan bertemu di kota maupun desa tak terlalu berbeda wujudnya.

Yang paling penting menurut saya adalah penghargaan kepada orang yang kita temui, siapapun dia. Meskipun orang tua saya semasa kecil tidak secara khusus mengajarkan etika bertamu dan bertemu, saya tetap bisa mempelajarinya dari sekolah, buku dan televisi, juga orang tua dari teman-teman. Namun kini setelah saya dewasa, pemaknaan saya bergeser dari pengalaman dan apa-apa yang diajarkan orang tua dulu. Dulu kalau diajak bertamu, anak-anak itu harus sopan, duduk anteng, kalau ditawari tuan rumah minum apa nanti mesti dijawab, “Ga usah repot-repot.” Begitulah yang sering terjadi. Basa-basi saja karena si tuan rumah tetap membuatkan minum dan mengeluarkan cemilan. Kadang kala tamu juga diajak makan besar dengan menu nasi lengkap sayur dan lauk pauknya. 

Sekarang ketika saya mengajak anak saya bertamu, sebenarnya kurang lebih sama mengatakan jangan bikin repot orang, berperilaku dan berkata yang sopan, wajib memberi salam, mengucapkan terima kasih, dan saat pulang berpamitan dengan baik. Perbedaannya adalah, jika tuan rumah mengizinkan dia melakukan sesuatu atau menawari sesuatu, anak saya bolehlah menjawab dengan jujur tapi sopan. Kalau memang mau, bilang mau. Tidak mau maka boleh menolak secara halus. Diajak ke bagian dalam rumah kalau memang diperbolehkan tidak masalah, pun seperti memakai alas kaki dalam rumah. Mungkin ini bisa disebut sebagai “sopan santun yang disepakati”. 

Saya menekankan penghargaan pada setiap orang dan bahwa setiap rumah atau keluarga memiliki aturan yang khas. Jika anak saya ingin melakukan sesuatu, maka dia perlu dan boleh meminta izin saya atau tuan rumah dulu. Saya pikir bukannya tidak punya adat kesopanan dengan bersikap jujur. Hanya terkadang terlalu banyak basa-basi malah membuat suasana menjadi kaku. Maka tidak heran jika anak saya ditawari makan, dia akan mudah berkata mau atau tidak mau. Jangan coba-coba menawari untuk menginap jika punya anak seumuran yang hobinya relatif sama. Anak saya pasti akan segera menjawab mau dan bertanya, “Boleh ga, Bu?” Dia tidak akan menganggap tawaran itu basa-basi belaka. 

Pengalaman lucu waktu anak saya, Gara, berusia 2-3 tahunan. Saat bertamu, entah mengapa suka mengecek kamar mandi di rumah tamu tersebut. Sering kali minta pipis namun ternyata di kamar mandi malah mengomentari keadaan. Pernah suatu kali arisan di rumah tetangga, Gara minta ke kamar mandi. Memang mau pipis, tapi segera batal karena menurutnya kamar mandi itu kotor. Gara tidak mau. Malu juga rasanya saat Gara berkata cukup keras sepertinya kedengaran orang banyak: “Kamar mandinya kok jelek to, Bu?” Aduh, tepok jidat saya. Untungnya dia masih kecil jadi lebih dimaklumi, tinggal saya yang kemringet menahan malu dan segera minta maaf. Anak saya masih kebelet pipis dan akhirnya memilih pulang, pipis di rumah. 

Perihal bertemu saat bertamu ini pun pernah menjadi tema keisengan saya kala remaja. Saya sungguh penasaran mengapa orang-orang berpamitan saat mau pulang itu berkali-kali. Sudah pamit ngobrol lagi. Sudah siap naik kendaraan pamit lagi. Saya hitung saja sekalian biar tahu pasti berapa kali orang itu pamit atau mengatakan: Mpun nggih kula pamit riyin (Pulang dulu, ya). 

Penelitian dilakukan dalam hati saja agar orang-orang tidak malu. Setelah beberapa kali pengamatan, saya segera menemukan jawaban. Orang berpamitan mau pulang minimal 3 kali. Pertama, saat masih di dalam rumah atau duduk di ruang tamu. Kedua, saat sudah akan keluar dari rumah (berdiri), saat sudah bersiap dengan jaket, topi atau menyiapkan kunci kendaraan. Ketiga, saat sudah naik kendaraan dan akan segera pergi meninggalkan tempat. Nah, itu kesimpulannya.

Bisa lebih banyak bahasa pamitannya sesuai kedekatan tamu dengan saya atau keluarga. Sungguh tidak penting bukan menghitung saat pamitan ini. Tapi ya mengapa perlu berkali-kali diucapkan gitu lho. Kakak perempuan saya lebih lebay lagi. Selain berkali-kali pamit, dia akan mengucapkan berkali-kali terima kasih pada tamu, siapa saja termasuk saya adiknya sendiri. Saking senangnya ditamoni mungkin. Memang bertemu dan bertamu sering kali membuat bahagia. 

Namun ada kalanya bertemu dan bertamu sedang tak diharapkan jika waktu dan suasana hati tidak tepat. Pernah suatu kali di masa SMA, ada seorang teman laki-laki mengetuk pintu dan dengan romantisnya memetik gitar menyanyikan lagu cinta dari Yovie and the Nuno. Ia mengajak pula dua orang teman yang bermain suling. Katanya sebagai pernyataan cinta kepada saya dan berharap cinta berbalas. Ya ampun, sungguh malu waktu itu. Untungnya malam hari dan tidak banyak tetangga berada di luar rumah. Saya disuruh menjawab pernyataan cinta itu, ya atau tidak. Aduh, masalah ini! Mau menolak tapi bagaimana caranya supaya tidak menyakitkan. Saya juga clingak-clinguk, apa ada reporter atau kru stasiun televisi sedang merekam. Sebab, waktu itu ada acara “Katakan Cinta” yang sangat populer. Hmmmm overthinking! Akhirnya saya bilang tidak bisa menjawab segera. Maka dia perlu menunggu. Hal itu saya lakukan semata-mata agar teman saya tidak malu di hadapan teman lainnya. Beberapa minggu kemudian barulah jawaban “duka” saya sampaikan. Saya tidak bisa membuat-buat cinta, apalagi mencoba-coba hubungan. Kalau memang tidak, tetap tidak. Mari berteman saja. Kami pun akhirnya tetap berteman dan dia bisa legawa menerima. Tapi adegan “kesatria bergitar” itu tidak bisa saya lupakan. 

Pengalaman bertemu dan bertamu yang mengesankan juga saya rasakan saat pertama kali mengadakan program jualan mi ayam dengan nama “Keluarga Kura-kura Jalan-jalan”. Saya menyebut kami keluarga kura-kura karena warungnya Mi Ayam Kura-kura Kecil. Biar klop! Program ini untuk mengakali kondisi warung yang sedang sepi dan memudahkan kawan yang rumahnya jauh tapi ingin mencicipi mi ayam buatan kami (saya dan suami). Kami akan menawarkan waktu khusus untuk mengantar ke rumah-rumah, tanpa ongkos kirim. Selain mi ayam, saya juga sekalian menjual produk olahan jamur tiram dari desa tetangga. Jika pesanan memungkinkan dibawa dengan motor, maka kami naik motor. Tapi jika pesanan banyak maka kami pinjam mobil bapak karena mobil kami masih berupa impian.

Foto: IG mieayamkurakuar

Waktu itu beberapa teman pun ingin didatangi. Rumah-rumah mereka sungguh jauh jaraknya, waktu tempuh bisa 30-45 menit. Maka saya bersama suami dan Gara yang berusia 3 tahunan saat mengantar pesanan, tidak langsung pulang. Kami ngobrol-ngobrol dulu, disuguhi makan dan minum juga bahkan. Sampai-sampai waktu pulang kok ya disangoni, dibahasakan: “Ini buat jajan Gara.” Atau pemberian-pemberian lainnya yang sangat saya syukuri. Ongkos kirim yang tidak saya tagih malah membawa berkah lebih dan menjadikan hubungan pertemanan lebih gurih. 

Memang semua tak perlu selalu diukur dengan uang bukan? Ada nilai persaudaraan dan kekeluargaan yang lebih berarti. Kami tidak merugi justru saling berbagi. Saya juga sering membagikan sesuatu jika teman yang membeli mie ayam, punya anak kecil. Biasanya saya membawa makanan kecil atau buku cerita sebagai bonus. Namun itu dulu, pengalaman 3 tahun lalu. Sekarang kami hanya bisa mengenangnya. Mau pergi-pergi jauh sambil mengantar pesanan, repot sekali. Alasannya pandemi dan sekarang anak sudah bertambah jadi 2, motornya kebak. Nantilah kapan-kapan keluarga kura-kura jalan-jalan, pelan-pelan. 

Bertemu dan bertamu itu bisa ngeri juga. Seperti dalam drama seri Korea berjudul The World of the Married yang sempat populer beberapa waktu lalu. Di episode saat dokter Ji Sun Wo bersama suaminya Lee Tae Oh datang ke rumah keluarga Pimpinan Yeo untuk makan malam. Pimpinan Yeo notabene adalah orang tua dari Da Kyung, sang wanita muda selingkuhan suaminya. Bertemu dan bertamu menjadi amat canggung. Berpura-pura sopan menjadi alat bertahan. Ji Sun Woo yang meminta izin melihat-lihat rumah kepada Tuan Yeo ternyata menyembunyikan maksud yaitu untuk mencari Da Kyung. Bahkan saat suaminya dan Da Kyung bertatapan, Ji Sun Wo sengaja menjatuhkan sebuah lampu lalu berkata seolah memberi kode agar jangan menyentuh barang orang lain. Kecanggungan makin bertambah karena saat makan bersama, Ji Sun Wo terang-terangan membuka aib suaminya yang berselingkuh. 

Bertemu dan bertemu yang tadinya diharapkan membawa kebaikan dan penghargaan karena Ji Sun Woo adalah seorang dokter yang cukup dihormati, sementara pimpinan Yeo juga dihormati karena kekuasaannya, akhirnya menjadi titik api pertikaian di antara kedua pihak. Buntutnya hilangnya kepercayaan dan penghormatan, selanjutnya kehancuran keluarga. 

Sebaiknya tidak usah menjadikan ajang bertemu dan bertamu menjadi seolah ring tinju. Bertemu dan bertamu yang dirasa sulit atau dibatasi saat ini, hendaknya tetap dirindukan, jangan sampai hilang dari ingatan. Sebab, manusia sebagai makhluk sosial butuh saling bertemu dan bertamu, untuk melestarikan hubungan. Tidak mengapa bertemu baru bisa lewat layar, asal hubungan tidak bubar. 


Agita Yuri, penulis dan pedagang mi ayam, tinggal di Jogjakarta, WA 082136246626, IG mieayamkurakura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s