Meminjam dan Memiliki

Yuni Ananindra

ORANG-ORANG kurang terbiasa menjadikan “diam” sebagai penyelesaian masalah. Menyelesaikan masalah artinya harus  terlihat bergerak, gerak apa pun itu. Ini kita saksikan dan alami terutama pada awal kemunculan pandemi Covid-19. Kala itu, orang-orang ramai melakukan penyemprotan menggunakan desinfektan di dalam bangunan atau di ruang terbuka. Mereka tak hanya dari instansi, tapi juga para warga yang melakukan secara swadaya. Penyemprotan oleh warga lumrah menggunakan tangki semprot yang dapat dipinjam dari para petani. 

Dalam kehidupan biasa, tangki semprot mungkin masuk kategori benda yang tak terlalu sering dipinjam. Tangki sebagai benda dipinjam, acap kalah populer dibandingkan uang, peralatan masak, peralatan makan dan minum, halaman rumah, hingga tenaga dan waktu. Dalam ekosistem desa, pinjam-meminjam bisa ditautkan sebagai cerminan makhluk sosial ataupun bagian watak masyarakat yang guyub. Tapi kelamaan, fenomena ini memiliki kecenderungan untuk meluntur. 

Orang-orang ingin memiliki. Meminjam kerap didudukkan pada kasta yang lebih rendah daripada yang meminjamkan. Tidak meminjam karena telah memiliki sering dipandang sebagai salah satu wujud kemandirian. Ketergantungan  memang banyak terbukti merepotkan. Maka, bisa memiliki adalah pencapaian. Dalam beberapa kasus, tidak ingin merepotkan tidak sama dengan tidak ingin direpotkan. Mereka hanya ingin mandiri tanpa niat mengebiri kewajiban untuk menolong dan berbuat baik terhadap sesama. Namun ada juga yang bersetia meminjam karena memang tidak ingin memiliki—meski sebenarnya bisa mengusahakan. Mungkin karena mereka punya standar mengenai “benda-benda yang penting dimiliki” dan “benda-benda yang tidak penting dimiliki”. Bagi mereka, berhasil mematuhi standar yang sudah dibuat sendiri, pantas juga disebut pencapaian. Kedua golongan yang tampak berbeda tersebut tak perlu dihitam-putihkan. Kehidupan memang tidak pernah satu warna. 

Orang-orang ingin memiliki. Meminjam kerap didudukkan pada kasta yang lebih rendah daripada yang meminjamkan. Tidak meminjam karena telah memiliki sering dipandang sebagai salah satu wujud kemandirian. ketergantungan memang banyak terbukti merepotkan. Maka bisa memiliki adalah pencapaian.

Kita mungkin belum lupa dengan film pendek Tilik (2018) yang menghebohkan jagat maya pada 2020. Ingat Tilik berarti ingat dengan truk. Bu Tejo dan para tetangga memakai truk sebagai alat transportasi untuk menjenguk Bu Lurah di rumah sakit. Menurut aturan, fungsi itu melanggar. Truk semestinya adalah alat pengangkut barang. Penyimpangan ini bukan hal aneh bagi warga desa. Warga yang punya truk kadang merangkap jati diri dermawan. Ketika ada keluarga tetangga yang kesripahan di lain tempat, pemilik meminjamkan truk sekaligus memberikan keahlian menyetirnya agar para warga bisa sampai ke rumah duka. Pemilik truk  biasanya tidak mau diganti rugi, baik berupa uang bensin ataupun sekadar gula-teh sebagai ungkapan terima kasih. Tapi sesungguhnya tak hanya orang tua, anak-anak SD di perdesaan juga akrab dengan truk. Ketika hendak kemah atau ikut lomba yang butuh membawa banyak barang,  truk kepunyaan orang tua murid adalah andalan untuk mengangkut barang ataupun para murid itu sendiri. Sungguh sebuah solusi jitu mengirit anggaran.

Dalam khazanah kehidupan anak muda di perdesaan, suatu masa pernah akrab dengan kalimat legendaris: Ora srawung rabimu suwung.  Tidak bergaul, pernikahanmu sepi. Kalimat ancaman itu bentuk ajakan bersosialisasi bagi kaum muda. Biasanya digaungkan di grup WhatsApp atau diterakan dalam undangan arisan karang taruna. Kalau ada jadwal arisan, berangkat; ada hajatan, rewang; ada lelayu, membantu; ada kerja bakti, hadir. Begitulah srawung yang diharapkan. Level paling rendah dari srawung adalah setor muka atau sekadar terlihat. 

Jika merunut dari kalimat bernada ancaman itu, srawung terkesan jauh dari kerelaan. Srawung lebih dekat kepada sebuah kegiatan transaksional. Hukum sebab-akibat terkandung di dalamnya. Srawung adalah kegiatan pinjam tenaga, pinjam waktu, atau pinjam kehadiran yang suatu saat berhak atau wajib dikembalikan. Namun di antara banyak protes mengenai kalimat bernada ancaman itu, ada juga yang  menjawab santai: “Aku besok mau pakai catering.” Kalimat itu belum simpul mati. Dijawab lagi: “Kalau mati, galilah lubang kuburmu sendiri!”


Yuni Ananindra, penulis tinggal di Jogjakarta 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s