Bermasalah Pergaulan

Bandung Mawardi

SEKIAN hari, Abad dan Sabda sudah masuk sekolah. Abad tampak senang bisa bertemu dengan teman-teman. Sabda pun bercerita senang bisa melihat dan bercakap bersama teman-teman. Peristiwa sejenak saja. Di sekolah, waktu masih terbatas. Abad dan Sabda belum bisa bermain dengan teman-teman, bermain apa saja. Episode ke sekolah masih menegangkan. 

Pengaruh terasa dalam tata cara pergaulan. Mereka tak mudah mengetahui nama dan mengakrabi semua teman di kelas atau kelas tetangga. Percakapan-percakapan pendek mungkin terjadi. Saling menatap membuat agak ada keakraban tapi sulit berlanjut dengan bermain. Jajan di sekolah saja masih wajib mengikuti peraturan-peraturan. Di sekolah, pergaulan murid-murid masih masalah, belum wajar.

Di rumah, pergaulan pun belum wajar. Bermain di luar rumah belum menjadi pembiasaan. Sekian seruan pemerintah dipahami masih harus hati-hati. Bocah-bocah di rumah bertempur dengan bosan. Penebusan di sekolah untuk berlarian atau berkumpul bareng masih tersulitkan. Abad dan Sabda kadang murung, pulang dari sekolah. Adegan berangkat sekolah belum tentu secerah matahari. Sekian masalah belum terjawab. 

Guru-guru di sekolah belum mungkin mengajak murid-murid bergembira secara lazim. Guru masih harus mematuhi kaidah-kaidah. Pengenalan untuk murid-murid terbatas. Pengamatan atas pergaulan murid-murid pun terbatas. Di sekolah, peristiwa murid-murid melulu belajar dulu. Beragam keinginan tertunda demi keselamatan bersama.

Pergaulan itu tema penting dalam pendidikan, berpengaruh lakon anak di rumah atau kampung. Pengaruh dari rumah dan kampung terlihat di sekolah. Pergaulan berbeda dari penerimaan dan pemahaman puluhan mata pelajaran. Kita sedang bermasalah dengan pergaulan. 

Pada 1953, terbit buku berjudul Didalam Praktek: Tjara Mengadjar dan Bergaul dengan Anak-Anak di Sekolah Rendah susunan J van Mourik dan S Nasution. Buku berdasarkan pengalaman-pengalaman ketimbang patuh dengan teori-teori dari Barat. Kita membaca: “Tidak berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa tiap-tiap anak adalah suatu teka-teki. Tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, djika kita katakan bahwa didalam djiwa manusia ada ‘ruangan’ jang tak dapat dimasuki oleh siapa djugapun.” 

Di sekolah, para guru tak selesai dengan mengajar mata pelajaran. Waktu-waktu di sekolah ia bertugas pula memberi seruan dan pengaruh agar murid-murid membentuk biografi beradab. Guru mungkin panutan. Guru mungkin pengamat. Guru mungkin penjelas. Keinginan mengerti murid bisa dikuatkan dengan pencarian informasi atau percakapan bersama wali murid. Guru dalam situasi tak menentu untuk mengerti murid-murid.

Di buku, kita membaca: “Biasanja apabila anak itu tahu bahwa ia sedang diperhatikan, maka berubahlah tingkah lakunja. Kerap kali anak itu ‘main sandiwara’, pendeknja kelakuannja tidak lagi seperti biasanja. Lagipula tidak mudah mengamati anak-anak dengan tjara jang tepak.” Ikhtiar demi ikhtiar bermaksud mengerti murid-murid selama belajar dan bergaul di sekolah. 

Selama masuk sekolah saat masih wabah, Abad dan Sabda jarang memiliki cerita panjang tentang teman-teman di sekolah. Mereka pun ragu berbagi pengalaman atas peristiwa-peristiwa terbatas selama di sekolah. Mereka ingin bergaul dengan menanggungkan setumpuk “tapi”. 

Sejenak di sekolah kadang selingan bagi anak-anak mengerti “kembali” posisi diri di rumah dan kampung. Mereka kikuk atau meragu. Pergaulan paling sering terjadi melulu bergawai. Pembentukan biografi dalam “kedaruratan” meski mengerti ada hal-hal menghilang atau tertunda saat bocah-bocah berharapan dalam “kewajaran”. Di rumah dan sekolah, pergaulan itu masalah mungkin melebihi pelajaran-pelajaran meminta nilai agar kementerian membuktikan kebenaran: agenda-agenda pendidikan terus terlaksana. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s