Naik Dulu, Merosot Kemudian

Setyaningsih

Antara 2015-2022, perosotan yang pernah mengisari masa kecil bermain dan disukai anak-anak di dunia, sudah berumur 100 tahun. Namun demi Tuhan yang suka bercanda, tidak ada lembaga pendidikan usia dini atau taman kanak-kanak di Indonesia yang merayakan peringatan penemuan membahagiakan ini. Bertanyalah pada praktisi PAUD atau rumput di lapangan, nihil!

Charles Wicksteed, seorang niagawan Inggris dan pencipta alat-alat dan mesin—menciptakan perosotan. Rubrik “Pengetahuan” di Bobo, 24 Januari 2013, memuat liputan kecil berjudul “Perosotan 90 Tahun Lalu”. Semua diawali saat Charles membuat taman untuk kota tempat tinggalnya di Northamptonshire—Taman Wicksteed. Tentu, perosotan masih sangat sederhana mengandalkan hukum-hukum dasar fisika. Tinggi perosotan 3 meter, dibuat dari papan kayu halus, tidak ada pegangan di pinggiran papan, dan bentuk sangat lurus tanpa belokan. Wah, seru campur deg-degan!

Perosotan mengalami perubahan sesuai dengan protokol keselamatan. Di Bobo, tertulis: “Tahun 1935, bentuk perosotan di Taman Wicksteed diperbaharui, untuk keselamatan anak-anak. Bahannya diganti menjadi logam. Pinggirannya diberi pegangan. Bentuknya melengkung di ujung bawahnya untuk mengurangi kecepatan saat anak-anak meluncur ke bawah.” Selamatlah bokong dan jantung anak-anak!

Aku mengingat perosotan semasa TK, dibangun permanen dari bata dan semen. Tidak terlalu menjulang, sekitar 2,5 meter. Di tengah antara tangga dan bidang miring, ada lubang pintu untuk lewat ataupun sembunyi. Memerosot jelas seru dan mendebarkan, tapi kesempatan duduk sejenak di puncak perosotan terasa seperti martabak telur—istimewa. Di antara angin dan ketinggian, mata seolah bisa menatap dunia. Ada kenikmatan alienasi sejenak dari dunia bawah—dengan konsekuensi teman-teman yang mengantre di belakang marah-marah. 

Dibanding dengan ayunan tunggal, misalnya, perosotan lebih berkesan sosialis. Raga belajar bergantian. Anak harus bersabar karena bukan menikmati kesenangan yang ajeg. Mereka harus bersusah naik agar bisa memerosot. Di sini, bolehlah diingat tokoh dalam mitologi Yunani, Sisyphus, yang mendorong batu ke puncak gunung lantas melepaskan batu meluncur ke bawah. Hukuman itu nyaris seperti kutukan. Namun, Sisyphus mengartikan harapan dan otoritas menentukan nasib. Seperti perosotan: berupaya, berulang, lalu lega. Oh!

Bermain perosotan jelas memunculkan kontradiksi bagi anak dan orangtua: kegembiraan-kekhawatiran, teriakan-diam, penasaran-ketakutan, kebebasan-baju kotor dan berantakan, aman-luka. Jantung orangtua lebih terancam. Penyair serta ibu bernama Cyntha Hariadi dalam Ibu dalam Mendulang Perosotan mendokumentasi “Perosotan”.

Kau panjat gunung, aku menahan nafas

Kau turun, aku menghembus nafas
Apa yang kamu lakukan di sana begitu lama?
Tanah tempat aku berpijak mulai terbelah

Kadang aku berharap
Aku binatang melata meninggalkan kau di atas sana

Orangtua yang tidak lagi anak tidak (lagi) pandai bermain. Anak-anak pandai bermain, maka mereka pandai mengalami hidup sehari-hari. Anak-anak bi(a)sa ertawa, terjatuh, berlari, kotor, kalah, menang, kompromi, memaafkan, berunding. Puisi “Ayunan” garapan Joko Pinurbo dalam buku Sepotong Hati di Angkringan (2021) bilang begini: Di sudut taman ada rumpun mawar berduri./ Ia mencintai mawar, tetapi takut kepada duri./ Ia mengaduh, membayangkan hatinya/ tertusuk duri. Ia terjatuh dari ayunan/ dan bocah-bocah tertawa geli./ Ia mesti belajar main ayunan lebih baik lagi.  


Setyaningsih, kritikus sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s