Membaca dan “Memanjat” Cerita

Lyly Freshty

AKSES terhadap buku-buku cerita anak berbahasa asing semakin mudah saja. kita mudah menemukan buku dengan bahasa Inggris yang diakui sebagai bahasa internasional maupun buku dengan kemasan dua bahasa: Indonesia-Inggris. Keduanya turut mewarnai jagat perbukuan anak-anak di Indonesia. Berbeda dengan buku cerita anak berbahasa daerah. Meskipun bahasa daerah seolah lebih dekat dengan masyarakat lokal, namun kehadiran buku cerita berbahasa daerah tidak mudah ditemukan. 

Bahasa daerah sendiri biasa terbicarakan sebagai topik mata pelajaran sekolah yang terus dipertanyakan eksistensinya di masa kini. Ada keinginan tetap melestarikannya, tapi tak kuasa menghindari cara belajar yang garing dan kurang aplikatif di sekolah. Berhadadapan pula dengan fakta bahwa anak-anak memang lebih banyak terpapar penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing lainnya dalam keseharian mereka.

Maka, mendapati kehadiran buku cerita anak berbahasa Jawa, seperti buku berjudul Menek Wit Jambu (Lingkar Antarnusa, 2020) gubahan Lia Loeferns laksana solusi bagi kebingungan orangtua dalam menjembatani penggunaan bahasa Jawa bagi anak-anak yang kian emoh menggunakannya sehari-hari. Apalagi buku ini tampak digarap serius layaknya buku-buku cerita anak yang beredar di pasaran. Bahasa Jawa menjadi terlepaskan dari urusan di dalam tembok sekolah semata dan bisa hadir di tengah-tengah ruang keluarga. Orangtua yang membacakan buku berbahasa Jawa pada anak-anaknya itu artinya mau tak mau terkondisi berperan aktif dalam pemakaian bahasa ini bersama anak. Syukur-syukur penggunaan bahasa Jawa bisa jadi lebih luas daripada saat membaca buku cerita saja, persis seperti harapan tertulis pada pengantar yang menyatakan kehadiran buku bermaksud untuk memasyarakatkan bahasa Jawa. 

Bahasa Jawa yang ingin disuguhkan tak hanya dalam wujud aksara Jawa, namun tertulis juga dalam aksara Latin agar yang masih buta aksara Jawa tetap dapat mengucapkan bacaan bahasa Jawa ini. Maka, terkemaslah cerita anak dua bahasa seperti buku-buku cerita anak berbahasa asing yang juga disertai dengan terjemahan bahasa Indonesia. Kali ini bukan dalam bahasa Indonesia-Inggris, namun bahasa Jawa dalam aksara Latin dan aksara Jawa. Memposisikan bahasa Jawa persis sebagai “bahasa asing” terpikir sebagai sepak terjang yang strategis dalam memasyarakatkan bahasa Jawa ini. Sebab, bukankah bahasa Jawa memang kian terasa asing saja di telinga anak-anak yang tak lagi merasa berkeharusan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari?

Untuk tujuan mulia dan dengan strategi jitu itu, terlampir satu halaman penuh pada bagian belakang sampul buku berupa aksara Jawa lengkap dengan tulisan dan pengucapannya dalam bahasa Indonesia. Pada halaman terakhir di bagian sampul belakang buku juga termuat terjemahan teks cerita dalam bahasa Indonesia yang tersusun rapi untuk setiap lembarannya. Tak ada alasan buta aksara Jawa dan maknanya lagi ketika membaca buku ini. Apalagi memandang sekilas pada teks-teks cerita yang sependek sekalimat saja untuk tiap lembarnya, rasanya pembaca siapapun langsung bisa (membaca) bahasa Jawa, termasuk anak-anak usia dini (yang ini tentu dibacakan orang tuanya).

Terus terang ada rasa antusiasme dan penghargaan tersendiri ketika hendak membacakan buku ini bagi anak-anak dibanding saat membacakan buku bahasa Inggris. Sebab, sedikitnya merasa andil mengenalkan bahasa Jawa secara lebih menarik melalui medium cerita. Layaknya mengenal hal baru, anak-anak pun tak kalah semangat, sebagian besar karena tak menyangka ada buku cerita anak berbahasa Jawa.

Sebagai orang tua, membaca judul Menek Wit Jambu yang tertera pada sampul saja sudah bikin senang. Khayal pun langsung melayang pada kenangan memanjat pelbagai jenis pohon dalam keseharian saat masa kecil. Romansa antara anak dan pohon itu buyar seketika tatkala anak-anak sendiri tak sabar minta dibacakan isi cerita segera. Muncul kesadaran bahwa anak-anak yang hendak dibacakan ini kondisinya berbeda dengan anak-anak dulu. Mereka adalah milik masa kini yang belum tentu mempunyai kenangan serupa dengan masa kanak-kanak orang tuanya dulu. Kesadaran ini seperti membawa diri saya terlempar kembali ke masa kini untuk terlebih dulu menerima kenyataan kalau melihat pemandangan anak memanjat pohon saja sudah sangat jarang sekarang. Akankah anak-anak tetap antusias dibacakan? Apakah kisah buku ini akan membosankan akal atau malah memantik imajinasi mereka?

Pemandangan anak memanjat pohon yang terlihat terakhir kali adalah anak sendiri berusia tiga tahun. Saat jalan kaki di kompleks perumahan, dia ingin menaiki pohon kamboja berdahan rendah yang berfungsi sebagai peneduh jalanan. Sebelumnya, dia pernah mencoba tapi belum berhasil naik sendiri sebatas memeluk dan berusaha meraih dahannya saja. Saya hanya menemani dan bersiap jika anak berharap bantuan. 

Saat itu, anak mendapat izin mencoba naik pohon lagi. Dia segera mengerahkan segenap perhatian supaya bisa memanjat. Ada luapan perasaan bangga luar biasa pada tumbuhnya kesadaran akan kemampuan dan keberanian dirinya yang berhasil mendorong diri dari jejakan tanah ke atas pohon. Belum pernah dia terlihat seberani itu. Belum puas dengan acara memanjat pohon, dia dan saya orangtuanya, sudah mendapat teguran dari orang dewasa lain yang kebetulan melintas di tepi jalan dan meminta saya supaya segera menyuruhnya turun. Saya sebagai yang memiliki kenangan hidup sebagai anak kecil pecinta pohon terpaksa merespons dulu dengan senyum. Walau tak serta merta menyuruhnya turun, tekanan itu saya akui membuat saya jadi lebih mengawasi juga. Begitu saatnya turun, saya siap sedia apabila dia butuh bantuan. 

Ternyata yang terjadi jauh dari kekhawatiran saya. Dia bisa turun sendiri.  Artinya, dapat mengukur kemampuannya sendiri. Acara naik turun pohon bolak-balik dia lakukan dan itu membuatnya semakin luwes dan bertambah berani juga percaya diri ketika memanjat pohon. Padahal, anak saya memanjat pohon masih ditemani. Sementara anak-anak, seperti tergambar dalam sampul cerita, memutuskan memanjat sendiri tanpa menunggu persetujuan orang dewasa dulu dan ini tentu lebih butuh keberanian dan kesiapan dengan segala risikonya.

Maka, kalau sekarang ada buku yang mengangkat tema memanjat pohon jambu sebagai bacaan kanak-kanak, tentu bikin penasaran. Karena ini sungguh kontras dengan realita masa sekarang yang sudah jarang mendapati anak memanjat pohon atas inisiatif sendiri. Kira-kira bakal seperti apa alur ceritanya? Jika anak-anak sekarang membacanya, kesannya seperti apa?

Dari pandangan sekilas pada sampulnya tampak segerombol anak tengah asyik menikmati buah jambu (sesuai judulnya) di atas pohon, sementara seorang anak berperawakan gemuk dan berkacamata hanya memandang dari bawah sana dengan raut wajah bingung. Gambar sampul tampak bagus, hidup, dan bercerita. Sebelum membaca, saya jadi menebak kalau anak yang menatap bingung itu pastilah sedang berpikir keras antara ingin atau tidak memanjat pohon ketika melihat sebayanya bergembira di atas sana. Apakah anak-anak yang di atas pohon tidak membolehkannya turut memanjat, meledeknya tidak bisa memanjat, ataukah memang dia sendiri tidak bisa memanjat seperti anak-anak itu? Saya mengira-ngira pelbagai kemungkinan jalan cerita seturut hal-hal yang biasa terjadi dalam kehidupan kanak-kanak dan kisah pengalaman nyata saat memanjat pohon. Tertera nama Nai Rinaket sebagai ilustrator cerita. Gambar sampulnya dapat memantik imajinasi saya untuk mereka-reka seperti apa jalan ceritanya dan mengaitkannya dengan kehidupan murni kanak-kanak.

Dugaan saya ada benarnya dan terjawab di bagian belakang sampul. Sinopsis menjelaskan bahwa tokoh bernama Wiwit, yang tadi saya duga sebagai anak kebingungan di bawah pohon, memang betulan sedang bingung. Tapi bingungnya bukan karena kawan-kawan tak membolehkannya memanjat pohon, melainkan justru karena menghadapi ajakan memanjat pohon sementara dia sendiri tidak bisa. Langsung terbayang lagi dalam imajinasi kalau saya dulu sekali juga pernah mengalami hal serupa Wiwit. Anak-anak pun sebetulnya tak langsung mahir memanjat pohon sendiri. Ada cerita saat mereka kecewa tidak mampu memanjat pohon sendiri dan minta tolong dipegangi supaya dapat naik. Mendapati imajinasi terpantik, saya jadi makin bersemangat mulai membacakan. Sampulnya saja menghantarkan pada suatu keseruan cerita sebab sepertinya tidak menutup-nutupi perasaan bingung anak-anak. Anak-anak tak harus selalu tampak manis dan hebat, bukan? Sebagai manusia, kebingungan dan kesulitan adalah bagian dari dirinya.

Meskipun buku ini diklaim sebagai dongeng berbahasa Jawa dan menyertakan aksara Jawa, saya tidak terlalu terfokus pada perihal ini. Sebab, saya awalnya membaca memang bukan semata untuk mempelajari bahasa Jawa, tapi melampaui itu. Saya ingin membaca kisahnya. Memang untung ada aksara Indonesianya. Kalaupun nanti terpantik membaca aksara Jawa, saya anggap sebagai bonus istimewa yang disuguhkan buku ini. Dengan begini, aksara Jawa justru semakin dikenal luas tak hanya bagi orang Jawa asli. Lagipula, keberadaan aksara Indonesia dalam buku ini seolah-olah mengerti bahwa membaca dan memahami bahasa Jawa secara langsung dari aksaranya bukan perihal mudah untuk anak masa kini yang lebih tertarik menjadi warga dunia yang mengglobal ketimbang menggeluti bahasa daerah yang makin tak populer penggunaannya.

Wujud aksara Jawa di mata pembaca asing seperti saya tampak eksotis mirip kabel lentur yang mudah dibengkak-bengkokkan, namun tak bermakna. Dengan bantuan aksara Latin yang tetap ditulis berdasarkan pengucapan dalam bahasa Jawa dan teks terjemahan berbahasa Indonesia, bolehlah buku ini jadi medium belajar bahasa daerah Jawa untuk anak melalui cerita. Mengingat teksnya pendek-pendek, sepertinya memang sengaja ditujukan untuk pembaca bahasa Jawa pemula, entah bocah-bocah yang masih kecil atau memang siapa saja yang baru mulai mencoba berbahasa Jawa. Akan lebih tepat lagi, jika ceritanya dibacakan lantang supaya dialek dan pengucapan bahasa Jawa ini bisa turut dipelajari melalui telinga yang mendengar. Bukankah mendengar adalah proses yang paling awal dan alami untuk belajar menyimak tuturan bahasa sebelum mulut dapat berbicara menuturkan kembali?

Saya pun membaca lantang bersama anak-anak yang turut menyimak. Dengan dialek saya yang bukan asli Jawa, saya berusaha mengartikulasikan bahasa Jawa sesuai tertulis dalam aksara Indonesia. Anak-anak saya yang berbapak Jawa dan lahir besar di Jawa langsung terkesima dengan pembacaan buku cerita berbahasa Jawa berikut iringan ilustrasinya.

Pada halaman awal, langsung tersuguh ilustrasi berupa pemandangan alam yang begitu alami ditumbuhi pepohonan dan belukar. Ada sungai kecil dengan air mengalir jernih dan berbatu-batu di sana tempat sekelompok anak tengah duduk-duduk santai. Sepertinya, mereka bukan sedang sengaja menikmati alam yang ada di hadapannya, tapi jelas alam itu bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Tampak mereka sedang berpikir-pikir sesuatu. Kesendirian anak di tengah alam lepas tanpa kehadiran dan campur tangan orang dewasa lagi-lagi memanggil lamunan saya akan masa kecil yang masih bebas bermain di luar rumah dan di tengah alam. Saya pun mengamini kalau anak masa kini tak mempunyai keistimewaan itu lagi. Setidaknya melalui ilustrasi ini anak-anak berkesadaran bahwa pada suatu masa pernah ada realitas seperti ini: anak-anak bebas dan merasa aman bermain sendiri di luar rumah dan menjalani kehidupan di tengah alam tanpa melulu dicampuri orang dewasa. 

Suasana dan situasi dalam ilustrasi buku ini juga mengingatkan pada kehidupan dan kebiasaan anak-anak desa. Sebabnya, anak kota hampir bisa dipastikan tak akan mengalami hal serupa. Alamnya saja semakin terganti beton. Pohonnya saja, kecuali ada di dalam halaman rumah, sudah menjadi perkara pemerintah berstatus pohon peneduh jalan raya. Melalui ilustrasi buku ini setidaknya anak terpapar dengan keindahan alam dengan suasana dan kondisi yang betul-betul masih alami.

Berlanjut pada teks cerita. Kalimat demi kalimat singkat di dalam tiap halamannya terasa lugas dan mengena langsung pada ide cerita. Narasi tidak tertele-tele sehingga pembaca dapat menikmati alur cerita dengan pertalian ide yang mengalir apa adanya. Ide tentang ‘menek wit jambu’ terasa kuat melingkupi keseluruhan cerita. Ditambah ilustrasi yang menghidupkan dan menguatkan cerita, tak terhindarkan untuk turut merasakan emosi yang hadir bersama cerita.

Pembaca ikut bingung bersama anak-anak yang kebingungan hendak memilih mau main apa di tengah alam dan ikut semangat ketika akhirnya mendapat akal hendak bermain apa dan lalu memutuskan akan memanjat pohon. Emosi pembaca pun semakin terbawa saat ternyata salah satu anak bernama Wiwit diceritakan tidak bisa memanjat pohon dan bingung setengah mati atas keputusan itu. Tapi, teman-temannya berjanji akan membantu Wiwit dan dia pun hanya bisa mengikut pasrah. Anak-anak dihadapkan pada pohon talok dan pohon jambu yang akrab dan mudah ditemui di keseharian mereka. Sampai akhirnya, mereka memilih memanjat pohon jambu, sebab pohon itu sedang berbuah masak dan ranum. Anak-anak terpikir memanjat sambil memetik dan menikmati buah-buahan sampai kenyang.

Kemudian sampailah pada bagian yang paling menegangkan sekaligus mengharukan. Rasa lucu dan kasihan bercampur satu saat mendapati Wiwit mencoba segala cara agar bisa memanjat pohon seperti kawan-kawannya, tapi ternyata semakin mencoba semakin tak sesenti pun kedua tapak kakinya beranjak dari tanah ke batang pohon. Proses Wiwit yang berusaha keras mencoba naik pohon dengan segala cara dan gaya tapi tak kunjung bisa tergambar secara memikat dalam dua halaman ilustrasi yang menjadi favorit saya dan anak-anak. Saya suka urutan ilustrasi yang menunjukkan proses Wiwit mencoba naik pohon sendiri, mulai dari mencoba mengangkat kaki, bergantungan dengan tangan, berpegangan dahan, memeluk pohon sampai seolah kehabisan akal, hingga akhirnya menyerah dan cuma bisa terduduk pasrah duduk di tanah bersandar batang pohon. Wiwit jengkel dengan ketidakbisaannya, tapi teman-teman menyemangati dan memutuskan turun tangan membantunya supaya bisa naik pohon. 

Anak-anak yang dibacakan sekaligus sambil melihat gambar cerita menjadi terpingkal-pingkal membayangkan usaha dan aksi Wiwit, lalu mendadak kasihan pula mendapati Wiwit yang akhirnya menyerah tertunduk lesu. Mereka pun makin penasaran dengan kelanjutan cerita berikutnya.

Teks yang terbilang hanya sebaris-sebaris tadi sangat terbantu dengan iringan ilustrasi yang menggugah imajinasi. Ilustrasi mengesankan lainnya adalah saat kawan-kawan Wiwit mencari akal untuk membantunya naik pohon. Bokong Wiwit didorong, tubuhnya digendong, contoh diperagakan, tapi tak juga bisa mengantar Wiwit ke atas pohon. Akhirnya, terpikir ide menolong Wiwit dengan menyambungkan tangan mereka sebagai pancatan supaya dapat membawa Wiwit lebih tinggi dan lebih mudah memanjat pohon. Luar biasa kapasitas mental anak-anak dalam menyelesaikan persoalannya sendiri secara bersama-sama. Bermain di alam secara tidak langsung telah mengasah kepekaan jiwa mereka terhadap kesulitan dan kepentingan sesamanya atas inisiatif sendiri. 

Saya sendiri turut bersukacita mengikuti proses yang penuh keseruan, kelucuan, keharuan, dan kegembiraan yang bercampur jadi satu itu. Langsung terbayang ingin turut merayakan keberhasilan bocah-bocah ini menemukan solusi dan berani menghadapi resiko tanpa sedikitpun atas perintah dan nasihat orang dewasa. Tapi, itu belum klimaks cerita. Puncak emosi pembaca semakin lengkap ketika mendapati wajah Wiwit yang sempat senang berhasil ke atas pohon, lalu berubah kalut hampir menangis karena tak bisa turun padahal semua kawannya sudah ada di bawah pohon.

Akhir kisah menceritakan Wiwit bagaikan orang kapok yang bergumam pada diri sendiri kalau lain kali dia tak mau memanjat pohon lagi: “Sésuk sésuk Wiwit wegah pènèkan mènèh.” Satu baris kalimat itu mengutuhkan keseluruhan isi cerita tentang realita keseruan memanjat pohon, yang tak hanya hadir dalam bentuk sukacita, melainkan sekaligus berikut duka citanya. 

Bagian akhir cerita mengesankan saya sebab berani keluar dari pakem kebanyakan buku cerita yang cenderung memaniskan kehidupan ke hadapan benak anak. Padahal, akhir cerita yang berniat menyuguhkan secara jujur apa adanya kehidupan justru akan menghantarkan anak merasakan kedalaman emosi dan jiwa yang tak melulu manis, seperti merasa kecewa, jengkel, takut, dan sedih. Dengan begini, anak-anak merasa terakui sebagai manusia seutuhnya yang juga berhak memiliki dan menyuarakan semua perasaan itu. Saya sendiri, sebagai orangtua, turut merasakan dunia kanak-kanak yang sesungguhnya hadir ke hadapan saya. Kanak-kanak dengan segala emosi yang cepat sekali berubah, namun juga cepat menyesuaikan diri dengan kehidupan.

Alih-alih seperti orangtua, yang cenderung langsung berempati pada tokoh Wiwit yang kesulitan turun setelah sebelumnya berhasil bersusah payah naik pohon, anak-anak yang dibacakan buku cerita ini malah terkekeh melihat kejadian Wiwit yang kehabisan akal bagaimana caranya turun dari panjatan pohon, sampai-sampai dia mengaku jera naik pohon lain kali. Reaksi berbeda itu wajar. Orangtua bukan anak-anak, anak-anak bukan orangtua. Keduanya mendapat kesan yang tidak sama sebab masing-masing membaca cerita dari kaca mata yang sama sekali tidak serupa. Orangtua memposisikan diri berperan sebagai adanya orang tua yang mendapati seorang anak kesulitan turun dari atas pohon, sehingga muncullah empati berujung hasrat kasihan segera ingin menolongnya turun. Sementara, anak-anak memandang kejadian itu dalam perspektif murni seorang anak pada sesamanya. 

Mari bayangkan jika kita anak, boleh Wiwit, teman Wiwit, atau diri sendiri ketika anak-anak dulunya, seperti apa jika anak yang tidak bisa turun sendiri setelah memanjat pohon itu adalah teman main kita? Reaksi pertama kita pasti merasa lucu dan tidak habis pikir mengapa dia tidak bisa mengusahakan diri turun, bukan? Kita tidak langsung merasa kasihan. Rasa kasihan dan tindakan menolong seperti reaksi awal orang tua bukan tak ada dalam kamus perasaan anak-anak, namun datangnya belakangan. Demikianlah anak-anak bersukacita merayakan kegembiraan memanjat pohon sekaligus memeluk duka citanya.

Kalau ada yang khawatir pembaca belia malah ikut merefleksikan perasaan kapok Wiwit pada dirinya, itu adalah ketakutan orang dewasa semata yang selalu menganggap pengalaman emosional anak sebagai realitas yang tetap dan bertahan demikian seterusnya. Padahal, anak-anak sendiri, bukankah mereka makhluk yang adaptif dan mumpuni dalam berpikir? Sering mendengar anak-anak emosional berkata: “Aku tidak sayang ibu.” Itu hanya karena sebal akan sesuatu. Tapi itu hanya ungkapan kekesalan, bukan perasaan murni dari sanubari. Ada masanya mereka sering berkata tidak mau ini dan itu, padahal setelah mencoba langsung malah tuman

Perkataan Wiwit yang menyatakan tidak mau lagi memanjat pohon lain kali adalah ungkapan kejengkelan, kekecewaan pada diri sendiri, kesedihan, dan ketakutannya saat itu, belum tentu betulan kapok terus kedepannya. Jiwa anak-anak yang membaca ikut mengalami perasaan tidak nyaman Wiwit, sekaligus juga turut memberi pengalaman berpikir lainnya seiring cerita itu. Tanpa harus mengalami sendiri terlebih dahulu, anak-anak dapat merasakan secara utuh apa dan bagaimana pengalaman memanjat pohon. Kesan personal itu akan memantik pengalaman berpikir anak untuk memperkaya wawasan dan perenungannya tentang diri sendiri dan kehidupan sekitarnya. 

Nyatanya, keseruan memanjat pohon memang bukan kenikmatan bersenang-senang bermain bersama teman di tengah-tengah alam semata, melainkan sekaligus juga susah-susahnya sehingga tidak selalu berakhir mulus, manis, dan bahagia. Ada kalanya terpeleset, tergores, mendadak dikerubungi serangga, celana robek, hampir terjatuh, bahkan jatuh betulan, dan sampai tidak bisa turun seperti Wiwit. Dengan begini, buku menghadirkan ide dan wawasan yang kaya tentang pengalaman memanjat pohon tanpa harus menggurui. Menjadi jujur dan tidak sok moralis akan mengasah akal anak untuk berpikir, menalar, mengenali hasrat dan kehendaknya sendiri terkait memanjat pohon. 

Untung akhir ceritanya tidak dibuat manis dengan kesimpulan moralis yang memaksa akal dan imajinasi anak bahwa memanjat pohon itu sesuatu yang selalu menyenangkan dan berakhir bahagia. Jika demikian, bayangkan betapa bahayanya omong kosong itu bagi akal budi anak. Alih-alih membuatnya berpikir dalam perspektif yang lebih luas, yang ada malah membuai dan mengelabui pikiran anak dalam kepicikan.

Memang khas buku bagus itu selalu menyediakan ruang yang luas untuk merenungkan ceritanya ke dalam diri dari berbagai sisi. Terlebih apabila buku tersebut juga berpihak menempatkan anak sebagai subjek yang seolah dapat turut mengalami secara langsung semua itu.

Komentar anak-anak setelah beberapa kali dibacakan buku ini justru mencengangkan. Begitu jauh dari persangkaan dan ketakutan orang tua yang akan membuat mereka ikut kapok memanjat pohon.

“Wiwit lucu, bisa naik, tapi gak bisa turun.”

“Aku dulu pernah kayak Wiwit, terus dibantu sama…”

“Aku gak mau kayak Wiwit. Kalau manjat pohon, aku pikir-pikir dulu yakin bisa turun apa nggak.”

“Kamu aja yang jadi Wiwit ya, nanti aku jadi temanmu yang bantuin Wiwit turun dari pohon.”

“Wiwit itu gak betulan kapok kok, itu karena lagi takut, nanti juga main lagi. Aku dulu pernah merasa kapok, tapi akhirnya main lagi dan bisa…

Jika anak sekarang hampir sulit bermain memanjat pohon di kehidupan nyata, setidaknya pengalaman itu masih dapat diperoleh lewat buku cerita anak masa kini. Jangan sampai cerita-cerita seperti ini hanya ada pada suatu masa yang dikisahkan dalam buku-buku cerita anak lawas.


Lyly Freshty, ibu suka menulis, tinggal di Surabaya 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s