Berjumpa Anak Bajang di Festival

Dian Vita Ellyati

PELUNCURAN susastra – entah dalam bentuk buku atau yang lain – memang selayaknya dirayakan, disyukuri. Apalagi untuk karya klasik yang sudah belasan kali dicetak. Kita sudah biasa menerima undangan terbuka untuk menghadiri acara-acara semacam ini. Meskipun demikian, perayaan ini biasanya justru tak terlalu menarik minat khalayak pembaca, selain dari kalangan penulisnya. Karena, bagi pembaca, lebih penting buru-buru menikmati isi bukunya dan menarik langsung kesan darinya, daripada menyimak komentar orang lain termasuk penulisnya sendiri. Saya salah satu di antara pembaca semacam ini. Sampai saya bertemu Si Anak Bajang.

Meskipun Anak Bajang Menggiring Angin Sindhunata sudah berumur 40 tahun, sejak kelahirannya sebagai cerita bersambung mingguan di Kompas sepanjang 1981 mulai 1 Februari hingga akhir tahun, saya baru membacanya sekitar lima tahun lalu. Mungkin karena pada periode gemar membaca susastra yang lalu, saya menemukan lebih banyak pilihan pada penulis lain, seperti Umar Kayam atau Y.B. Mangunwijaya. Atau ini sekadar ulah Sang Penjaga Waktu, sehingga saya baru diperjumpakan dengan cetakannya yang ke-10, ketika saya siap menerima tafsir liyan dari wiracarita Ramayana ini.

Cerita yang, bagi saya, berkesan, adalah yang membongkar ide mapan dalam pikiran saya, misalnya Pengakuan Pariyem Linus Suryadi atau trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari. Anak Bajang Menggiring Angin melakukan yang sama, terutama pada gagasan tentang relasi lelaki dan perempuan. Lebih-lebih lagi, penceritaan serta deskripsi latar suasana yang mengikuti gaya klasik susastra Jawa, berhasil memancing keluar kerinduan berat saya. Dibandingkan ulasan pembacanya, mulai dari lingkar goodreads Indonesia hingga yang ilmiah akademis di ruang-ruang kelas sastra, opini saya bagaikan sebutir debu kosmis. Singkatnya, saya kepincut, dan, seperti yang sudah-sudah, berburu karya-karya lain dari penulisnya, Sindhunata.

Keuntungan dari terlambat mengenal Anak Bajang adalah, tidak seperti pembaca setia cerbungnya puluhan tahun lalu, saya tak perlu lama menunggu untuk dapat menikmati kisah lain yang diangkat dari khazanah pewayangan oleh penulis yang sama ini. Seperti pengakuan sang kawi di kanal YouTube Harian Kompas 27 September 2021, naskah Anak Bajang Mengayun Bulan telah ia selesaikan dengan lancar. Kisah ini, menyusul pendahulunya, muncul sebagai cerita bersambung harian di Kompas sejak awal pekan lalu, berbarengan dengan peluncuran cetak ulang ke-12 Anak Bajang Menggiring Angin sejak yang pertama tahun 1983 silam.

Saya sudah mulai membaca Anak Bajang Mengayun Bulan di Kompas yang Sabtu ini memasuki episode ke-6 dengan menghadirkan kemesraan pasangan Begawan Swandagni dan Dewi Sokawati di Pertapaan Jatisrana. Kekuatan dan keindahan itu masih ada. Dengan karakter-karakter yang berbeda dari sebelumnya. Karena, sebagaimana penuturan penulisnya di saluran YouTube dimaksud, kali ini ceritanya lain, yaitu tentang perjalanan nasib sepasang saudara kembar yang berbeda perawakannya, Sumantri dan Sukrosono. Pemerhati kisah wayang – khususnya Sumantri Ngenger – akan dengan mudah menebak sosok Sukrosono-lah yang diacu sebagai anak bajang dalam kisah ini. Apakah Anak Bajang di sini serupa karakternya seperti diungkap sang kawi, yaitu figur tak sempurna yang selalu merindukan kesempurnaan sehingga pada setiap tutur dan laku menunjukkan hati yang tulus? Tentu kita mesti bersabar hingga akhir kisah yang rencananya akan mencapai 150 episode. Yang jelas, saya sudah siap dengan kejutan apa pun, seperti sudah saya temukan pada novel sebelumnya.

Pada suatu masa saya pernah masygul, mengapa di sini kisah-kisah sastrawi tidak bisa merasuk ke tengah budaya populer yang memeriahkan keseharian kita? Padahal dari plot dan karakter-karakter di dalamnya kita bisa belajar banyak, bahkan mungkin malah mengantisipasi kemalangan yang sebenarnya bisa dicegah dari pelajaran di situ. Saya kagum sekaligus iri saat menonton film-film Hollywood baik di layar lebar maupun televisi. Bagaimana tontonan yang ditujukan untuk awam bisa dengan fasihnya menyelipkan judul susastra atau nama-nama tokoh dalam susastra untuk memperkuat maksud percakapan yang, tentu saja, kontekstual. Bukan sekadar adegan sang tokoh cerita menenteng-nenteng buku sastra atau membacakan puisi secara dramatis, yang ternyata tidak terlalu mempengaruhi jalan ceritanya.

Ternyata, sebagai pembaca medioker, saya hanya keliru kubangan. Kemasygulan masa lalu itu goyah setelah beberapa saat saya mencebur ke tengah suasana Festival Anak Bajang di Omah Petroek pada Senin lalu. Menyusuri sebagian kompleks Museum Anak Bajang yang diresmikan pada hari yang sama, mulai dari Ashram Anak Bajang yang sesak dengan lukisan dan figur Anak Bajang, Sindhu Sekoel dengan koleksi buku dan majalahnya, lalu berfoto genit di antara patung Anak Bajang, dan menemukan becak Ningsih (dahulu Suningsih pada kover Cikar Bobrok) di ruang Insulinde, serta yang paripurna – setelah disambut seekor kupu-kupu kuning yang begitu saja melintas di hadapan saya saat sudah duduk manis – tersirep di depan sendratari tafsiran Bambang Paningron berupa adegan penting dari Anak Bajang Menggiring Angin dan Anak Bajang Mengayun Bulan. Tersadarlah saya. Apa namanya semua alih wahana ini kalau bukan perayaan sastra yang sepatut-patutnya?

Tentu setiap jenis kelompok masyarakat akan memaknai dan menafsir susastra yang hadir di tengah mereka, dengan cara masing-masing sesuai latar pengalaman dan pengetahuan kehidupannya sejauh ini. Mungkin kekhawatiran saya berlebihan. Nyatanya, festival yang diselenggarakan secara hibrid (daring dan luring terbatas) di tengah wabah ini hingga sekarang telah ditonton lebih dari sepuluh ribu kali, melalui berbagai kanal YouTube (KOMPASTV, Harian Kompas, Kompas.com, Jogja Archive, Sonora FM Bangka, hingga Tribun Papua).

Saya pun bisa pulang dengan perasaan ringan. Lega, menyaksikan sendiri bagaimana sastra dirayakan oleh berbagai kalangan, bagaimana susastra ditafsir oleh berbagai seniman, dan juga penasaran, bagaimana ini semua akan mengubah hidup kita…


Dian Vita Ellyati, peminat sastra, tinggal di Surabaya

One thought on “Berjumpa Anak Bajang di Festival

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s