Ibu, Buku, Anakku

Rebecca E Laiya

IBUKU memang tidak memberikan kisah indah ketika ia memperkenalkan aku dengan aksara. Dia cenderung otoriter mengajarku dalam membaca.  Namun, aku tetap percaya, beliaulah yang berkontribusi banyak menginspirasiku dalam membaca dan tentunya dalam menulis. Karena, sejak dulu ibuku memiliki banyak sekali buku. Dulu di rumah, ayah dan ibuku punya satu ruangan semacam perpustakaan pribadi yang isinya beraneka ragam buku. Diskusi-diskusi kami juga tak jauh dari masalah sosial dan budaya, terutama tentang kampung kami. Jadi, sejak kecil atmosfer untuk membaca sudah ada dalam diriku.

Ketika menjadi ibu, aku semakin memahami, mengapa ibu terkadang otoriter mengajariku, terutama ketika aku belajar membaca. Alasannya, menurutku, karena sejak kecil ibu sudah mengalami kehidupan yang keras. Ibuku terlahir sebagai putri bangsawan Pulau Nias, tapi bukan berarti ia hidup dalam kemewahan dan kenyamanan.  Sejak kecil, beliau sudah dilarang untuk bersekolah oleh nenekku. Tapi, ibuku adalah seorang yang keras kemauannya. Ia bersikeras untuk tetap sekolah walaupun pagi-pagi sebelum sekolah ia dan adik-adiknya perempuan harus mengerjakan pekerjaan rumah yang begitu berat. 

Usai  tamat SMP, kakekku ingin menikahkannya. Namun, ibuku nekat pergi ke Siantar, masuk ke sekolah menengah untuk pendidikan guru. Tentunya dengan ilmu negosiasi agar kakek dapat mengizinkannya merantau ke tanah seberang. Bahkan, pernikahannya sempat ditentang, walaupun kakek moyangku dari pihak ayahku dulu adalah panglima perang tapi posisi ayahku tidak setara dengan kebangsawanan ibuku. Selalu ada jalan keluar untuk orang berani seperti ibuku. Aksara yang diajarkan ibuku bukan melalui kata-kata tetapi melalui pengalaman-pengalaman hidup dalam dirinya. Jadi, aku percaya kisah otoriter masa lalu dari ibuku bagaimana ia mengajar aku membaca bukanlah hal yang disengaja, keadaanlah yang membentuknya. 

Aksara yang diajarkan ibuku bukan melalui kata-kata tetapi melalui pengalaman-pengalaman hidup dalam dirinya. Jadi, aku percaya kisah otoriter masa lalu dari ibuku bagaimana ia mengajar aku membaca bukanlah hal yang disengaja, keadaanlah yang membentuknya.

Hari ini aku juga adalah ibu. Aku akhirnya lulus mengajarkan anakku aksara ketika ia berusia 9 tahun. Pada saat 9 tahun untuk pendidikan formal adalah usia yang terlambat. Fakta tersebut tidak dapat aku setujui 100% karena mengutip dari tulisan Charlotte Masson: Children are born persons. Anak-anak adalah seorang pribadi. Pribadi yang unik yang tidak dapat disamakan dengan anak yang lain termasuk dalam kemampuan membaca anak. Untungnya, aku dan suami memilih jalur pendidikan informal untuk pendidikan anak kami.

Hal yang terpenting dalam memperkenalkan aksara kepada anak bukan kemampuan membacanya tetapi keinginan berelasi dengan pengetahuan dan ide yang ada dalam buku tersebut. Dengan kata lain agar ia mencintai buku. Charlotte Mason mengatakan: Education is the science of relations. Pendidikan adalah membangun relasi dengan pengetahuan dan ide, yang akhirnya dapat ia pergunakan untuk masa depannya.

Maka, langkah awal yang aku lakukan bukanlah mengajari anakku  langsung membaca tapi aku mengajaknya untuk membaca buku dengan cara aku membacakannya. Hasilnya kami tertawa, menangis, dan berdiskusi bersama-sama. Jatuh bangun memang kami lewati tapi aku tak kuatir. Yang terpenting ia menikmati setiap bacaan yang aku sengaja pilih isinya penuh dengan ide-ide hidup. 

Akhirnya, anakku fasih membaca, melalui berbagai cara dan gaya. Cara yang terakhir yang menurut aku paling jitu adalah ketika kami merutinkan kegiatan kami membaca kitab suci setiap malam. Ajaibnya tidak lama setelah itu ia mampu membaca. 

Aksara tidak selalu berbicara belajar membaca dan menulis secara harafiah. Namun, bisa saja  belajar aksara melalui pengalaman, cerita, atau membangun relasi yang dekat antara orang tua dan anak. 


Rebecca E Laiya, pengajar tinggal di Nias

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s