Roti: Kenikmatan dan Kesakralan

Indri K

PADA majalah Sedap edisi II/XVI, 2015, kita dapat membaca sebuah  artikel berjudul “Yuk, Membuat Roti Tawar Sendiri”. Berisi tips dan trik membuat roti tawar rumahan yang dibagikan oleh salah satu chef pastry hotel berbintang. Roti tawar itu barang lazim tersedia saat sarapan di hotel-hotel berbintang. Biasanya roti tawar ditata berdampingan dengan alat pemanggang roti dan aneka selai rasa. Agar tamu dapat memanggang rotinya sendiri lalu mengoleskan selai sesuai pilihan selera mereka. Sehingga, roti dapat dinikmati hangat-hangat, empuk saat digigit. 

Kalimat selanjutnya: “Roti tawar sudah menjadi salah satu makanan “wajib” yang selalu ada di rumah. Sungguh sangat beruntung jika Anda bisa membuatnya sendiri di rumah.” Roti buatan hotel tentu mahal harganya, wajar jika bisa membuat sendiri dapat disebut beruntung. Tapi, tetap saja perlu merogoh kocek untuk membeli bahan roti dan oven wajib dimiliki jika ingin membuat roti sendiri. Untuk membuat roti tawar yang baik dibutuhkan tepung terigu protein tinggi dan ragi yang masih aktif dan baik, supaya roti kokoh namun terasa lembut.  

Bagi ibu-ibu, roti tawar menjadi salah satu alternatif bekal tidak merepotkan. Tidak perlu bangun subuh untuk menanak nasi, menyiangi sayur dan memasak lauk. Cukup oles roti tawar dengan selai kesukaan anak maka tralalala.. jadilah roti rasa sebagai bekal kilat. Sebuah iklan satu halaman berwarna  dapat ditemukan di majalah Bobo, 11 Desember 2003. Iklan bukan mengenai roti melainkan selai. Sebagai model iklan, tampak seorang anak lelaki bertopi, membayangkan selai dan roti. Kata-kata menunjukkan bahwa si kecil itu tahu kalau selai dan roti memang tak terpisahkan. Saat menikmati keduanya hari-hari jadi lebih menyenangkan. Bagi anak-anak roti tawar itu hambar, kurang menggugah selera. Roti baru enak kalau diolesi selai, jadi ada rasa manis, gurih ataupun sedikit asam. 

Di iklan tertulis: “Di mana ada Morin, di situ ada Roti. Morin jodohnya Roti”.Pengiklan selai jelas sadar bahwa selai tidak mungkin dinikmati tanpa roti. Mereka wajib menghadirkan foto roti, walaupun rotinya bukan produksi mereka. Selai tersedia dalam tujuh rasa, stroberi, nanas, kaya, kacang, coklat kacang, jeruk dan buah campur  yang dapat dipilih sesuai selera penyantap roti. Mereka mengklaim jika semua rasa akan klop dengan roti. Dengan adanya varian rasa, si kecil diharap tidak bosan bila terus-terusan membawa bekal roti berselai. Cukup diselang-seling rasa tiap harinya sudah menjadikannya menu yang ‘berbeda’. 

Roti sudah mendatangi rumah-rumah dari dulu, lewat penjaja bersepeda membawa kotak terbuat dari seng, menggunakan suara musik seperti suara bel sebagai tetenger kehadirannya. Penjaja akan berhenti jika dipanggil oleh calon pembeli.  Selanjutnya penjaja roti akan membuka  kotak seng, di dalamnya berisi rak-rak bersusun ke atas dengan aneka roti di tiap rak. Selain roti tawar, biasanya ditemukan roti isi pisang, roti isi ayam, roti isi coklat dan roti isi keju. Itu jenis-jenis roti yang umum dijual pada masa itu. Kini kita menjumpai penjaja roti semakin beragam merk dan terdapat salah satu merk roti yang sudah menyebar secara nasional. 

Pabrik-pabrik rotinya didirikan di beberapa kota demi pendistribusian yang cepat dan merata ke banyak kota dan daerah.  Rotinya tidak dijual di toko khusus roti (bakery) melainkan dititipkan di semua minimarket yang menyebar di banyak wilayah. Gerobak rotinya berlagu khas,  dapat terdengar di jalan-jalan kampung di kota kecil.  Itu sebagai tanda, jika roti ini dikonsumsi oleh semua khalayak. Roti tidak hanya menjadi konsumsi kota namun juga sudah merebak menjadi konsumsi desa. Orang desa merasa modern jika turut menyantap roti. Makan telo atau tiwul itu sudah ketinggalan zaman meski gizi menang jauh dan lebih mudah ditumbuhkan. Roti semakin meng-Indonesia meski asal dan bahan baku pembuatan roti bukan asli Indonesia.  

Makan telo atau thiwul itu sudah ketinggalan zaman meski gizi menang jauh dan lebih mudah ditumbuhkan. Roti semakin meng-Indonesia meski asal dan bahan baku pembuatan roti bukan asli Indonesia.

Bangsa Indonesia mengenal roti tentu saja lewat  bangsa penjajah yang mengkonsumsi roti dalam hidup sehari-hari. Bangsa Belanda merupakan salah satu bangsa yang mempopulerkan roti pada rakyat pribumi di Hindia Belanda. Di negara asal, roti sangat mudah ditemui. Setiap keluarga selalu menghadirkan roti setiap hari.  Roti tidak hanya disantap dalam kondisi bersuka namun roti pernah menjadi salah satu makanan untuk bertahan hidup saat menghadapi Perang Dunia I. 

Hal ini yang pernah dialami oleh perempuan Belanda  yang bernama Siebrigje, sebelum dia melintas benua, demi berlaut ke Hindia untuk menjadi pendidik rakyat negeri jajahan. Saat itu, Siebrigje tentu saja belum menggunakan nama Siedjah, dia masih belajar di sekolah guru di Belanda: “Masa-masa sulit peperangan bukannya tidak terasa di sekolah guru. Pagi hari, kami mendapat semangkuk bubur dan dua atau tiga potong roti dengan sirop apel atau taburan cokelat. Untuk makan malam hari, selapis tipis keju atau sosis di atas roti. Makan siang kami dapatkan dari dapur umum. Jika kau bisa, bersama segerombolan gadis, kami akan pergi ke toko roti di Dorpsstraat untuk mendapatkan ransum tambahan” (Nico Vink, Siedjah Melintasi Tapal Batas Kepicikan Kolonial, 2020). 

Di masa peperangan, roti itu dibutuhkan untuk asupan tenaga. Di pagi, siang, dan malam, roti selalu tersaji. Bisa saja roti menjadi pilihan karena dapat disimpan, tidak cepat basi dan bisa dilahap saat bergegas. Berbeda dengan masakan-masakan berdaging ataupun bersayur. Setibanya di Nusantara, 1924, Siedjah tentu saja menemukan makanan-makanan yang asing baginya. Dia berkenalan dengan dodol Garut, daging pedis (pedas), kerupuk Sidoarjo, sarang burung, hingga nasi yang pulen terbuat dari beras Cianjur. Lidahnya belajar untuk menerima dan menikmati menu yang tidak lagi melulu roti. Lewat bangsa jajahan, terjadilah pertukaran selera menu makanan dan cara mengolah makanan. 

Roti yang kita kenal  sekarang sudah jauh berbeda dengan roti yang ada pada jaman dulu, saat masih era kolonialisme. Roti masih keras, bentuk sederhana, aromanya juga tidak harum. Rasa roti sekarang jelas lebih beragam dan lebih empuk. Pembuatannya juga jauh lebih praktis dan mudah berkat alat-alat elektronik yang diciptakan khusus dalam membantu pembuatan roti. Tercatat dalam buku Upa Boga (2003) di Indonesia yang ditulis oleh Suryatini N. Ganie, seorang cucu dari RA Kartini: “Roti beragi pertama dibuat secara kebetulan oleh orang-orang Mesir yang menggunakan ragi dari ampas anggur, kemudian diuleni dengan tepung terigu dan dijemur di bawah sinar matahari.”Roti di masa lalu dan masa sekarang membutuhkan ragi, tanpa adanya ragi, tidak dapat terjadi proses fermentasi, roti tidak akan mengembang. Roti tidak dapat disebut sebagai roti bila tanpa ragi. 

Dicatatkan dalam kitab suci, bahwa roti tak beragi wajib diadakan saat perayaan Paskah. Ragi disimbolkan sebagai dosa, pengaruh buruk juga kejelekan. Sedikit ragi akan mengkhamiri seluruh adonan, seperti halnya sedikit kejelekan dapat mencemari seluruh tubuh. Menyantap roti tak beragi itu rasanya keras, alot, dan seret, butuh air supaya roti bisa tertelan. Roti tak beragi memang bertujuan sakral, turut mengingatkan pada manusia kalau mau hidup lempeng dan benar itu butuh perjuangan. Tapi dasar manusia, tetap suka memilih yang enak-enak apalagi kalau roti itu beragi, nikmat memang. 


Indri K., Ibu suka membaca dan menulis di Jemaah Selasa, tinggal di Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s