Kotor, Bersih, Malas

Anggrahenny Putri

DAHULU, rumah ini dibeli oleh orangtua dengan cara mencicil. Setiap bulan, ibu atau bapak datang ke sebuah ke gedung bertingkat bernama depan bank. Aku mendengar cerita tentang antrean setiap awal bulan. Mengerti juga bunga pinjaman, setelah ibu atau bapak membayar cicilan. Rumah ini memang bukan rumah pertama kami, ini rumah ke-2 saat keluarga memutuskan untuk berpindah agar pengobatan ibu lebih dekat dan bapak tak perlu nglajo setiap hari untuk sampai ke kantor. 

Kini, rumah tertempati keluarga kecil, salah satu anaknya. Sudah sejak sepuluh tahun, rumah itu ditempati. Pelan-pelan rumah menua, lebih tua dari lelaki tertua di rumah ini. Berawal dari ternit rumah hampir jebol terpaksa harus dibongkar dan diperiksa kaki-kaki atap dan kayu usuknya. Ternyata, rayap penyebab ternit jebol, beberapa kaki-kaki atap dimakan makhluk kecil penyuka kayu. Keluarga kecil terpaksa menumpang pada satu kamar di rumah saudara karena kalah dengan debu serbuk kayu yang diasah atau debu rontokan ternit. 

Waktu berlalu, memasuki musim panas yang ekstrem, panasnya hingga orang yang jarang mandi menjadi suka mandi sebab saking gerahnya. Usia rumah kembali memerlukan perawatan. Lantai dapur mletek. Diperkirakan karena cuaca yang panas sekali pada siang dan dingin pada malam. Lantai pun ikut berontak ke atas. Mau tak mau, pemilik rumah harus memanggil tukang untuk memperbaiki lantai. Lantai dapur yang terpampang bak ombak lautan akibat keramiknya naik dicongkel oleh tukang dan keneknya. Hanya berapa sisi yang mletek namun semua sisi wilayah dapur harus diganti. 

Tak diragukan lagi rumah menjadi kotor dan berdebu. Duduk di atas lapisan debu walau baru saja dilap. Belum lagi, tukang bangunan yang seolah menyengajakan pekerjaannya makin lama. Padahal, seiisi rumah sudah berbedak debu. Rumah kotor memang telah diperkirakan sebelumnya, seluruh anggota telah bersiap. Kotor walau telah dipersiapkan nyatanya tetap menimbulkan perasaan tak nyaman. Berkhayal agar tukang bangunan mampu menyelesaikan pekerjaannya sehari semalam bak  cerita Roro Jonggrang. Tentu itu mustahil terjadi. Pasrah sambil berharap hasil terbaik pada lantai yang awet agar tak perlu mengalami kejadian kotor berdebu seperti ini lagi. 

Usai keramik terpasang dan tukang bangunan izin pamit. Menyelesaikan pembayaran sesegera mungkin. Pekerjaan berikutnya bukan tugas tukang lagi. Keluarga bergotong royong “menguras” rumah. Ya, rumah, tidak hanya bak mandi karena debunya memang sudah telanjur menyebar ke seluruh sudut rumah. Hari pertama membersihkan kamar, berlanjut ruangan-ruangan lain di hari berikutnya. Tak cukup sehari- dua hari, perlu tiga hari agar rumah kecil ini bersih. Semua perabot rumah tangga dicuci. 

Urusan mencuci piring dan gelas menggunakan Sunlight. Nyatanya, Sunlight juga diteteskan sedikit pada ember guna mengelap meja dan kursi. Sesuai tagline Sunlight saat beriklan di Kartini 30 Mei- 12 Juni 1988: “Bersih bersinar, bersih Sunlight.” Cairan pencuci tergunakan tak hanya untuk piring dan gelas, manfaatnya juga tepercaya untuk membersihkan benda-benda lain. Bersih telah menjadi idaman selama seminggu bagi keluarga yang tengah sesak nafasnya. Sejak tukang datang dan membongkar lantai, membersihkan rumah dengan air dan sabun rasanya bayangan terbaik. Kebersihan yang membuat nyenyak tidur dan makan. 

Kurang rasanya bila bungsu tak diminta ke warung untuk membeli cairan pencuci itu. Ibu meminta bungsu ke warung Bu Didik yang letaknya berbeda beberapa gang. Harga sabun di sana lebih murah seribu rupiah dibanding warung sebelah, lagi pula varian bau yang ibu sukai tak ada di warung tetangga sebelah. Begitu alasan ibu agar kembalian seribu itu dapat diberikan bungsunya sebagai upah membantu ibu. Kebersihan tak gratis! Kebersihan juga bukan hal mudah. Perlu koordinasi agar tenaga yang terpakai tak terbuang begitu saja, meninggalkan lelah. 

Kebersihan tak gratis! Kebersihan juga bukan hal mudah. Perlu koordinasi agar tenaga yang terpakai tak terbuang begitu saja, meninggalkan lelah.

Sehari-hari, kebersihan diusahakan melalui menyapu dan mengepel. Kebersihan yang mendalam hingga sela-sela dilakukan saat akan punya kerja atau rumah telajur porak-poranda karena kemalasan yang berkepanjangan. Jendela perlu dilap, begitu pula meja dan rak buku. mereka juga memerlukan perhatian khusus agar terawat. Jendela berdebu dan penuh jejak jari saat membuka jendela dipagi hari. Meja di lap agar semut tak mengerumuni bekas makanan terjatuh, rak buku perlu dibersihkan menggunakan bulu-bulu ayam agar debu tak bertumpuk dan rayap tak melakukan arisan di buku-buku kesayangan. 

Masalahnya, kebersihan berlawanan dengan kemalasan. Membiarkan begitu saja lebih mengirit tenaga dan tak keluar keringat. Pekerjaan sengaja ditunda. Berbagai alasan dibuat untuk menghalalkan kemalasan. Manusia coba-coba meniru Nabi berdoa agar terhindar dari kemalasan, lambat-lambat melantunkan doa yang berarti: “Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, dan aku berlindung kepada-Mu dari pikun dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pelit”. 

Kita perlu berlindung dari malas yang dapat menyia-nyiakan waktu luang dan kesehatan, lagi-lagi begitu Nabi menasehati umatnya. Hidup yang tak tahu sampai kapan ini terlalu sempit untuk mengisinya dengan hal-hal tak bermanfaat dan bermalas-malasan. Menunaikan kewajiban, menepati janji tanpa menunda. Seperti inisiatif yang tak perlu menunggu luang waktu karena alasan bisa membenarkan. Mulai nalar dan pikiran bekerja sama membenarkan kemalasan, mengesahkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaaan. Terasa pekerjaan menumpuk tapi mata segera menutup, telinga berubah tuli, badan merasa lelah tak kuasa bergerak, kemudian kesadaran seolah datang terlambat: ”Wah pekerjaanku banyak sekali! Mana sempat mengerjakan semua?” 

Menjadi rajin mudah bila tak memberi kesempatan masuknya malas. Terbiasa tak malas, terbiasa menunaikan sepenuh hati bukan malah sepenuh hati untuk malas.


Anggrahenny Putri, ibu menulis di Sarekat Jumat, tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s