Rupa, Raga, Batin

Maka terlihatlah Drupadi dan terdengarlah satu keluh panjang dari ribuan orang yang memadati alun-alun. Secantik-cantiknya putri itu dalam bayangan mereka, setelah melihatnya sendiri meski dari jarak yang jauh, ternyata Dewi Drupadi memang begitu rupa cantiknya sehingga kecantikannya tiadalah terkatakan lagi. Kecantikan macam apakah itu yang bisa melebihi kecantikan mimpi? Dari langit tujuh cahaya pelangi menyorot ke balik awan ke arah Dewi Drupadi. Matanya berkilat-kilat melebihi segenap kilatan perhiasan di sekujur tubuhnya, dan ketika ia tersenyum para ksatria seketika itu bagaikan langsung terjerat hatinya, membuat mereka untuk sesaat menjadi lemas tanpa daya–masih untung tiada yang lantas jatuh pingsan pula. (Seno Gumira Ajidarma, Drupadi, 2017)

PADA masa wabah, tempat-tempat terbuka relatif ramai dikunjungi orang. Selain untuk melepas penat adalah untuk berolah raga. Kegiatan dimaksudkan supaya sehat, tapi banyak juga punya maksud lain: menurunkan berat badan demi tubuh langsing. Walau tujuan juga dimiliki laki-laki, tapi dalam banyak obrolan maksud itu banyak dimiliki perempuan. Kemolekan raga dan kecantikan rupa tak dapat diingkari kerap jadi tujuan. 

Dari sekian banyak perempuan Nusantara, kita penasaran seberapa banyak menjadikan tokoh-tokoh pewayangan jadi acuan standar kecantikan, kemolekan, atau citra diri. Kita menikmati diksi-diksi dibuat oleh Seno Gumira Ajidarma untuk menggambarkan kecantikan paras Drupadi di tengah-tengah tragis jalan hidupnya. “Perempuan poliandris,” demikian sebut Seno. Satu perempuan yang dimenangkan Arjuna melalui sayembara memanah. Sayang, tak hanya Arjuna yang kelak menikahinya, tapi Arjuna beserta keempat saudaranya. Drupadi adalah perempuan bersuamikan lima ksatria Pandawa.

Gambaran kecantikan paras serta raga Drupadi tak luntur baik dan dalam diksi maupun ilustrasi dalam cerita walau berbagai macam peristiwa pahit menghampirinya. Walau hatinya sudah patah sejak ia tak bisa menikahi Arjuna seorang, apalagi ketika Arjuna menikahi Subadra. Yudhistira mempertaruhkannya di meja judi. Ia hidup di hutan selama 12 tahun dalam pembuangan. Ia mengeramasi rambutnya dengan darah Dursasana yang sudah melecehkannya. Anaknya semata wayang dalam cerita Drupadi versi Seno–yang ditulis berdasar beberapa sumber literatur–dibunuh oleh Aswatama (putra Dorna) secara licik. Drupadi tetap simbol kecantikan tiada tara. 

Dalam buku Kota-Kota di Djawa: Identitas, Gaya Hidup, dan Permasalahan Sosial (2010) kita menemukan penjelasan tentang berbagai citra perempuan. Penjelasan dari hasil penelitian Widya Fitrianingsih berjudul “Citra Perempuan dalam Pariwara di Hindia Belanda”. Citra peraduan terasa terhubung dengan Drupadi: “Citra peraduan adalah citra di mana perempuan ditonjolkan dalam aspek seks dan seksualitasnya.” Dalam kisah pewayangan tak terlalu banyak disinggung Drupadi dan urusan-urusan domestik. 

Gambaran kecantikan tiada tara dan yang berhubungan dengan kepahitan bisa jadi bukan acuan perempuan-perempuan Nusantara. Gambaran kecantikan dan citra perempuan di Nusantara mungkin lebih banyak terpengaruh iklan dan imajinasi kapitalisme. Kita tilik penjelasan tentang citra dalam buku yang sama: “Citra akan terbentuk bahakn bertahan jika disampaikan secara gencar. Citra akan melekat pada seseorang apabila gambaran tersebut secara terus-menerus ditampilkan, karena citra terbentuk dari opini yang berakar pada sikap dan pandangan publik.” Keinginan menjadi langsing, banyak bukan untuk tujuan kesehatan tak membuat kita heran, karena citra ini telah mengakar dari generasi ke generasi. 

Drupadi boleh dikatakan salah satu gambaran kecantikan Jawa, setidaknya dalam ilustrasi tergambar dalam Mahabharata karya R.A. Kosasih dan Drupadi gubahan Seno Gumira Ajidarma. Walau pinggangnya tidak lebar, Drupadi digambarkan memiliki payudara dan bokong yang montok, tidak seperti perempuan-perempuan mengikuti kontes pemilihan model America’s Next Top Model. Dalam kontes, kita melihat kebanyakan perempuan bertubuh langsing seperti papan setrikaan, dengan payudara relatif kecil, dengan garis-garis tulang belikat dan tulang rusuk yang lumayan tampak jelas. 

Widya Fitrianingsih juga menjelaskan sekelumit perkembangan definisi cantik dan mitos bagi perempuan: “Sejarah manusia mencatat, definisi cantik dan mitos bagi perempuan terus-menerus berubah, di Eropa/Barat pada abad pertengahan, kecantikan perempuan berkaitan derat dengan fertilitas dan kemampuan reproduksi. Kemudian pada abad ke-15 sampai ke-17, perempuan cantik dan seksi adalah mereka yang punya perut dan panggul yang besar serta dada yang montok, yakni bagian tubuh yang berkaitan dengan fungsi reproduksi, sedangkan pada awal abad ke-19 kecantikan didefinisikan dengan wajah dan bahu yang bundar serta tubuh yang montok.” 

Citra kecantikan dan perempuan dari masa ke masa sering membuat perempuan terjebak dan terperangkap. Seringnya memang sebagian besar perempuan terperangkap dalam citra dan mitos tersebut, serta hidup mengikutinya. Melakukan usaha-usaha yang sering melelahkan dan membuat tertekan untuk hidup sesuai citra kolektif tersebut. Kita menemukan satu buku aneh tulisan Putry Merdeka berjudul Ilmu Ketjantikan dan Kesehatan Sedjati (1961). Pada halaman-halaman awal ada tulisan tangan Soekarno: “Perempoean itoe tiang negara. Baik perempoean, baiklah Negara. Roesak perempuan, roesaklah Negara (Hadis Nabi)”. 

Dalam buku kita bisa melihat salah satu panduan cara hidup untuk diikuti perempuan. Mari kita serap petikan ini: “Selain daripada olah-raga sebagai tertera di atas, harus djuga dapat mengurangi makan, makanan jang menjebabkan badan semakin gemuk, sebagai minum susu, makan nasi, buah-buahan jang banjak airnja (mengandung air), kue-kue jang manis, atau makan jang mengandung gula, kembang gula, dan lain-lain harus dikurangi. Lebih-leibh es dengan air teh dan gula, akan mempertjepat tambahnja gemuk.” 

Perempuan disarankan tidak gemuk, demi kesehatan dan kecantikan. Didapat kesan cantik itu selalu berhubungan dengan langsing. Perempuan bisa terbelenggu dengan anggapan itu dan berusaha memenuhi lalu frustasi jika gagal, merasa tidak cantik, tidak layak bahkan tidak berguna. Sebaliknya, demikian juga anggapan khalayak ramai yang mempercayai citra sejenis.  Dalam keluarga-keluarga, anggapan itu bisa pula mendapat pembenaran akibat seri-seri drama ditonton, iklan-iklan atau acara-acara reality show yang lalu-lalang. Jika orang tua tak berhasil menemukan benang merahnya, bisa jadi anak-anak akan melalui lingkaran setan yang sama lalu hidup dengan cara serupa. 

Lalu kita boleh bertanya-tanya, bagaimanakah cara Drupadi merawat dirinya sehingga kecantikan raga dan parasnya bisa langgeng, sejak gadis hingga masa senjanya, menjelang perjalanannya mendaki Mahameru dalam Pandawa Seda? Akan tetapi alih-alih mendapat penjelasan tentang apa saja resep kecantikan Drupadi, kita justru disuguhi pergulatan batin Sang Putri, penderitaannya, dendamnya, serta pengakuan-pengakuan dirinya. Sejatinya, perempuan itu tak sekadar rupa atau raga, tapi jiwa dan batinnya.


Yulia Loekito, penulis dan pengoceh di Kaum Senin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s