Tak Sekadar Membaca

“Jadi menurutmu apa yang membuat seseorang bagus dalam membacakan sesuatu keras-keras, Jon?”  (Mikkel Birkegaard, Libri di Luca, 2008)

PERTANYAAN ini dilontarkan Iversen pada Jon pascakematian Luca, ayah Jon. Iversen adalah pengurus toko buku Libri di Luca milik ayah Jon. Menurut Roosie Setiawan yang dikenal sebagai aktivis read-aloud, metode membaca sesuatu keras-keras (baca: reading aloud) lebih tepat diterjemahkan dengan istilah “membaca nyaring”. Luca memang dikenal begitu piawai saat membacakan nyaring. Demikian pula Arman, kakek Jon. Memori Jon pun kembali ke masa kecilnya saat Iversen menanyainya tentang berbagai cerita yang telah didengarnya. Narasi lisan bermunculan dari bibir  Jon cilik dalam diskusi tentang karakter, latar belakang dan kisah dari buku-buku yang didengarnya itu. 

Kenangan masa kecil Jon saat dibacakan nyaring oleh Iversen juga bermunculan di benaknya: “Berbagai bayangan yang membangkitkan imajinasi muncul di atas kanvas di dalam dirinya persis seperti saat dia duduk di pangkuan Iversen di kursi kulit di Libri di Luca, mendengarkan berbagai cerita tentang koboi, kesatria, dan astronot. Saat menutup matanya dia hampir bisa mencium wangi toko buku antik dan mendengar keheningan yang dipancarkan hanya dari antara rak-rak buku toko tersebut.” Ada kenangan indah dalam memori masa kecil Jon bersama buku-buku. 

Kenikmatan dibacakan nyaring terekam dalam memori masa kecil dan menjadi benih cinta membaca saat dewasa. Bukankah manusia itu suka hal-hal yang menyenangkan? Manusia cenderung mengulangi kembali hal-hal yang memberikan kenikmatan (bpleasure-centered). Setiap kali kita membacakan nyaring buku pada anak, kita sedang mengirimkan pesan “kenikmatan” ke dalam otak anak. Anak mengasosiasikan buku-buku dengan kenikmatan. Metode membaca nyaring demikian sederhana, orangtua hanya membacakan minimal satu cerita per hari dengan intonasi yang tepat dan artikulasi yang jelas. Pemahaman cerita terbangun dan kosakata baru bertambah dalam benak anak. 

Metode membaca nyaring demikian sederhana, orangtua hanya membacakan minimal satu cerita per hari dengan intonasi yang tepat dan artikulasi yang jelas. Pemahaman cerita terbangun dan kosakata baru bertambah dalam benak anak.

Mengutip Jim Trelease dalam The Read-Aloud Handbook (2017): “… kata-kata adalah struktur utama pembelajaran. Hanya ada dua cara efisien memasukkan kata-kata dalam benak seseorang: melalui mata atau melalui telinga.” Itulah mengapa anak-anak usia dini biasanya sangat suka dibacakan cerita. Telinga menjadi pintu masuk ide-ide ke benak mereka. Kisah dongeng sebelum tidur menjadi momentum yang ditunggu-tunggu. Pikiran anak-anak yang lapar akan asupan ide terpuaskan sejenak saat dibacakan nyaring. 

Rupanya tak hanya kegiatan pemberian ASI eksklusif yang diakui memperkuat bonding ibu dan anak, namun lewat kegiatan membacakan nyaring pun kedekatan emosional termungkinkan pula terjalin. Fakta di lapangan, tidak semua ibu beroleh kesempatan memberikan ASI ekslusif bagi buah hatinya. Meskipun niat hati begitu kuat ingin memberikan nutrisi terbaik dan juga memperkuat bonding, tetap ada saja faktor-faktor eksternal yang menghalangi seorang ibu sukses menyusui buah hatinya sendiri. Namun untuk meluangkan waktu membacakan nyaring satu cerita setiap hari bagi buah hati, siapapun tentu bisa melakukannya! 

Iversen menjelaskan pada Jon tentang membacakan nyaring: “Saat kita membaca maka banyak bagian otak yang diaktifkan. Membaca adalah kombinasi dari mengenali simbol dan pola, menghubungkannya dengan suara dan mengumpulkannya menjadi suku kata sampai akhirnya kita mampu menginterpretasikan arti sebuah kata. Selain itu, kata itu harus diletakkan sesuai dengan konteks ia ditemukan, untuk menghasilkan arti…”

Para pembaca nyaring sesungguhnya sedang membukakan pintu kemelekan literasi bagi para pendengarnya. Dalam buku Para Ibu Yang Mengubah Dunia (2004), John Ruskin menyatakan bahwa segala kebajikan yang terkandung dalam karya-karyanya semuanya berkat masa kecilnya, di mana setiap hari ibunya selalu membacakan satu ayat Alkitab dan setiap hari ibunya mengharuskannya mempelajarinya dengan sepenuh hati. Suatu bukti betapa kegiatan membacakan nyaring yang konsisten bergitu berdampak!

Kembali kepada pertanyaan pemantik: Apa yang membuat seseorang bagus dalam membaca lantang? 

“Teknik bisa memberikan pengaruh tertentu,” ujar Iversen mengakui.  “Tetapi ini di balik penggunaan teknik. Kita bisa memengaruhi orang tanpa disadari oleh mereka, memengaruhi pandangan mereka akan tulisan, tema, atau hal lainnya,” lanjutnya. Iversen dan Luca memiliki kekuatan unik. Lector adalah sebutan untuk mereka yang berbakat khusus memancarkan ide-ide dan pengaruh dalam perkumpulan rahasia pecinta buku ini. Para Lector bisa mempengaruhi pikiran dan perasaan dari penikmat sebuah buku saat mereka membacakan nyaring. Semakin kuat kemampuan si Lector, semakin besar pengaruhnya saat membacakan nyaring. Kemampuan 

Lector hanyalah rekayasa fiktif dalam buku ini, namun pengaruh kuat sebuah tulisan adalah fakta. Napoleon Bonaparte menyadari kekuatan sebuah tulisan untuk menggerakkan hati manusia, ia menyatakan bahwa hanya ada dua kekuatan di dunia ini, yakni pedang dan pena; dan pada akhirnya yang terakhir ini akan menaklukkan yang terdahulu (Bob dan Rose Weiner, Lebih Tajam daripada Pedang-Kekuatan Pena, 1993). Namun, tulisan tanpa pembaca apalah artinya? Membacalah terus. Namun tak sekadar membaca. Tulisan butuh pembaca yang menikmatinya, mencerna ide-idenya sehingga pesan dari tulisan itu termiliki. 


Yunie Sutanto, ibu menulis di Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s