Kejantanan di Atas Roda

Eva Rini Tampubolo

ANAK laki-laki, meski tak semua, sejak kecil mulai menunjukan ketertarikan pada roda. Mereka bisa berlama-lama memelototi mobil yang sedang parkir, mobil yang lewat, membalikkan sepeda roda tiganya lalu memutar-mutar pedalnya hingga rodanya berputar kencang. Keseruan dengan roda terus berlanjut ketika mulai memakai sepeda roda dua. Tidak lagi mengamati roda tapi menikmati berada di atas roda yang sedang melaju. Adu kecepatan bersama teman menjadi kegiatan seru yang tak bosan-bosannya dilakukan setiap hari. 

Semakin bertambah usia roda semakin memikat terutama roda yang digerakkan mesin. Kecepatan kini tidak lagi tergantung pada gerakan kaki. Melesat di jalan hingga seratus lima puluh kilometer per jam membuat adrenalin seketika memenuhi darah. Hidup terasa menyenangkan. 

Rasa menyenangkan itu dialami juga oleh Mo Yan, seorang penulis peraih Nobel Sastra 2012, asal Cina. Dia menulis autobiografinya Di Bawah Bendera Merah (2013) dan mencatat: “Anak laki-laki memuja kecepatan. Jika kami mendengar suara mesin saat sedang makan, kami akan meletakkan mangkuk dan lari ke ujung jalan tepat pada waktunya untuk melihat ayah Lu Wenli melaju kencang dalam Gaz 51 miliknya.” Pada saat itu, mobil dan truk masih sangat jarang. Wajar jika mereka menganggap ayah Lu Wenli, sang sopir truk Gaz 51, adalah sosok terhormat ibarat seorang astronot di masa kini. Sampai-sampai setengah dari anak laki-laki di kelas Mo Yan bercita-cita ingin menjadi sopir truk. 

Mo Yan bahkan pernah nekat naik ke bumper truk saat truk itu berhenti. Lalu, tak lama truk itu melaju tanpa dia sadari. Seketika dia terjengkang ke jalan dengan hidung bengkak dan mulut berdarah. Rasa penasaran yang berujung pada kecelakaan. Hal yang paling memikat mereka dari truk tersebut adalah kemampuannya melaju kencang membuat debu dan ayam beterbangan dan anjing berlari masuk ketakutan. 

Zaman sekarang ini sudah jarang anak-anak punya cita-cita menjadi sopir apalagi sopir truk. Kita bisa melihat di arena permainan anak-anak. Ada tempat khusus yang anak-anak bisa menjadi dokter cilik, pilot cilik, dan insinyur cilik tapi tidak ada profesi sopir cilik. Sopir bukan profesi mentereng. Anak laki-laki tetap saja menyenangi roda dan kecepatan tapi kini pembalap yang sering tampil di layar kaca lebih patut diidolakan ketimbang sopir truk.

Sopir bukan profesi mentereng. Anak laki-laki tetap saja menyenangi roda dan kecepatan, tapi kini pembalap yang sering tampil di layar kaca lebih patut diidolakan ketimbang sopir truk.

Menjadi sopir truk memang bukan cita-cita banyak orang tapi tak terbantahkan kehadiran mereka sangat dibutuhkan. Pertukaran barang dari desa ke kota, dari pulau yang satu ke pulau yang lain bisa terjadi atas jasa mereka. Sopir truk lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan ketimbang di rumahnya sendiri. 

Kita bisa menyimak kehidupan sopir truk lewat novel Eka Kurniawan berjudul Seperti Dendam Rindu Harus Di Bayar Tuntas (2015). Eka Kurniawan mengisahkan perjalanan Ajo Kawir dalam menemukan kembali jati dirinya sebagai seorang pria. Seorang pria sejati sering digambarkan sebagai sosok yang bernyali besar, berani menantang bahaya sekalipun nyawa taruhannya. Nyali besar itu ditunjukan dengan keberanian salip-menyalip kendaraan di jalanan. Yang lebih kencang dialah yang terhebat. Sopir yang tidak berani menyalip dan selalu tertinggal jauh sering dianggap cemen. 

Gambaran pria sejati sering juga diidentikkan dengan kejantanan artinya kemampuannya menaklukkan para wanita. Bak-bak truk sering dilukis dengan gambar-gambar wanita berpose mesum dengan kalimat-kalimat menggoda membuat stigma bahwa kehidupan sopir truk lekat dengan wanita penghibur. 

Jauh sebelum menjadi sopir truk, Ajo Kawir sudah menyandang predikat sebagai pria pemberani. Dia dengan mudah meluapkan kemarahannya dengan pukulan, tendangan bahkan senjata tajam hingga membawanya terkurung di penjara. Namun, kesejatiannya sebagai lelaki belum lengkap karena kemaluannya tertidur akibat trauma di masa remaja. 

Dari luar Ajo Kawir tampak garang tapi terkait kejantanan dia ciut. Ajo Kawir menempuh jalan hidup sebagai sopir truk dengan harapan akan menemukan kedamaian atas persoalnya itu. Eka Kurniawan menulis: “Di jalanan, ia pikir bakal menemukan kedamaian. Ketenangan yang diberikan putaran roda, lanskap yang berlari di kiri dan di kanan, nyanyian angin. Ketenangan yang dikirim deru suara mesin aspal yang mengayun-ayunkan. Ia salah, tentu saja. Jalanan tidak akan memberinya kedamaian apapun.” 

Kedamaian memang akan sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk kenderaan dan kerasnya jalanan. Tapi, Ajo Kawir berlatih menciptakan kedamaiannya sendiri. Sopir truk yang lain biasanya mudah tersulut amarah dia belajar menahan diri. Dia mengemudikan truk dengan kecepatan stabil sekalipun ada truk lain mengajak bapalan. Ajo Kawir lelah hidup dalam kemarahan di masa lalu. Semakin Ajo Kawir mampu menahan amarahnya semakin dia bisa menerima kondisi kemaluannya. Dan justru di saat dia pasrah dan tidak lagi ngotot, dia mengalami mukjizat. 

Ajo Kawir lelah hidup dalam kemarahan di masa lalu. Semakin Ajo Kawir mampu menahan amarahnya, semakin ia bisa menerima kondisi kemaluannya. Dan justru di saat dia pasrah dan tidak lagi ngotot, dia mengalami mukjizat.

Seperti Ajo Kawir, sopir-sopir lain yang kesehariannya berada di atas putaran roda tentu memiliki berbagai macam persoalan hidup. Berbagai perasaan campur aduk tapi menangis bukanlah tindakan terpuji bagi seorang pria apalagi sopir. Menginjak gas dalam-dalam hingga melesat jauh diharapkan bisa mengusir berbagai kegalauan tersebut. Jalanan menjadi pertunjukan kegagahan para pria yang sering merasa kuat dan hebat. 


Eva Rini Tampubolon, ibu menulis di Komplotan Jumat, tinggal di Medan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s