Mereka yang Mendongeng

Dian Erika

ANAK itu menatap layar gawai, menyimak Youtube dan orang berjoget TikTok. Sementara, mata orang dewasa terpancang pada tayangan sinetron dan infotainment di televisi. Dulu, sebelum kenal televisi dan internet, orang-orang mendengar cerita para pendongeng. Orang-orang berbondong-bondong pergi menonton pagelaran wayang untuk mengikuti cerita dari dalang. Ada pula Pak Raden dengan Si Unyil-nya dan Ria Enes dengan boneka Susan-nya yang menawan anak-anak generasi 1990-an. Merekalah pendongeng legendaris Indonesia. 

Kisah pendongeng lainnya bisa kita simak dalam novel Harun dan Samudra Dongeng (2011) gubahan Salman Rushdie. Diceritakan, Rasyid, ayah Harun, bekerja sebagai pendongeng di Kota Alifbay yang sedih. Di kota Alifbay, orang-orang yang sedih mencari penghiburan dari dongeng. Mereka juga lebih percaya kata-kata Rasyid si Raja Omong Kosong daripada ucapan politikus. Rasyid pun laris jadi pendongeng pada kampanye-kampanye politikus dan dibayar besar untuk itu. Kejadian mirip di Indonesia masa Orde Baru. Saat dalang dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

 Terbaca dalam tulisan Melinda Agil Pangesti (2021), pagelaran wayang kulit digunakan sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan pembangunan dalam aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, pertahanan nasional, serta administrasi. Pada Pemilu pertama Orde Baru tahun 1971, profesi dalang dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan kampanye. Waktu itu lakonnya adalah Ringin Kencana atau Beringin Emas sebagai analogi pohon beringin lambang Golkar. Cerita wayang dikemas berisi program-program pemerintah secara vulgar dan dilebih-lebihkan. Sebagaimana diketahui, Golkar mendominasi kemenangan pada Pemilu tahun 1977 dan 1982. Kini dalang dan wayang tak lagi dipakai dalam kampanye politik, diganti goyang penyanyi dangdut.

Cerita wayang dikemas berisi program-program pemerintah secara vulgar dan dilebih-lebihkan. Sebagaimana diketahui, Golkar mendominasi kemenangan pada Pemilu 1977 dan 1982. Kini dalang dan wayang tak lagi dipakai dalam kampanye politik, diganti goyang penyanyi dangdut.

Kisah pendongeng sedikit berbeda dari cerita masa Orde Baru kita temukan dalam cerpen “Matinya Tukang Dongeng” gubahan Soni Farid Maulana (2020). Diceritakan bahwa di suatu negeri tidak ada lagi gelak tawa setelah tersiar kabar bahwa tukang dongeng telah mati. Tukang dongeng mati karena tidak boleh bicara. Yang didongengkan dianggap berbau SARA oleh para petinggi negeri. Salah satu tokoh, dalang wayang golek bernama Ki Asbun, ditangkap petugas keamanan karena menampilkan lakon bercerita kasus korupsi dan narkoba yang melibatkan petinggi kerajaan antah berantah. Isi cerita kebetulan sama dengan apa yang terjadi di negerinya. Dongengnya dianggap meresahkan dan menyinggung petinggi negeri sehingga ia ditangkap. Sejak itu negerinya sepi dari para pendongeng. Sebuah satire situasi politik yang dikemas apik dalam cerita pendek tentang pendongeng.

Dongeng memang dapat digunakan untuk menyampaikan apa saja. Semua terserah di tangan pendongeng. Dongeng anak-anak biasa terselip nilai-nilai yang ingin diajarkan. Dengan dongeng, belajar jadi menyenangkan. Anak-anak mengikuti cerita pendongeng dengan mata berbinar dan rasa penasaran, tanpa sadar bahwa mereka juga sedang belajar tentang kehidupan dari kisah-kisah yang mereka dengarkan. Seperti Samsudin, atau yang kerap disapa dengan nama panggung Paman Sam, seorang pendongeng Indonesia. Ia menjadi pendongeng yang mengkhusukan diri mengangkat tema konservasi dalam dongeng-dongengnya. Paman Sam ingin memberikan pencerahan tentang kondisi hutan dan satwa di Indonesia, yang sesuai dengan realitas dan berdasarkan kaidah keilmuan bukan hanya cerita fiksi. Berharap dengan anak menangkap pesan yang disampaikan, mereka memiliki kesadaran menjaga alam sejak dini. Sebuah harapan mulia yang harus bersaing dengan tayangan “merusak” yang bertebaran di mana-mana.

Sekarang, orang-orang bekerja sebagai pendongeng jarang dijumpai. Mereka masih ada, tapi kurang mendapat tempat di media dan televisi mainstream. Di kehidupan modern, orang memilih menyimak “dongeng” dari vlogger dan youtuber. Mereka tenggelam dalam cerita pameran kemewahan. Berandai-andai kehidupan sultan asyik sekali. Ada pula cerita si miskin dan sultan. Sultan yang dermawan berpura-pura jadi orang biasa, membantu si miskin terekam dalam video mendapat puja-puji penonton. Orang terpaku pada video Youtube lupa waktu, tak sadar waktunya telah dibuang untuk menambah pundi-pundi kekayaan para sultan junjungan sementara kehidupan mereka tetap begitu-begitu saja.


Dian Erika, penulis tinggal di Magetan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s