Otak!

Debora Silaban

BEBERAPA waktu lalu, saya menonton sebuah cuplikan dari Youtube: terdapat situasi seorang anak kecil yang sedang menangis dan memarahi otaknya. Sebab, ia tidak bisa melakukan apa yang baik sesuai arahan orangtuanya. Dalam video, ibu dari anak tersebut juga menanyakan: siapa yang salah atas kelalaian yang dilakukan anaknya. Si anak sambil masih tersedu-sedu menjawab: “Otakku ini yang salah, Mak. Otakku ini, salahkan Mak!” Seperti sengaja, si ibu kembali menanyakan hal yang sama. Si anak terus mengucapkan hal yang sama pula. Otaknyalah yang salah!

Banyak orang memberikan tanggapan dengan emoticon tertawa terbahak-bahak maupun komentar, yang intinya menertawakan si anak dan menganggap tontonan tersebut sangat lucu. 

Tidak ada yang salah jika kita tertawa menanggapi video tersebut. Adegannya sangat lucu. Jarang sekali anak menyadari bahwa kesalahan dari sikap impulsif berasal dari otak yang memang belum dewasa. Mudah-mudahan para komentator dan semua yang memberikan respons atas video itu menyadari: kita sering tidak tahu, bagaimana cara mengetahui dan mengantisipasi otak yang menghasilkan reaksi impulsif dan negatif. 

Hal ini sangat ilmiah dan harus kita ketahui. Maksudnya agar orang yang usianya sudah dewasa tidak berperilaku sama seperti anak tersebut. Kita biasa menangisi kesalahan yang sudah kita perbuat karena gagal mengendalikan diri. Gagal memakai otak dengan sebaik-baiknya. Lalu, bagaimana cara kita memakai otak? 

Sebelum kita tahu cara memakai otak, lebih baik bagi kita untuk tahu lebih dahulu bagaimana cara otak kita bekerja. Saya tidak benar-benar hafal seluruh bagian-bagian otak secara keseluruhan. Namun, ada satu sistem dalam bagian otak yang sangat penting untuk kita pahami: fungsi dan pengaruhnya bagi cara kita merespons sesuatu. 

Yang pertama yaitu amygdala. Ini merupakan bagian dari otak yang berbentuk seperti kacang mete kembar di dalam otak  dan bertanggung jawab untuk mengidentifikasi serangan atau ancaman yang membahayakan kita. Amygdala-lah yang bisa melacak kemunculan amarah atau emosi kuat lain seperti rasa takut atau gelisah. Begitu mendapat sinyal, amygdala bertindak mirip seperti alarm yang kuat dan memberikan kita pilihan fight or flight. Biasanya ditandai dengan reaksi tubuh seperti otot menegang, dada terasa sesak/panas berdegup kencang kemudian kuping memerah. Bahkan, bisa juga tekanan darah meningkat. Energi kita meningkat dalam waktu singkat sehingga sangat mudah mempersempit target dan melampiaskan kemarahan sebelum kita sempat menyadarinya.

Mengapa kita sering abai atau kelepasan emosi? Sebab, kita kurang memahami bagaimana amygdala bekerja. Kita sering terlambat menyadari karena memang frontal lobe (bagian otak depan) bekerja lebih lambat dibanding amygdala. Frontal lobe adalah bagian lain dari otak kita yang bertanggung jawab untuk pemikiran dan penilaian. Yang bisa menaksir, apakah tindakan kita benar atau salah, masuk akal atau tidak. 

Jika kita menyadari realitas bagaimana kerja otak yang mempengaruhi emosi ini bekerja, tentu bisa menghindari kesalahan yang kita lakukan selama ini. Kita sudah tahu bahwa otak depan diciptakan lebih lambat merespons dibanding amygdala. Maka, kita perlu melatih frontal lobe untuk selalu aktif, sebelum amygdala menyala. Bagaimana caranya?

Pengetahuan tentang bagaimana otak kita bekerja tidaklah cukup, kita juga harus tahu bagaimana cara mengisi otak kita dan anggota tubuh kita yang digerakkan olehnya dengan latihan-latihan serta asupan yang bergizi. Kita juga harus bisa mengenali reaksi-reaksi dari tubuh ketika amygdala mulai menyala. Kita butuh menamai emosi-emosi tersebut. Sebab, kita dapat mengenali emosi-emosi tersebut hanya dengan menamai mereka. Kemudian memutuskan langkah terbaik yang harus kita latihkan setiap kali amygdala menyala. 

Kalau saya pribadi biasanya menarik nafas panjang atau relaksasi nafas terlebih dahulu. Selama relaksasi nafas, amygdala yang tadinya menyala perlahan menjadi redup dan otak depan pun dapat fokus bekerja memberikan kita pertimbangan lebih arif tentang apa reaksi terbaik atas sinyal tak menyenangkan sekalipun.

Kemudian melatihkan otak frontal lobe untuk aktif mempertanyakan kebenaran akan sinyal tersebut. Dan, menggali blind spot yang kita tidak terima saat fakta yang menimbulkan emosi yang sudah kita namai tadi muncul dapat membantu kita memutuskan sikap (reaksi) terbaik yang tak akan kita sesali di masa yang akan datang. 

Kita juga butuh menjaga fisik (stamina) kita tetap prima untuk siap menerima dan mengenali sinyal-sinyal yang masuk. Jika tubuh sedang tidak fit, pikiran kita sedang banyak dibebani oleh hal-hal yang cukup berat, bagaimana mungkin kita sanggup menjaga otak frontal tetap terjaga dan mengaplikasikan apa yang sudah kita pelajari?

Kita sangat perlu menjaga kesehatan fisik dengan tidur yang cukup, berolahraga dan menjaga makanan yang kita konsumsi setiap hari. Ditambah, relaksasi nafas minimal 10 menit sehari untuk membiasakan kita merespons dengan tarikan nafas terlebih dahulu. Ibarat tentara yang mau berperang, kita perlu latihan sebelum perang akan terjadi? Begitupun tubuh kita, perlu latihan rutin untuk membiasakannya tetap prima sebelum serangan terjadi. 

Apakah ini mudah? Tentunya sulit karena perilaku negatif kita sudah terbentuk bertahun-tahun lamanya. Pola hidup kita yang mungkin tidak sehat sudah sejak lahir kita lakukan. Namun, cara kita merespons  dengan pakai otak ini akan menjadi mudah jika kita terbiasa melakukannya. Saya mencobanya dengan melakukan Habit Training selama minimal 1 bulan, baru terasa agak mudah untuk dilakukan. Ya, agak mudah. Meskipun masih terus jatuh bangun, namun menyadari bahwa kita pernah (sudah) jatuh dan harus bangun lagi saat sudah terjatuh adalah bagian dari upaya kita memperbaiki diri dan mengurangi penyesalan tiada guna pada hari yang akan datang. Saya percaya suatu saat nanti kebiasaan ini akan menjadi sangat mudah dan tanpa sadar merasuk menjadi identitas saya.

Pada dasarnya, setiap penyesalan tidak akan berguna jika kita hanya memikirkannya. Tapi, berupayalah mengubahnya menjadi rasa syukur. Dengan usaha dan kerja keras kita, saya yakin latihan-latihan yang kita lakukan akan berdampak .


Debora Silaban, ibu ingin membuku di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s