Perempuan!

NA Kalisa

Perempuan itu seperti kantong teh,

Anda tidak akan tahu seberapa kuat dia 

Sampai anda memasukkannya ke dalam air panas.

(Eleanor Roosevelt) 

PETANG. Udara sejuk mulai membelai kulit keringku yang jarang diolesi pelembab hasil campuran pemutih masa kini. Cahaya temaram dari bohlam perlahan meredup karena umurnya sudah meminta untuk diganti dengan yang baru. Kamar persegi empat, ukuran tiga kali tiga menjadi duniaku saat ini. Di mana keluar rumah adalah hal paling bodoh dan menakutkan buat lingkunganku. Segala-galanya harus dikerjakan di rumah.

Perempuan dengan rutinitas padatnya mencuri perhatianku selama aku di rumahkan. Sebut saja dia adalah malaikat. Sebelum kokok ayam bersahut-sahutan, ia telah lebih dulu bangun untuk menanak nasi dan segala lauk pauk yang kemungkinan besar akan menjadi santapan pagi bagi seluruh penghuni rumah. Wah! Kedengarannya sangat syahdu. 

Berpagi ria merupakan hal yang sangat melekat pada dirinya. Sebut saja menyiram tanaman dan menyapu halaman. Jalanan depan rumah tempat orang berlalu lalang menjadi bersih kinclong karena lidi-lidi yang begitu manut kepadanya. Sungguh, aku tidak mampu berkata apa-apa lagi dengan caranya menikmati masa pandemi.

Teras berdaun hijau, ditata sedemikian rupa agar terlihat anggun bak tanam di istana dongeng milik Barbie. Aku diam-diam memperhatikan tangan-tangan lentik tersebut berkebun. 

Pandemi membuat perempuan banyak diam di rumah. Bagi perempuan pekerja, hal ini merupakan hal yang sangat berat. Dengan rutinitas yang sibuknya minta ampun, tiba-tiba beralih kepada hal-hal yang penuh dengan leha-leha hingga berujung rebahan. Duh! Ingin itu-ini tidak boleh. Badan membesar akibat pola hidup kebanyakan di kasur dan di dapur. 

Taman-taman ditutup rapat, lantas harus berolahraga di mana? Lagi-lagi, tutorial olahraga sambil tiduran banyak berseliweran di kanal-kanal Youtube dan Instagram. Aku salah satu pengikutnya. Angkat kaki ke atas dan dirapatkan ke dinding kamar dengan durasi setengah jam. Yakin akan membuat tubuh langsing kembali. Hingga kini, badanku masih kurang kecil.

Rumah. Teras merupakan wajah dari sang pemilik hunian. Maka, tidaklah tabu jika didandani dengan berbagai macam tanaman hias yang semakin bervariasi. Perempuan yang kusebut malaikat tadi memiliki hati yang lapang karena tidak pernah sedikit pun merasa bosan dengan kegiatan yang monoton. Misal, mengurus tanaman, memasak, dan pekerjaan rumah lainnya. Dugaanku dia mengenal dirinya dengan sangat baik sehingga selalu dalam keadaan sadar dalam bertutur maupun bertindak. Taman ditutup, teras rumah pun dipindah alihkan menjadi taman mini. 

Perempuan yang kusebut malaikat tadi memiliki hati yang lapang karena tidak pernah sedikit pun merasa bosan dengan kegiatan yang monoton.

Setelah teras, aku akan membawamu berkunjung ke dapur. Tempat untuk segala macam rasa berjumpa dan berlibur untuk saling menghibur.

Aroma pedas menyeruak hingga bersin tidak mampu tertahan olehku. Penyatuan tomat dan cabe bukanlah hal baru. Setiap hari mereka akan dipertemukan oleh nona penguasa dapur. Bawang merah, bawang putih, jahe, merica, pala, kemiri, asam jawa, daun salam, daun jeruk, cabe kecil, tomat dan serai merupakan penghuni tetap rak-rak yang digantung di dinding bercat putih. Maklum saja pemilik dapur pengemar berat kebersihan.

Piring-piring keramik putih tersusun rapi seolah pasukan pengibar bendera saat peringatan tujuh belas Agustus. Berjejer sesuai tinggi, menawarkan panorama luar biasa indah. Cangkir-cangkir dipasangkan bersama piring alas kecil berwarna putih polos siap berpose dan dipotret bak putri ratu di lemari etalase. Sendok-sendok disimpan rapi mendongkak ke atas dalam sebuah wadah berwarna keemasan yang terbuat dari keramik. Perabotan dapur sebagian besar merupakan hadiah, pemberian dari kerabat tercinta yang mencintai pemilik dapur.

Panci dan kuali. Bergantungan memenuhi dinding-dinding tepat di depan pencucian piring. Penataannya naik-turun hingga terlihat seperti monitor ruang ICU. Begitulah rupa dapur yang dijuluki jantung bagi penghuni rumah.

Kompor mata dua menjadi bukti cinta perempuan kepada keluarganya. Hasil potongan tempe yang dioseng dengan bumbu yang sama hampir di setiap harinya menjadi lezat tiada tara setelah dipanaskan di atas mata-mata berapi biru yang sudah mulai berkeriput. Olahan tempe yang berbahan bumbu dasar bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe kecil, sedikit merica, ketumbar dan gula aren merupakan resep paten miliknya selama berhadapan dengan kacang kedelai dan hasil akhirnya jelas enak. Begitu pun dengan sambal ulek yang tidak pernah bolos di piring keramiknya.

Pandemi menuntut semua orang untuk diam di rumah. Hal ini dibantu oleh pusat telekomunikasi hingga menghadirkan kuota-kuota internet yang murah meriah dalam menemani masyarakat agar tetap betah di rumah. Dunia pendidikan pun menerima putusan dirumahkan dengan tangan terbuka. Pemerintah dan pemilik kuota bekerjasama dalam memudahkan akses pendidikan. Anak sekolah dari rumah. Sejujurnya ini adalah hal yang menarik, ada orang tua yang langsung melihat pertumbuhan anak-anaknya sekaligus berperan mendidiknya yang memang sudah sejak dalam kandungan merupakan tanggung jawabnya.

Ibu-ibu dibuat pusing karena aktif mendampingi anak-anaknya dalam belajar online dengan segunung tugas, yang selalu diberikan diakhir materi dan akan dikumpulkan keesokan harinya sebelum masuk materi baru. Banyak yang langsung mengerjakan tugas tersebut karena tidak mampu menjelaskan dengan sederhana jawaban yang dibutuhkan oleh soal-soal yang diberikan oleh guru. Semoga orang tua sadar betapa seorang guru adalah pahlawan yang kiranya tidak wajar jika mereka hilang hormat kepadanya para guru. 

Guru. Bahan ajar dan mengajar beralih ke teknologi, laptop dan wifi adalah fasilitas wajib sebelum memulai mendidik, sedikit kewalahan butuh waktu yang lumayan banyak dan usaha yang keras untuk bisa tetap melanjutkan proses mendidik agar kiranya sampai kepada anak didiknya. Dunia sangat mendesak perubahan cepat seperti gaya jalan orang-orang di Jepang. 

Perempuan dan keuletannya membuat mereka menjadi mudah sekali maju. Dengan teknologi, rebahan dan dapur, mereka tiba-tiba menjelma menjadi penjual sambal online, penjual minuman online, penjual tanaman online. Kini, jualan bisa tersalurkan ke mana pun tanpa adanya gerai. Semua itu ulah dari otak dan hati perempuan yang sangat maju. Pandemi bukan akhir justru awal dari permulaan. 

Perempuan bertumbuh dengan kuat di masa dunia mulai goyang. Mereka menunjukkan bahwa mereka layak memiliki rahim. Tuhan memilih tempat yang kokoh dan tepat untuk menjadi bumi penghidupan dan kehidupan.  


NA Kalisa, Sulawesi Selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s