Thung, Thung, Thung!

Setyaningsih

“Tuuuut!” panggilan menyapa kuping. 

Eh, ini bukan suara kereta api apalagi suara kentut dengan pelbagai variasinya. 

Reaksi tercepat dilakukan oleh mulut dan kaki, “Tumbas!”

Ini juga berlaku pada panggilan-panggilan suara suci lainnya, lebih suci dari azan bahkan. 

Ada suara “thung, thung”, “ting, ting”, “kricik-kricik”, “toet-toet,”atau “toelit-toelit”. 

Suara-suara dari pada penjual jajanan keliling meramaikan jalanan kampung, hari-hari bocah, dan kelak mengisi kenangan saat telah dewasa.

Dari suara saja, bocah pasti tahu siapa yang tiba: penjual puthu ayu, salome alias bakso ojek, es potong, es thung-thung (dung-dung), ataupun sate. Rasa bukan segalanya. Suara, gaya berjualan, ornamen gerobak, dan aroma hadir sebelum rasa. Masa kecilku dan adik sering memenuhi panggilan “toelit-toelit” salome Mas Ijo. Kami menyebutnya begitu karena gerobak jualan bewarna hijau. Sekarang, sekalipun Mas Ijo tidak lagi bersepeda dan warna gerobak berubah merah, kami tetap menjulukinya Mas Ijo. Penampakan awal tetap monumental bagi kami.

Ada lagi salome Pak Caping yang lewat setiap pukul 4 sore. Ia bercaping dan naik pit kebo. Kami tidak perlu melihat jam untuk memastikan kemunculan Pak Caping. Selain suara tentunya, Pak Caping tiba bertepatan dengan waktu mbakku menyapu halaman. Sore sering menggembirakan—sudah mandi dan melahap setiap tusuk salome. Kalau diingat-ingat, kami termotivasi mandi sore demi salome Pak Caping. He he he. Sampai aku duduk SMA, Pak Caping masih berjualan dengan gaya khas meski rutenya berubah. Apalagi, jalan di depan rumahku sudah buntu karena keajaiban tol Jokowi.    

Majalah Bobo, 19 Oktober 2000, memuat tulisan dua halaman berjudul  “Menyapa Para Pedagang”. Meski rubrik jelas bernama “Liputan”, Bobo tidak menggunakan gaya tulisan informatif. Kali ini, Bobo mendeklamasikan puisi untuk para penjual jajanan keliling: pembuat gulali, tukang es jepit, abang tahu gejrot, mbak jamu, penjual arum manis, pemanggul nira. Cerap puisi “Srok Srok Es Jepit” berikut ini: Srok…srok…srok!/ Begitu bunyi es batu diserut/ Plak…plak…plak!/ Dijepit keras-keras/ Srut…srut…srut!/ Jangan lupa diberi sirup/ Kring…kring…kring!/ Es jepites jepit/ Dijual di depan sekolah. Melalui foto, terlihat tukang es jepit menuang sirup pada es. Serutan es putih menjadi merah terang. 

Di antara penjual jajanan keliling, topi dan handuk yang terlihat menyamakan. Topi melindungi dari matahari. Handuk untuk mengelap keringat. Dua perangkat tampak mengidentitasi pekerjaan di wilayah tropis. Di antara banyak penjual, Bobo memang tidak menampilkan penanda wilayah, entah asal makanan ataupun domisili penjual jajanan keliling yang diliput, kecuali penjual tahu gejrot (Cirebon). Dari wilayah ke wilayah di Indonesia, pasti memiliki jajanan yang mirip dengan cara pembuatan, rasa, dan cara berjualan masing-masing. Begini puisi “Ting Ting Tahu Gejrot”: Pukul dua pagi si Abang membeli tahu/ Khusus tahu dari Cirebon/ Pukul enam pagi si Abang menggoreng tahu/ Ting…ting…ting…!/ Bunyi botol dipukul paku keliling kampung/ Jrot…jrot…jrot!/ Bunyi kuah disiram di cobek tahu.

Penjual jajanan keliling adalah pekerjaan cukup tua di Indonesia. Di awal abad ke-20, para penjual turut membentuk rutinitas sehari-hari—berjalan seiring (manusia) desa dan kota bertumbuh dan berubah. Olivier Johannes Raap menampilkan narasi sekaligus visual pekerjaan ini melalui kartu pos di buku Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe (2013). Kartu pos bertanda 1907 terbitan Tio Tek Hong, Weltevreden, misalnya menampilkan seorang bocah (mungkin juga remaja) penjual tuak: “Ia membawa ember kecil dan sebuah bambu berukuran cukup besar yang berisi tuak. Di dalam bambu tersebut diberi beberapa lembar daun pisang supaya tuak tidak terkocok.” Tuaaaak…tuaaaak!     

Pembawa pikulan yang menjual dawet, buah-buahan, tebu, jagung bakar, daging babi, ikan, ataupun rujak pasti memiliki bahu sekuat Samson. Mereka pun laki-laki—membawa pikulan berkeliling menyusuri jalan dan bergerak dari rumah ke rumah. Perempuan yang kuat adalah penjual pecel semanggi yang menggendong tumbu besar—kartu pos bertanda 1907, terbitan H. van Ingen, Surabaya.

Para penjual jajanan keliling pahlawan yang berjasa—penentu kebahagiaan anak kecil dan anak besar dengan segala konsekuensinya. 

Thung, thung, thung

Siapa itu yang lewat?


Setyaningsih, kritikus sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s