Bertumbuh dan Buku Terbaca

Rachmawati

SAAT membuka Youtube, ada notifikasi di beranda tentang vlog terbaru salah satu vlogger yang sering mengulas barang-barang mewah. Kali ini vlog-nya adalah mendekor kamar anak. Anak pertama sang vlogger baru berusia lima tahun. Anak keduanya berusia dua tahun. 

Duh, mata saya benar-benar terbelalak dibuatnya. Bagaimana tidak? Ada ratusan mainan mobil-mobilan yang disediakan untuk anaknya. Lalu, ada lebih dari seratus boneka Barbie untuk anak perempuannya. Bahkan, vlogger tersebut mengatakan bahwa dia sengaja membelikan banyak mainan karena anaknya suka banget dengan mainan. Setiap ke mal, pasti anaknya minta mainan. 

Ada mobil-mobilan sejenis “hotwils”. Anaknya suka banget! Vlogger tersebut membelikan lima puluh jenis mainan dengan  model yang sama, hanya warna yang berbeda. Begitu juga dengan anak perempuannya. Dia suka banget dengan boneka Barbie. Hampir semua jenis Barbie dia punya, bahkan ada  yang kembar. Dalam vlog ditunjukkan ada sebuah rak. Seharusnya rak itu buat buku, tapi karena mainan mereka sudah banyak banget yang tidak muat lagi di rak mainan, jadilah rak bukunya beralih jadi rak mainan. Yah, begitulah yang diucapkan vlogger sambil tangannya menyusun berbagai mainan di rak.

Mainan memang penting untuk anak. Namun, jika itu sudah sangat berlebihan hanya akan membuat fokus anak kepada sesuatu sangat pendek, hingga mudah bosan. Sebab, waktu membangun relasi antara mainan satu dan mainan lainnya sangat singkat. Banyak pilihan mainan yang difasilitasi orangtua. Mainan baiknya diberikan secukupnya. Jika porsi mainan dan buku yang disiapkan untuk anak berbanding terbalik, dalam hal ini mainan jauh lebih banyak ketimbang buku-buku berkualitas, maka rasanya kurang pas jika berharap anak akan tumbuh menjadi manusia yang rasional.

Sebagai bagian masyarakat golongan menengah ke bawah, yang selama ini mengoleksi buku-buku untuk bacaan anak di rumah, mengumpulkan buku dengan penuh perjuangan perhitungan, anggaran yang begitu paspasan, maka memaksa kreativitas finansial saya untuk membagi anggaran buku bacaan anak dengan kehidupan untuk sehari-hari.

Melihat vlog itu, hati saya meronta-ronta untuk berandai-andai. Misal, andai saja saya dititipi rezeki sebanyak itu, saya akan menjadikan sebagian rumah saya perpustakaan. Semua jenis buku tidak akan saya pilih-pilih lagi. Sekuat tenaga saya miliki semua. Saya tata rapi di rak-rak buku. Seketika miris melihat orang-orang yang dititipi rezeki berlimpah namun tidak bisa mengolah porsi yang tepat untuk anaknya.

Paling miris dengan pernyataanya, “Anak saya selalu mintanya mainan, nggak mau yang lain.” Yah, semua anak sepertinya demikian, deh!

Anak usia dini memang fitrahnya bermain, yah, pasti akan selalu meminta mainan. Namun, orangtua baiknya mengarahkan dengan baik, hal yang tidak berlebihan baginya. Setiap anak adalah pembelajar yang ulung. Jika sedari kecil diajari hal-hal yang rasional, maka kelak dewasa akan menjadi anak yang penuh dengan rasionalitas dalam bertindak.

Anak terlahir sebagai pembelajar yang sejati. Kita tidak boleh meremehkan kemampuannya untuk menangkap pesan yang kita sampaikan ketika anak meminta sesuatu. Itu merupakan hal yang tidak membuatnya bertumbuh, meskipun kita mampu untuk membelikan banyak mainan. Sebaiknya diberi pengertian bahwa hal tersebut tidak baik untuknya. Orangtua punya kapasitas untuk menyampaikan hal tersebut. Anak yang terbiasa diberi pengertian dengan rutin pasti akan memahami hal demikian dengan baik.

Banyak yang mengatakan bahwa lingkungan tempat anak tinggal akan mempengaruhi proses ia bertumbuh. Lingkungan mempengaruhi pola pikirnya, kesehatan, dan banyak peran lainnya.

Namun, setelah membaca novel Roald Dahl berjudul Matilda, teori itu seakan terpatahkan. Matilda diceritakan sebagai anak yang jenius tetapi lingkungan tidak mendukung pertumbuhannya. Ayahnya hanya fokus pada kakak laki-lakinya, mengabaikan semua hal-hal unik yang dilakukan oleh Matilda dalam kesehariannya. Begitu juga dengan sang ibu yang sangat cuek. Ibu tidak terlalu peduli dengan Matilda kecil. Bahkan, saat Matilda minta dibelikan buku, karena buku-buku yang ada di rumahnya sudah kelar dibaca, sang ibu menolaknya mentah-mentah. Orangtuanya memilki perekonomian yang sangat cukup. Rumahnya dibangun dua lantai dan bagus. Rasanya uang bukan menjadi penghalang untuk membelikannya buku. 

Matilda kecil sangat cerdas. Dia selalu melontarkan berbagai pertanyaan ketika melihat sesuatu yang dirasa aneh dan belum diketahui. Salah satu yang dia tanyakan mengenai serbuk kayu setelah digergaji. Namun, ayahnya yang cuek melarangnya selalu bertanya dan menyuruhnya diam saja. Matilda diminta jangan banyak berkomentar. 

Matilda kecil tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat tidak mendukung perkembangannya. Ayah dan ibunya yang cuek rasanya tidak akan mampu membuatnya menjadi anak yang tumbuh secara akademik dan berperilaku baik lingkungannya. 

Namun ternyata tidak demikian, Matilda menunjukkan kepada kita semua bahwa setiap anak terlahir sebagai pribadi yang utuh. Sebagaimana yang dikemukanan salah satu pakar pendidikan Charlote Masson. Lingkungan pada dasarnya memiliki peran penting dalam pertumbuhan sang anak, namun anak itu sudah lahir dengan membawa karakter pribadi yang melekat pada dirinya. Sehingga, setiap anak berpotensi untuk menjadi baik dan berpotensi pula menjadi tidak baik. Matilda yang tumbuh dengan keluarga yang sangat tidak mempedulikan perkembangannya, tetap bertumbuh sebagaimana pribadinya yang sesungguhnya. Yakni, anak yang gemar belajar, anak yang gemar bertanya, anak yang tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Dia tetap bertumbuh dengan caranya, tanpa mempedulikan lingkungan yang tidak mempedulikannya.

Matilda yang tumbuh dengan keluarga yang sangat tidak mempedulikan perkembangannya, tetap bertumbuh sebagaimana pribadinya yang sesungguhnya. Yakni, anak yang gemar belajar, anak yang gemar bertanya, anak yang tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya.

Matilda kecil sangat beruntung karena tinggal tidak jauh dari perpustakaan. Sehingga, dia bisa pergi dengan sendirinya ke perpustakaan tanpa bantuan orang dewasa, yakni ayah dan ibunya. Orangtuanya yang begitu sibuk dengan dunianya sendiri tidak ada waktu untuk mengurusi hobi baca Matilda, sehingga dia memfasilitasi dirinya sendiri.

Anak jenius ini menghabiskan hampir setengah hari waktunya di perpustakaan dengan berbagai buku yang dibaca. Dia bisa melihat dunia hanya dengan duduk dan memegang kertas. Dia sudah membaca buku-buku dari para pengarang pengarang besar: Rudyard Kipling, Charles Dickens, George Orwell, dan lain-lain.

Matilda kecil juga memperhatikan ayahnya yang berdagang tapi kelihatan tidak jujur. Sang ibu selalu mengajak makan malam bukan duduk di meja makan melainkan di depan televisi. Akhirnya, membuat suasana makan jadi sangat tidak nikmat. Hal itu tak luput dari komentar Matilda. Dia mencoba mengingatkan keluarganya mengenai hal tersebut, tetapi keluarganya yang begitu cuek dan tak peduli padanya tetap saja mengabaikan semua saran Matilda.

Dilihat dari lingkungan keluarganya yang sangat jauh dari kata ruang bertumbuh, Matilda sama sekali tidak terpengaruh dengan hal demikian. Dia tetap timbuh sebagai gadis kecil yang sangat cerdas dan fokus pada tujuan-tujuannya. Meskipun demikian, dia juga tidak lelah memberikan saran kepada keluarganya.

Yang paling mendasar dari keberuntungan Matilda hingga bertumbuh dengan baik karena rumahnya dekat dengan dengan perpustakaan. Meskipun keluarga tidak menyediakan buku-buku untuknya, dia tetap bisa mendapatkan buku-buku yang berkualitas. Sehingga, dia bisa membaca banyak buku dan mengembangkan dirinya dari berbagai sumber bacaan yang berkualitas.


Rachmawati, ibu suka membaca dan menulis, tinggal di Prambanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s