Jendela Itu

Bilqist

CUKUP sedih. Dulu sebelum aku pindah rumah, aku selalu memimpikan pemandangan jendela yang menghadap ke halaman luas, yang membuat cahaya matahari masuk menerangi kamarku di siang hari. Di rumah lama, aku tidur di lantai bawah. Saat siang kamarku malah menjadi gelap sekali saat lampu dimatikan, dan pemandangan yang kudapat saat melihat keluar jendela kamarku adalah pantat mobil yang menungging ke arahku. 

Saat aku tahu bahwa di kamar baruku ada jendela, aku berekspektasi tinggi. Tapi, sepertinya tidak pernah ada jendela yang sempurna. Stiker-stiker yang entah apa fungsinya tertempel di jendela kamar baruku, yang menghalangi pemandangan luar. Bukankah fungsi utama jendela adalah untuk bisa melihat keluar? Kalau setengahnya ditutupi, buat apa menaruh sebuah jendela di situ? 

Bukankah fungsi utama jendela adalah untuk melihat keluar? Kalau setengahnya ditutupi, buat apa menaruh sebuah jendela di situ?

Meski tidak terhalang stiker pun, pemandangan yang ditawarkan oleh jendela padaku hanyalah genteng-genteng dari rumah sebelah. Tapi, setidaknya aku masih bisa melihat langit yang dihiasi awan-awan. Melihat cahaya matahari berhasil masuk melewati sela-sela jendela yang tidak tertutup stiker. Saat siang hendak berganti ke sore, seluruh ruangan akan ganti warna menjadi kuning kemerahan, membuat kamar terkesan hangat bagiku. Semua mengesankan kalau kondisi kamarku juga sedang tidak berantakan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s