Hujan: Nasi Krawu dan Mi Instan

Uun Nurcahyanti

GERIMIS menjadi awalan bagi para bocah untuk mengerti waktu. Terjadilah mandi dalam hujan! Tak ada anak yang rela sekadar menjadi penonton. Bocah girang dalam hujan. Sedangkan bagi orang tua, musim hujan adalah ajang siasat kreasi santapan.

Pada masa kecilku, keasyikan kami bermandi hujan dibarengi kerepotan ibu di pawon. Ibu akan sibuk menjerang air panas untuk persiapan mandi usai hujan-hujan. Selain itu, wedang jahe serai penghangat tubuh juga lekas dimasak. Harum gula jawa terasa nikmat bercampur bau tetesan hujan. Nasi beserta sayur sop kubis menjadi menu andalan. Lauk berupa tahu atau tempe goreng melengkapi sajian khas musim hujan. Sembari menunggu nasi masak, biasanya ibu akan menyuruh kami berhenti dan pulang. 

Air hangat sudah disiapkan di kamar mandi. Usai berpakaian, amben di dapur sudah dipenuhi sajian makanan. Ibu pasti menyuruh kami minum wedang jahe terlebih dahulu sebelum memulai ritual makan. Aku suka makan sambil duduk di dekat tungku yang masih menyala pelan. Hangat. Makanan dan minuman di sela rintik hujan juga serba hangat, membuat kami rindu kembali udan-udan esok hari.

Musim hujan adalah musim makan intip. Kerak nasi yang gosong menjadi andalan pawon ibuku di samping sop kubis. Bagian kerak nasi yang sering gosong saat proses pengaruan turut dimatangkan dalam kukusan. Setelah matang, nasi gosong atau intip ini dicampur dengan parutan kelapa yang masih ada kulit arinya lalu ditaburi garam. Mbah Arjo, rewang keluarga kami, menamakan nasi ini nasi krawu. Rasa gurih parutan kelapa bercampur hangus kerak nasi menghangatkan tubuh usai mandi hujan.

Mbah Arjo, rewang kelurga kami, menamakan nasi ini nasi krawu. Rasa gurih parutan kelapa bercampur hangus kerak nasi menghangatkan tuhub usai mandi hujan.

Pada masa kanakku, kukusan terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut. Nasi ditanak dalam kuali tanah liat. Kuali dan tungku serta tanakan model ini tak lagi digunakan saat aku di sekolah dasar, awal masa 1980-an. Tungku berganti kompor minyak tanah. Kuali berganti dandang, kukusan yang terbuat dari aluminium. Nasi krawu yang menjadi favorit kala musim hujan turut mengalami perubahan proses pembuatan. 

Kadang Mbah Arjo ngaru nasi di panci aluminium selain kebiasaan baru, yaitu ngliwet dengan menggunakan panci berbentuk cembung berbahan tembaga tebal.. Bila masak nasi liwet menggunakan kastrol, kerak nasi dibiarkan gosong agar bisa dibuat nasi krawu. Saat itu kami belum tahu cara memasak nasi liwet ala Sunda yang gurihnya sudah menyatu dalam nanakan nasi karena tambahan serai, daun salam, bawang putih, dan bawang merah.

Lidah di musim penghujan itu butuh rasa hangat dan gurih. Kebiasaan bersantap serba hangat di sela tenunan hujan berlanjut di kuah mi instan. Sayur sop, tahu tempe goreng, dan nasi hangat dianggap jadul. Terlalu merepotkan! Empat lima bungkus Supermi ditambah irisan sawi, bakso, dan telur, lalu dimakan dengan nasi hangat dianggap lebih praktis sebagai santapan kala hujan. Kuah mi instan, bahkan, menawarkan rasa gurih yang kuat dengan aneka rasa baru bagi lidah kami: ayam bawang, soto, kaldu sapi. 

Berbeda dengan masakan sop ibu yang rasanya selalu ajeg. Yang membedakan hanya variasi isian sayurnya: kubis, wortel, kentang, makaroni, buncis, daun bawang, dan seledri. Kadang bunga kol dan buncis menggantikan kubis.

Kebiasaan makan nasi krawu pelan-pelan hilang dari tradisi dapur rumahku. Semakin kami tumbuh besar, mandi hujan tak lagi diizinkan dengan mudah. Kalimat terucap: Ojo udan-udan, mengko ndak masuk angin. Ucapan yang menghentikan keasyikan mandi hujan sekaligus mereduksi hidangan khas musim hujan. Dulu, hujan-hujan tak pernah dikaitkan dengan masuk angin atau sakit apapun. Waktu mengubah paradigma orangtua berkenaan hujan dan tubuh. Hujan-hujan sebagai rezeki bocah dengan makan nasi krawu serta wedang jahe sebagai penutupnya digulung kalimat cemas.

Waktu mengubah paradigma orangtua berkenaan hujan dan tubuh. Hujan-hujan sebagai rezeki bocah dengan makan nasi krawu serta wedang jahe sebagai penutupnya digulung kalimat cemas.

Nasib nasi krawu yang tak lagi menjadi pilihan semakin terpuruk semenjak adanya magic jar, lalu termutakhirkan dengan magic com. Panci masak listrik tak meninggalkan kerak gosong. Bila terlalu lama berada dalam magic com, nasi menjadi kering seperti usai dijemur di bawah terik sinar matahari musim panas, namun tidak gosong. Nasi garing ini lebih cocok dibuat kerupuk dengan cara digoreng lalu diberi bumbu. 

Mengingatkan kebiasaan lain ibu dan Mbah Arjo yang akan dengan senang hati mengeluarkan persediaan intip kering sebagai kudapan sore di musim hujan. Intip goreng ini disiram juruh manis-gurih yang terbuat dari gula jawa, sedikit garam dan bawang putih. Bau harum bawang putih bercampur gurih manis gula jawa membuat intip goreng tak tersisa. 

Lha, nasi kering hasil magic com tidak khas dan sedap sebagaimana intip dari kuali tanah liat ataupun panci aluminium. Teknologi pengolahan nasi menggenapi kecemasan masyarakat kota dalam menghapus jejak hujan di tubuh bocah beserta santapan khas  dapur rumahan. Musim hujan tak lagi keriangan bersantap kehangatan yang gurih di dapur keluarga. 


Uun Nurcahyanti, penulis tinggal di Pare, Kediri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s