Kerja, Memori, Laku

Yulia Loekito

Untuk buku ini, kartu pos bertema “kerja” dipilih sebagai topik karena aktivitas tersebut dekat sekali dengan manusia tanpa batasan geografis. Dalam buku ini, kita akan mengenali pekerjaan-pekerjaan tradisional yang masih dilakukan di sekitar lingkungan kita, pekerjaan-pekerjaan yang sudah punah serta pekerjaan yang melayangkan ingatan kita pada pekerjaan eyang kita masa itu. (Olivier Johannes Raap, Pekerdja di Djawa Tempo Doloe, 2013)

“TENONGAN!” Nenekku—yang biasa kupanggil emak—berteriak dari toko. Cucu-cucu berjumlah lima anak segera berlarian ke luar. Asyik ada tenongan! Tenongan berarti jajan. Biasanya ada ledre pisang, wajik, tempe goreng, roti, dan tahu berontak. Ada juga manisan cerme, manisan pala, atau manisan sirsak yang warnanya jambon. Aduh! Itu enak sekali. Jarang sekali rombongan cucu mengabaikan panggilan emak itu. Waktu itu tahun 1980-an.

Penjual tenongan biasanya pakai jarik, berstagen dan kebaya polos atau motif bunga-bunga biasa. Rambutnya panjang digelung tanpa tusuk konde. Tenongan terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat besar dengan tutup seperti caping raksasa bisa bersusun dua atau tiga. Warna tenongannya macam-macam, bisa masih asli warna cokelat bambu atau warna-warni cat: hijau, merah jambu, dan lain-lain. Ada juga yang nyangking keranjang plastik bersusun warna merah berbentuk kotak.

Kalau sudah dapat pembeli, penjual tenongan akan membongkar susunan tenongnya satu per satu supaya pembeli bisa melihat semua yang dijajakan. Lalu, penjualnya akan duduk bersimpuh di dekat tenongannya. Pembeli memilih jajanan. Waktu memilih biasanya terjadi obrolan-obrolan. Oh, sungguh menyenangkan! Sayang, kini sudah jarang ditemukan tenongan. Jajanan-jajanan sekarang banyak digelar di meja-meja panjang di pinggir jalan. Pembeli yang datang, bukan penjual yang menjajakan dagangan berkeliling.

Foto: Yulia Loekito

Di buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doloe, bagian “pedagang kecil” kita melihat berbagai macam penjual—umumnya makanan—terabadikan dalam foto-foto kartu pos. Foto bisa rekaan studio bisa juga dari kenyataan. Sebagian besar adalah pedagang keliling, alatnya pikulan, dari tukang koppie, tukang es, penjual limonade, pedagang tebu, tukang buah, penjual sarapan pagi, tukang roedjak oelek, penjual sayur dan penjual ayam, penjual daging babi, penjual ikan, penjual sate, penjual soto, sampai penjual barang kebutuhan sehari-hari. Terbaca tahun cap pos tertua di bagian ini adalah sebelum 1906 dan termuda periode 1944 – 1950.

Selain penjual-penjual yang memikul dagangannya, kita juga menemukan foto bakul pecel semanggi dan mbok pasar. Foto-foto mengingatkan pada bakul tenongan. Dalam foto, mereka menggendong tenggok  atau kronjot menggunakan selendang. Tenggok atau kronjot dipeluk di salah satu sisi badan dan selendang diikat di bahu satunya. Sedikit berbeda dengan tenongan, biasanya tenong digendong di punggung dan selendang diikat di depan dada untuk berpegangan serta menahan beban waktu berjalan. Kita mau terus mencatat berbagai macam cara berjualan agar tak menguap dari ingatan. Di tanah jajahan, rakyat berjualan kebanyakan berkeliling, pengaruh era industri dari Eropa belum terlalu berkembang di kalangan bumiputra. Mata pencaharian digunakan sebagai sarana mencukupi kebutuhan hidup hari demi hari, belum berpikiran modal besar atau investasi.

Di tanah jajahan, rakyat berjualan keliling, pengaruh era industri dari Eropa belum terlalu berkembang di kalangan bumiputra. mata pencaharian digunakan sebagai sarana mencukupi kebutuhan hidup hari demi hari, belum berpikiran modal besar atau investasi.

Pada tahun-tahun tertera pada cap pos kartu pos, Jawa juga masih bernapas agraris. Kutipan kita temukan di buku Suta Naya Dhadhap Waru susunan Iman Budhi Santosa (2017): “Karena sejarah telah mencatat bahwa sejak masa kerajaan-kerajaan di Jawa sampai terjadinya penjajahan Portugis, Belanda, Inggris, Jepang, hingga era kemerdekaan Indonesia, mata pencaharian orang Jawa di perdesaan (pedalaman) mayoritasnya adalah bertani dalam arti luas. Yakni mengolah tanah, bercocok tanam, berkebun, beternak, dan mengerjakan apa saja yang menghasilkan untuk menghidupi keluarganya.” Pekerjaan lebih bermakna sebagai mata pencaharian dibanding profesi atau karier. Sawah atau ladang biasanya juga digunakan untuk menanam rupa-rupa tanaman pencukup kebutuhan keluarga atau penduduk setempat, belum jadi pemasok pabrik-pabrik pengolahan makanan.

Beberapa foto perempuan dan laki-laki, kebanyakan muda—terabadikan dalam kartu-kartu pos termuat di buku Pekerdja di Djawa Tempo Doloe—sedang melakukan kegiatan berhubungan dengan pertanian. Yang perempuan memakai jarik dengan atasan kebaya polos sederhana atau kemben. Rambut mereka kebanyakan digelung dan banyak yang memakai ikat kepala yang dilipat secara tak beraturan saja. Di beberapa foto, kegiatan mereka antara lain: menumbuk padi menggunakan alu dalam lubang lesung, menjemur padi, dan memotong padi menggunakan ani-ani. Di foto yang berbeda, yang laki-laki memakai ikat kepala dan sarung yang dilipat menjadi celana pendek, berpose membawa cangkul dengan latar belakang sawah dan kerbau. 

Terduga, kehidupan petani pada tahun-tahun cap pos cukup berbeda dengan hari ini, menghidupi sawah ladang tak sekedar sarana mengumpulkan pendapatan dalam ragam rupa. Catatan-catatan dalam foto menjelaskan bahwa petani belum tentu pemilik sawah, bisa saja mereka buruh tani. Misalnya dalam kutipan ini: “Padi yang dibawa mungkin adalah upah yang diperoleh dari bekerja di sawah orang lain. Biasanya sepersepuluh dari hasil panen diberikan sebagai upah kepada orang yang ikut bantu memanen (Ponder, 1941:175).”

Kita membaca lagi kutipan dari Suta Naya Dhadhap Waru: “… niat tapa ngrame adalah melakukan olah batin (laku prihatin) dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan dengan terus-menerus mengamalkan proses sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa …. Dalam menjalani hidup bertani di perdesaan, banyak para petani yang menganggap jalan hidupnya itu sebagai tapa ngrame.” Jauh di balik foto-foto dalam kartu pos—yang pada masa itu justru banyak dibeli dan digunakan oleh orang-orang Belanda yang tinggal di Hindia-Belanda untuk berkirim kabar pada saudara atau kawan di Eropa itu—kita ingin pula menelusuri laku batin mereka, terutama di tengah ingar-bingar era industri dan teknologi hari ini.

Hari ini, tenongan dan pedagang keliling tidak terlalu banyak kita temui. Jalanan di depan rumah yang dulu ramai diisi suara para penjaja makanan menjadi lebih sepi.

“Ting, ting, bakso.”

“Sotooo… ayam!”

“Jamu .. jamu …!”

Perlahan tapi pasti makin berkurang. Sedangkan petani-petani di desa menanam dengan berbagai macam tujuan dan laku batin yang mungkin berbeda. Kita ingin saja mencatat perjalanan dan perubahan ini dalam memori. Pencatatan memantik penyadaran, pembandingan, penarikan kesimpulan, dan jadi bekal berpikir serta mewujudkan kerja dan laku batin untuk diwariskan pada anak-cucu.


Yulia Loekito, penulis tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s