Piring, Cerita, Kesenjangan

Ghaniey Arrasyid

ORANG-ORANG sering mengetahui piring hanya sebatas alat. Padahal, piring memiliki makna dalam periode-periode kehidupan manusia. Tak bisa di pungkiri, piring sudah sejak lama jadi tempat hidangan manusia. Dari mulai bahan bakunya keramik hingga emas murni.

Pramoedya Ananta Toer, pengarang yang menghasilkan buku-buku memesona yang terus dibaca. Pram, begitulah rakyat memanggilnya. Kekuatannya dalam menulis bukan hanya diacungi jempol, lebih dari itu. 

Peristiwa bengis dan yang menghujam habis-habisan hidupnya, tampaknya jadi semangat Pram untuk terus menerus menanamkan semangat revolusi melalui teks.

Pada waktu itu, Belanda merasa marah kala Pram membuat buku yang menohok berjudul Kranji dan Bekasi Jatuh (1947). Ia pun masuk bui, resmi keluar setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.

Tahanan penuh dengan penderitaan. Aroma busuk yang menusuk hidung sudah menjadi hal biasa. Hidangan di sana tak mungkin bergizi. Sayur comberan dengan potongan kangkung layu menjadi hidangan di dalam bui.

Walaupun kondisi terjadi sedemikian rupa, piring besar untuk manusia bui menjadi idola. Piring jadi saksi bisu para pejuang waktu itu. Kemlontang piring besi memberi harapan untuk mengisi perut keroncongan mereka. Inginnya piring terus diisi dan kembali meneruskan revolusi melalui tulisan ataupun gagasan yang propagandis.

Kondisi itu sangat jelas dan kentara dituliskan dengan penuh kejujuran saat Hersri Setiawan menuliskan memoarnya. Piring, kejujuran, dan kemanusian, membalut setiap diksi yang menjabarkan kondisi pada waktu itu.

Kenangan terbaca lagi melalui Ajip Rosidi, yang memuat masalah piring. Dulu, Ajip Rosidi sedang asyik menulis di ruang tamu. Ia dikagetkan dengan kedatangan Pram yang menanyakan menu apa yang ada dalam rumahnya. Pram pernah dililit krisis, hingga istinya Maemunah diungsikan ke rumah mertuanya.

Ajip menuliskan kejadian itu dengan objek piring, nasi, dan mentega, Pram melahap nasi dingin milik Ajip untuk meneruskan hidup, karena tak makan tiga hari. Piring, tak pernah lekang dari kehidupan manusia. Piring bukan hanya dinilai sebagai benda, tetapi piring mampu menandakan bagaimana manusia hidup dan meniti hidupnya penuh keberanian.

Bahkan, pengamat ekonomi, Oswar Lewis yang menulis kisah lima keluarga dalam belenggu kemiskinan itu, melibatkan piring, kesenjangan, dan ketidakadilan di Meksiko. Piring dan kemiskinan, ada irisan menarik sebagai pembelajaran hidup. Piring juga jadi alat analisis untuk status sosial dapat diketahui. 


Ghaniey Arrasyid, penulis tinggal di Solo 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s