Yang Memasak Pertanyaan

Ratna Hayati

Tak … tak … tak … 

SUARA pisau beradu dengan talenan setiap hari rutin berulang. Kala pagi tiba, pisau di tangan, yang kini tak halus dan lentik itu, mengiris jeruk nipis membelahnya menjadi dua bagian. Tangan-tangan perkasa itu memerasnya ke dalam gelas-gelas, menuangkan air dari botol kaca bergantian dengan air yang dijerang di dalam panci besi anti karat. Uap air perasan jeruk nipis menguarkan bau kecut segar ke penjuru dapur. 

Tangan-tangan itu lalu memilih buah-buahan untuk dikupas dan dipotong sebagai sarapan keluarga setiap pagi. Paling sering adalah pepaya, buah naga, apel, dan pir. Sehelai demi sehelai, kulit buah terlepas dari pokoknya. Buah yang kini telanjang dipotong kecil-kecil agar mudah diambil dengan garpu. Buah segar dan air perasan jeruk nipis sudah siap tersedia di meja makan, siap menanti disantap seisi rumah untuk mengawali hari. 

Tapi pekerjaan perempuan itu ternyata belum usai. Masih terdengar suara pisau beradu dengan talenan kayu memotong kulit-kulit buah menjadi kecil-kecil untuk dijadikan kompos. Setelah itu, tumpukan talenan, pisau dan wadah-wadah buah sudah termangu menanti untuk dicuci bersih, satu jam sudah perempuan itu berdiri di dapur. Begitu terus setiap pagi sepanjang minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun.

Setelah itu, tumpukan talenan, pisau, dan wadah-wadah buah sudah termangu menanti untuk dicuci bersih, satu jam sudah perempuan itu berdiri di dapur. Begitu terus setiap pagi sepanjang minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.

Belum usai sampai di situ masih ada pekerjaan lain yang menanti yaitu menyiapkan makan siang dan malam keluarga. Kadang, perempuan itu bertanya dalam hati, siapa yang sebenarnya menciptakan budaya makan 3 kali sehari itu. Mengapa harus 3 kali? Mengapa menunya harus beragam agar memenuhi standar kecukupan gizi? Kalau sampai anak-anak menjadi kurang gizi maka hampir pasti kesalahan itu akan ditimpakan kepadanya. Sialnya, yang menimpakan kesalahan biasanya justru perempuan-perempuan lain  yang seharusnya malah mendukungnya dan menyemangatinya. 

Suka tak suka, pekerjaan itu dia lakukan. Ada tubuh-tubuh yang perlu diberi makan dengan gizi seimbang, ada sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Jadi, selain memasak nasi, perempuan itu menyiapkan sayuran, ikan atau kadang telur, ayam, daging silih berganti. Masalah hidup hari itu selalu diawali dengan tanya: “Masak apa aku hari ini?” 

Kepusingan yang berulang setiap harus berpadu dengan rasa jenuh dan lelah. Awalnya, memasak ini begitu menyenangkan, tapi ketika memasak menjadi sebuah pekerjaan yang rutin maka lambat laun menjadi mulai mengesalkan. Apalagi, ternyata anak-anak lebih senang makan mi instan daripada aneka hidangan yang sudah disiapkan dengan susah payah. Mereka juga suka ayam berbalut tepung merek terkenal. Mereka paling tidak suka makan sayur. 

Ah, seandainya bisa memilih, perempuan itu juga inginnya tak usah memasak sayur. Paling berat mengolah sayuran. Bayangkan saja, awalnya sayuran itu harus dicuci bersih. Pertama, dicuci bersih dengan air mengalir agar lapisan pupuk kimia dan pestisida terlepas darinya. Setelah disiangi atau dikupas dilanjutkan direndam dalam air garam atau cuka agar kuman-kuman yang menempel mati. Berlanjut memotongnya sesuai jenis masakan yang sudah ditentukan. Lantas, mengolahnya menjadi berupa lalapan, salad, tumisan, sop, dan sayur bening. Makanan sederhana yang sering tak disukai oleh anak-anak tapi memakan proses paling panjang. 

Sialnya, bagi perempuan itu proses belum cukup. Sebab, dia mengenal yang namanya cinta lingkungan maka membuang sampah pada tempatnya saja menjadi tak cukup. Sisa-sisa sayuran masih harus dipotong-potong kecil lagi agar bisa muat masuk ke dalam pot-pot komposternya yang terbatas. Padahal, sampah ada terus dan terus. Kadang ingin rasanya dia menghentikan pekerjaan itu dan membuang saja semuanya di tong sampah. Toh, dia sudah membayar uang bulanan pengangkut sampah, tapi ternyata nuraninya tak memampukannya untuk melakukan itu. 

Seandainya anak-anak sadar betapa besar perjuangan perempuan itu demi bisa menyajikan sayuran setiap harinya di meja makan keluarga. Anehnya, konsumsi sayuran di berbagai belahan dunia cenderung menurun. Orang lebih suka menyiapkan dan memakan olahan daging atau makanan instan cepat saji. Yang penting kenyang, laparnya terpuaskan, masalah gizi atau kesehatan itu urusan nanti . Tak heran, semakin makmur sebuah negara biasanya diikuti dengan meningkatnya obesitas dan pervelansi penyakit jantung, diabetes dan kolesterol, yang menggerus keuangan negara maupun rumah tangga untuk penanganannya, ada pilihan tentu konsekuensi mengikuti.

Pekerjaan memasak bagai sebuah medan peperangan yang harus dihadapi setiap hari oleh perempuan itu dan mungkin oleh banyak perempuan lainnya yang memilih mengabdikan hidupnya sebagai seorang yang bergelar ibu rumah tangga. Pekerjaan memasak merupakan tugas mahamulia. 

Bagaimana bangsa ini mau maju kalau generasi penerusnya kurang gizi hanya karena sang ibu ingin leyeh-leyeh lebih lama dan memasak mi instan saja setiap harinya. Senin makan rasa kari ayam. Selasa pilih soto ayam. Rabu untuk tom yum, Kamis edisi ayam panggang. Jumat jelas balado. Sabtu inginnya soto banjar. Minggu rasa rendang. Semua dalam bentuk mi instan: lezat, praktis dan pasti disukai seluruh anggota keluarga.

Kadang demi berdamai dengan tubuh dan pikirannya, perempuan itu harus menerima bahwa tak mengapa terkadang terpaksa jajan di luar. Berbagai aplikasi daring sudah menyediakan kemudahan untuk mengakses makanan enak tanpa repot mengolahnya di dapur. Tapi sialnya, jarang yang menjual menu sayuran. Kalaupun ada maka harga dirasa tak sebanding kualitas. Perempuan itu mengomel lelahnya tak juga tergantikan malah ditambah kesal karena harus membayar mahal untuk sayur yang menurutnya seharusnya tak semahal itu. 

Hari beranjak malam, sekeluarga sudah kenyang, semua bersiap masuk peraduan tapi tentu tidak dengan perempuan itu. Pilihannya untuk tak punya asisten membawa akibat. Anak-anak memang sudah bisa mencuci peralatan makannya masing-masing tapi tidak dengan perlatan memasak yang tersisa setelah acara makan malam usai: panci, sendok, dan aneka perkakas masak lainnya antre di tempat cuci piring. Benda-benda menanti untuk dibersihkan. Padahal, mimpi perempuan itu, selesai kenyang makan dia juga bisa langsung menghambur ke peraduan dan melihat berita-berita dari layar telepon genggamnya. 

Perkakas dapur beres, meja dapur menanti untuk diusap kain lap agar tak berminyak dan siap digunakan masak esok harinya. Piring-piring, gelas, sendok garpu juga menanti masuk wadah steril agar kuman tak menempel. Jarum pendek jam menunjuk di angka sembilan, akhirnya tugas mulianya berakhir. Belum tentu berakhir.

Ibu yang memasak itu layaknya prajurit yang berperang tanpa kawan, di jalan sunyi tak pernah terlihat karena upayanya berujung di kakus saja. Padahal saat terpaksa membeli di luar sana, mata dibuat terbeliak dengan harga-harga. Orang lebih bisa menghargai pekerjaan memasak dan bersedia membayar mahal itu sebuah makanan. Sebaliknya, seorang ibu yang menghasilkan menu makan lengkap untuk keluarga sering tak tercatat namanya dalam tinta emas sejarah. Pekerjaan yang tak terlihat kontribusinya, walau perut yang lapar sudah pasti tak bisa berkarya dengan optimal. Tubuh yang asupan gizinya tak terjaga dan penuh “makanan sampah” atau instan pasti tak bisa berkarya dengan baik. 

Ibu yang memasak itu layaknya prajurit yang berperang tanpa kawan, di jalan sunyi tak pernah terlihat karena upayanya berujung di kakus saja.

Sampai kapan kerja memasak yang dianggapnya kerja besar itu bisa dipandang dengan kedua mata bukan hanya sebelah apalagi tak dipandang? Pantas saja, banyak perempuan yang memilih mendelegasikan pekerjaan itu pada perempuan lain yang dibayar agar dia bisa menghabiskan waktunya di luar rumah jauh dari dapur. Cukup membayar gajian dan uang belanja perkara menu serahkan saja pada si “embak”. Pokoknya tahu beres saja. Lalu….


Ratna Hayati, penulis tinggal di Jakarta 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s