Pada Piring

Joko Priyono

MULANYA, kita tidak tahu, sejak kapan merek-merek kebutuhan rumah tangga (deterjen, penyedap rasa, pembersih lantai, maupun pewangi pakaian) menarik pembeli dengan iming-iming bonus sebuah piring. Kita kemudian bertanya-tanya, apakah itu hanya strategi pasar saja atau ada relasi antara variabel tersebut. Paling pasti, urusan deterjen, pembersih lantai,  dan pewangi pakaian sama sekali tak ada hubungannya dengan piring. Tidak mungkin, piring menjadi tradisi untuk digunakan sebagai wadah deterjen. Begitu sebaliknya, deterjen tak mungkin disajikan dalam sebuah piring agar dikonsumsi. Pastilah menyebabkan keracunan.

Kerancuan dalam kehidupan memiliki gejolaknya tersendiri. Ia tak terlepas dari miskonsepsi dan salah persepsi. Kemudian menjadi ingatan bagi banyak orang. Perkara iklan, satu hal mendominasi semenjak bergeraknya media massa baik itu televisi, koran, majalah, hingga internet. Iklan memiliki dasar untuk mempengaruhi. Keterpengaruhan orang dan merembet lainnya, menjadikan orang mendapatkan fase ia mudah tergiur dengan produk yang dijual. Dengan demikian, pada lanskap harapan akan berkembangnya ilmu pengetahuan, kita terlambat sadar untuk mengetahui makna lebih dalam.

James Watt adalah seorang ilmuwan ternama pada masanya. Kiprah perjalanan hidup dan perjalanan intelektualnya dapat kita baca dalam buku tipis berjudul James Watt: Pencetus Revolusi Industri (1982) garapan Dahlan Djazh. Banyak orang mungkin berpikiran jalan hidup seorang ilmuwan maupun saintis mulus tanpa rintangan. Nyatanya, tidak. Tiap ilmuwan maupun saintis memiliki titik saat ia mendapati kesulitan, tantangan, hingga rintangan: tempat tinggal, makan, minum, dan kebutuhan lain sehari-harinya.

Tiap ilmuwan maupun saintis memiliki titik saat ia mendapati kesulitan, tantangan, hingga rintangan : tempat tinggal, makan, minum, dan kebutuhan lain sehari-harinya.

Di buku itu, kita akan menemukan sebuah ilustrasi yang memberikan gambaran James Watt sedang berada di meja makan. Ia menghadap sebuah piring kosong lengkap dengan garpu dan sendok di atasnya. Di sisi lain meja tersebut, ada gelas dan cawan dan kotak roti telah terbuka dengan sisa dua potong. Mulanya tiga potong, sebelum sepotong lainnya diletakkan di tangan James Watt. Kita akan menduga bahwa aktivitas itu biasa-biasa saja. Setiap orang biasa melakukannya. Sebelum kemudian kita mendapati maksud yang hendak disampaikan ilustrasi tersebut.

Keterangan dalam ilustrasi tersebut mengatakan: “Hampir-hampir ia tak sanggup membeli sepotong roti pun untuk makannya”. Kita mulai sedikit sadar akan perjalanan hidup James Watt. Tak jauh dari sana, kita akan mendapatkan penjelasan secara rinci: “James harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk latihan tersebut. Demikian besarnya, sehingga hampir semua uang simpanannya terkuras habis. Dan hampir-hampir ia tak sanggup membeli sepotong roti pun untuk pengisi perutnya. Namun James tetap tabah dan tekun dalam menghadapi segala cobaan yang menimpa dirinya. Tekadnya telah penuh. Ia tak akan surut sebelum tujuannya tercapai.”

Makan dan minum adalah perkara perut. Siapa saja tak dapat memenuhi, hampir dipastikan kehidupannya terancam. Orang-orang sekalipun kalangan ilmuwan dalam perjalanan hidupnya memberikan sumbangsih pada kemajuan ilmu tak ada pihak menjamin. Apalagi orang-orang terpinggirkan, kaum miskin, pengangguran, dan gelandangan. Konstitusi saja dibuat tak benar-benar memberikan kepastian dan jaminan. Padahal, kebanyakan orang itu butuh hal tersebut. Piring dalam kebudayaan tentu menjadi tanda akan ketimpangan dalam kehidupan masyarakat.

Mahbub Djunaidi menggambarkan akan pentingnya hak asasi manusia dalam esainya di Kompas edisi 10 Maret 1981. Ketidakpastian demi ketidakpastian dalam hidup dalam pengaruh sistem politik, menjadikan sebuah ingatan bagi Mahbub bahwa urusan-urusan yang kerap dipahami mulai dewasa perlu diperkenalkan sejak dini, khususnya anak-anak. Apa itu pengertian politik, kriteria pemimpin, warga negara harus bayar pajak, urusan perkara pemilihan umum, sistem perbankan, hingga hak asasi manusia.

Kita kemudian menemukan kalimat: “Mulai sekarang harus kau tanamkan ke kepalamu bahwa hak asasi itu sama pentingnya dengan sepiring nasi. Bisakah kamu enak tidur tanpa melahap nasi sepiring pun? Tak seorang pun, sekali lagi tak seorang pun, yang diperbolehkan merampas hak itu darimu. Begitu hakmu itu terampas, kamu bukan lagi manusia, melainkan semacam segumpal asap.”

Tafsir dari hal-hal penting dalam hajat hidup bernegara sejatinya terkadang dikaburkan dengan hal aneh dan menggelikan, yang mengisi dan membuat ingatan pada diri orang-orang. Dahulu, Denys Lombard lewat bukunya berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya Bagian I: Batas-Batas Pembaratan Cetakan Kedua (2000), hanya berbicara bagaimana kebudayaan bagaimana orang Jawa memperlakukan keberadaan piring: “Sebagaimana halnya masakan China, masakan Jawa telah disiapkan untuk sesuap-sesuap, dan tidak perlu dipotong di piring. Pada umumnya sendok dipegang di tangan kanan lalu diisi makanan yang didorong dengan garpu. Meskipun demikian, ritus meja tidak seketat di Barat.”

Kini dan esok, tentu saja situasinya akan terus berubah.


Joko Priyono, penulis lepas bergiat di Lingkar Diskusi Eksakta, tinggal di Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s