Seruan dan Silam

Bandung Mawardi

SEKIAN hari lalu, PON telah meramaikan Papua. Orang-orang memberi perhatian meski tak sebesar masa lalu. Dulu, keluarga-keluarga biasa duduk di depan televisi untuk menonton PON. Mereka menikmati siaran TVRI. Pada masa berbeda. acara-acara di televisi dan media sosial mengurangi kemauan menonton PON. Perhatian pun kurang dalam mengenali “Bumi Cenderawasih”.

Murid-murid SD pernah mendapatkan beragam pelajaran mengenai Irian Barat atau Papua. Sekian nama atau julukan disampaikan dengan penjelasan dan cerita. Sejarah masih samar-samar. Dulu, pengetahuan sedikit mengakibatkan muncul sejenis pengabaian dan sepintas saja. 

Masa demi masa, masalah-masalah Papua bermunculan. Pelajaran di sekolah tak lengkap. Pegetahuan di rumah kurang referensi. Di depan televisi, Papua kadang tak selalu keindahan. Pengenalan perlahan menguat saat orang-orang Papua berperan besar dalam sepakbola, industri hiburan, dan politik. Bocah-bocah berubah anggapan tentang Papua. Referensi tetap terbatas.

Hal terindah bagi bocah-bocah untuk mengenali Papua adalah menggambar peta. Mereka gampang ingat bentuk pulau. Binatang khas terketahui. Hal-hal berkaitan adat pun diingat saat pelajaran. Tema di sekolah berbeda dengan rumah. Keluarga-keluarga di Indonesia mungkin belum getol dalam pengenalan sekian suku bangsa melalui bacaan, menonton film, percakapan, atau pemasangan peta di dinding.

Dulu, lagu-lagu mengisahkan Papua. Penggarapan film “penerangan” atau cerita berusaha mengakrabkan Papua. Berita-berita terus hadir di koran dan majalah. Papua itu indah. Pemahaman agak berubah bagi bocah dan remaja saat mengetahui kebijakan-kebijakan pemerintah mengesankan di sana biasa terjadi keributan, diskriminasi, atau bisnis pelik. 

Kejatuhan rezim Orde Baru memberi perubahan besar. Papua makin diceritakan dan diberitakan. Keberpihakan untuk pemajuan Papua dilakukan pelbagai pihak. Kebijakan dan gagasan pariwisata makin membuat orang-orang penasaran Papua.    

Kita ingin mundur ke masa lalu. Sejak lama, masalah Papua memicu perhatian periset, pengarang, dan wartawan menulis buku. Kita memilih buku tipis berjudul Irian Barat (1952) garapan Julli Effendie terbitan Noordhoff-Kolff.

Peringatan dari penulis: “Adalah hal jang menjedihkan sekali, kita sampai tidak begitu tahu, tentang keadaan dari bangsa kita sendiri jang ada di sana itu. Sampai kita tidak tahu, bagaimana tjara mereka hidup dan berfikirnja, adat-istiadatnja, bagaimana tjara mereka hidup, dan mengenai apa jang mendjadi kepertjajaan dan pandangan hidupnja.” Pada masa 1950-an, kita ingat Soekarno sering berpidato dengan tema Papua. Dulu, tema itu besar dan menggelora secara politik.

Papua bersejarah tapi sedikit terbaca. Kita diajak ke silam oleh Julli Effendie: “Dan pada djaman perdagangan rempah-rempah dengan bangsa Spanjol pada abad ke XV, Irian Barat ini mempunjai hubungan erat dengan keradjaan-keradjaan di Djailolo dan Batjan. Nama-nama dari pedagang Spanjol, jang sudah singgah dipulau ini ialah Francisco Rodriguez dalam tahun 1517, Antonio Pifagetta dalam tahun 1521, dan Inigo de Retes dalam tahun 1545.” 

Pada abad XXI, kita menantikan penerbitan buku-buku dan pembuatan acara-acara untuk anak di televisi agar mengenali Papua, tak seperti orang-orang dalam pelajaran-pelajaran masa Orde Baru. Buku-buku lama cukup menggoda dijadikan acuan meski memerlukan ralat dan penambahan atas hal-hal mutakhir sedang berlangsung di Papua telah mengalami “pemekaran” oleh pemerintah. Papua justru tema terpenting dalam “membenarkan” sejarah dan kemauan memberikan kemuliaan telah lama tertunda. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s