Tabah Tak Menyerah

Adib Baroya

DALAM hidup, seseorang tak bisa menerka apa yang akan terjadi. Yang bergulir belum tentu sesuai dengan angan atau ekspektasi. Namun, apalah yang patut dilakukan selain berupaya, bertungkus-lumus sepenuh jiwa, sekuat tenaga.

Sekian peristiwa membentuk biografi pada masing-masing diri. Semuanya justru jalin-menjalin, tumpang-tindih, menjadi satu. Dari yang suka, riang, gembira, bahagia, haru-biru, sampai nestapa-derita. Tiap cobaan atau derita yang mendera bakal jadi pelajaran paling berharga, seperti yang diobral motivator juga poster-poster inspiratif yang berseliweran di media sosial itu. 

Kisah-kisah bertabur derita tapi dijalani dengan cinta dan berterima hadir dalam buku Mansur Samin berjudul Urip yang Tabah (1975). Buku terbitan Balai Pustaka ini ditujukan untuk anak-anak umur 10-12 tahun. Bisa dibilang ini adalah buku Mansur Samin kedua belas. Sebab, keterangan di sampul belakang, baru tertera 11 buku yang sudah diterbitkan. NS Nilosrobho tampil sebagai ilustrator. Di sampul depan, ada gambar sesosok yang terduduk sendiri, tanpa alas kaki. 

Seperti di judul, tokoh utama bacaan ini bernama Urip. Bentang cerita berpusat padanya. Penokohan Urip tampak humanis dan wajar. Berikut teman-temannya. Ada yang nakal, usil, cerdik, banyak akal, juga setia. 

Urip adalah remaja tanggung, bertubuh agak jangkung. Umurnya hampir dua belas tahun. Rambutnya pirang, sejumput selalu terjulur di keningnya. Kalau bicara suaranya keparau-parauan. 

Urip murid kelas VI Sekolah Dasar “Kurnia”. Ayahnya seorang tukang becak, bernama Pak Gimin. Sedang ibunya telah lama meninggal. Sehari-hari, Urip hanya bersama sang ayah, tak pernah bertemu dengan ibu. 

Suatu waktu, kabar duka akhirnya menimpa Urip. Ayahnya mendadak menyusul ibunya ke surga. Itu terjadi gegara: “Beca yang dikemudikan Pak Gimin menghindari mobil yang datang dari depan. Tiba-tiba datang mobil lain dari belakang dengan cepat. Beca bergegas meminggir. Tapi mobil yang datang dari depan menubruk beca. Beca remuk.” 

Halaman-halaman awal lekas mengabarkan duka. Berita buruk pun menggema. Kedua orangtua Urip lantas sama-sama tiada. Ia tinggal sebatang kara. Di dunia, ia tak tahu lagi apa yang akan dilakukannya. Kesedihan mendekap erat, menyelimutinya. Urip menangis sejadi-jadinya.

Dari sekelumit kisah pembuka ini, membenarkan apa yang ditulis Setyaningsih, saat menjelaskan Mansur Samin di buku Kitab Cerita: Esai-esai Anak dan Pustaka 2 (2021): “Muncul keserupaan tokoh anak-anak di sekitar keretakan keluarga dan kemiskinan. Mereka segera menjadi yatim atau piatu”. Terbukti! Kedua tema ini rajin digarap para pengarang Indonesia. 

“Kondisi kemiskinan dalam fiksi realis anak masa 70-an,” tulis Setyaningsih, “nyaris menjadi ciri khas yang tidak mungkin diabaikan penulis”. Kita mengerti ada tema laris dalam sastra, dari masa ke masa. 

Kehilangan anggota keluarga memang pedih tiada terkira. Apalagi, ini menimpa bocah belasan tahun dan masih duduk di bangku SD. Kebingungan atas orientasi hidup sangat mungkin terasa, juga tiadanya (lagi) tempat bersandar dan melabuhkan harapan-harapan. Kematian jelas meruntuhkan segala-galanya. Kita mungkin meratap dan hanyut. 

Tak ingin berlarut-larut dalam kubangan sedih, Urip mencoba bangkit perlahan-lahan. Ia tak gentar meski guntur menggelegar. Untungnya, Pak Darso, yang berprofesi tukang becak seperti ayahnya, menawari Urip tempat tinggal. Pak Darso berani menanggung hidup Urip walau Pak Darso sendiri sudah pas-pasan. Ini mencandrakan ikatan (kekeluargaan) dan rasa saling memiliki tidak dibiarkan terputus. Nasib Urip masih terselamatkan. 

Pak Darso berani menanggung hidup Urip walau Pak Darso sendiri sudah pas-pasan. Ini mencandrakan ikatan (kekeluargaan) dan rasa saling memiliki tidak dibiarkan terputus. Nasib Urip masih terselamatkan.

Di sana, Urip memilih membantu bibinya, alias isteri Pak Darso, dengan berjualan kue. Rutinitas belajar tergantikan dodolan kue. Ke mana-mana, kini Urip bawa bakul wadah kue. Membantu berjualan mungkin jadi upaya untuk ucapan terima kasih demi balas budi, demi memutar roda perekonomian, atau belajar mandiri. 

Kisah bocah yang berjualan juga muncul dalam bacaan anak yang pada 2010 cetak ulang ketiga puluh empat, berjudul Si Dul Anak Betawi garapan Aman Dt Madjoindo. Si Dul berdagang nasi ulam dan ketan urap. Ia berjalan, berteriak sepanjang gang, sembari menyunggi tampah di atas kepalanya: “Banyak orang membeli nasi ulamnya. Tetapi banyak pula yang menengok saja dari pintu rumah. Mereka tertarik oleh teriak si Dul yang berbeda lagunya dari teriak anak-anak yang lain.” 

Cara berteriak Si Dul memang terbilang unik. Ia bermain-main bahasa. Begini: “Ayoh, nasi ulam segobang-gobang. Belilah mpok, belilah abang! Ayoh nasi ulam kelapa parut! Beli satu kenyang perut!” 

Bila Si Dul masih berkisar pada polemik tentang dirinya boleh masuk sekolah atau hanya mengaji, Urip ingin banget sekolah. Ini membedakan masa-masa saat institusi sekolah pada masa Si Dul yang belum mapan ditambah gesekan antara idealisme engkongnya sendiri. Sungguh beda dengan latar waktu kisah Urip. 

Sejatinya, Urip terbilang tekun dan masih ingin belajar, menikmati buku-buku dan mengenyam pelajaran. Namun, kendala biaya (administratif) justru merintangi niat tulus-mulianya. Pihak sekolah tak membolehkan satu muridnya menunggak atau bermasalah soal pembayaran. Penyelenggara pendidikan berhitung nominal-nominal rupiah belum tentu memihak ke murid. Apapun yang terjadi, urusan duit mesti beres! 

Dibantu beberapa teman, Urip tetap bisa mengikuti pelajaran tanpa terlambat. “Setiap pulang kami dari sekolah, datanglah ke rumahku. Salin pelajaran hari itu. Kutunjukkan batas-batas pelajaran yang dipelajari di sekolah,” begitu tukas Pono. Pono meminjam buku-bukunya, lalu Urip menyalin pelajarannya hari itu.

Otomatis Urip tak dapat lagi meruangi kelas. Teman-temannya mengajak Urip merasakan hawa pelajaran meski di luar kelas. Ia menyimak pelajaran dari jendela! Di daun jendela itu, ia melongok guna mengikuti omongan-omongan sang guru. Ia tidak sedang meraup cahaya matahari yang puitis atau memandang panorama elok. 

Setelah beberapa hari, Urip akhirnya ketahuan sering berdiri di jendela. Pak Guru yang baru tak membolehkan ia ada di tempatnya. “Saya kira masih Pak Noto guru kalian. Saya melongok dari jendela. Untung saya tidak dipukul!” gumam Urip seraya mengawasi sekeliling. 

Tak habis di akal. Jawaban-jawaban atas kesulitan tetap saja muncul secara kebetulan atau ajaib. Tempo melihat ada lubang besar di dinding, Pono berpikiran: “Dari sana Rip, kau dapat mengikuti pelajaran. Besok saya besarkan lobang itu supaya lebih besar.” Daun jendela tak boleh, lubang dinding pun jadi! Sementara itu, telah beberapa kali pula, Urip diusir karena berjualan kue di sekolahan. Kasihan. 

Dari awal sampai akhir, cobaan terus saja mendera sebelum tiba di depan pintu gerbang kebahagiaan. Kisah yang didaratkan Mansur Samin lewat tokoh Urip ini, bisa jadi tanggapan solutif atas segala kesulitan-kesulitan hidup, lebih-lebih yang dialami bocah. Ketabahan adalah jawaban di segala keadaan. 

Hidup memang tak selalu mulus. Penuh liku dan kelokan tajam-terjal, hingga perlu pertaruhan-perjuangan juga kekuatan hati menanggung segala beban. Jalan hidup lebih nikung timbang sirkuit MotoGP!


Adib Baroya, penulis tinggal di Sragen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s