Kopi: Pengindahan dan Pengingat

Indri K

“INI silakan satu kopi tubruk,” kata Ben, seorang barista ganteng dari sebuah kedai kopi

“Apa nih filosofinya?” kata pria yang memesannya. 

“Kopi tubruk itu kopi yang lugu, kopi yang sederhana. Tapi kalau kita mengenalnya lebih dalam, dia akan sangat memikat,” Ben kemudian menunjuk ke dalam cangkir. 

“Kopi tubruk itu sama sekali tidak memperhatikan penampilan. Membuatnya pun gampang, tinggal diseduh. Tapi tunggu sampai Mas kecium aromanya. Hmmm…” 

“Kereeeen..,” kata sang pelanggan. 

“Kalau cappucino artinya apa?” lontar seorang pelanggan wanita sambil berkedip genit pada Ben.

“Mbak Ayu Ting-ting nanyanya cappucino terus.” 

“Habis enak sih,” sahut pelanggan masih terus kemayu. 

Cappucino itu kopi yang genit, ketebalan dan tekstur foam harus presisi. Butuh standar penampilan yang tinggi. Cappucino harus terlihat seindah mungkin,” jelas Ben sambil menciptakan suatu  gambar dedaunan yang terbuat dengan menuangkan foam ke dalam cangkir. 

“Karena cappucino adalah kopi yang cocok untuk orang yang suka keindahan sekaligus kelembutan.”

Dialog-dialog itu terucap dari kepingan adegan dalam film Filosofi Kopi (2015) dibintangi dua aktor ganteng Rio Dewanto dan Chicco Jericho sebagai pengelola sebuah kedai kopi kecil di ibukota. Ide cerita dipastikan terinspirasi dari tren gaya hidup peminum kopi modern yang semakin merebak sejak masa 2000-an di Indonesia. Kopi tidak lagi hanya muncul di warung-warung melainkan ada di mal-mal dan jalan protokol. 

Kopi menjadi konsumsi global sejak munculnya gerai Starbucks di hampir semua belahan dunia. Gerai kopi dikenali dari logonya berwarna dominan hijau dan putih, bergambar seorang wanita dengan rambut panjang dan memakai mahkota. Logo ternyata merupakan gambar Dewi Siren berekor dua, diambil dari mitologi Yunani, dewi di lautan yang menggoda para pelaut dan kemudian melahapnya. Kopi bagi Starbucks merupakan senjata perayu dan penggoda pria. Jaman dulu kaum pria identik dengan pelaut dan peminum kopi. 

Indonesia kaya akan  biji kopi dan minuman kopi. Kemudahan menikmati kopi  ditemukan lewat kopi-kopi instan kemasan. Tersedia dalam pilihan bubuk kopi saja atau bubuk kopi campur susu dan gula, biasa disebut kopi tri-in-wan. Minum kopi instan itu murah dan mudah. Jika malas menyeduh sendiri, pergi saja ke warung tinggal nyebut saja: “Mbak, satu kopi luwak, tanpa gula satu! Sama mendoannya dua ya, ini sudah tak ambil.” 

Di  warung tenda, secangkir kopi hanya dihargai lima ribu perak, murah, tidak perlu godog air dan nyuci gelas sendiri. Minumnya pun tidak pakai lama, disruput sambil ngemil gorengan, tidak sampai sepuluh menit sudah selesai.  Cara pemesanan, menu dan harga tentu beda dengan kedai-kedai kopi modern. Demi minum secangkir kopi kita harus lebih dulu mengantre dan membayar. Menyebut pesanan juga butuh mikir menunggu ditanya: “Mau order apa, Kak?” 

Ice caramel machiato.”

“Esnya?”

Less aja, Mas”

“Gelasnya ukuran apa?”

Grande,

“Untuk gulanya?”

Non-fat sugar two pump extra shot.

Tak ketinggalan nama pemesan ditanyakan, bukan untuk diajak kenalan atau mau dicomblangi, melainkan untuk dituliskan pada gelas pesanan, supaya tidak tertukar dengan milik pembeli lain. 

Rentetan  pertanyaan diajukan bagai  wawancara kerja, dijamin membuat bingung orang yang ingin beli kopi untuk pertama kali. Mau minum kopi saja kok ribet!  Masih disuruh  membayar dulu baru menunggu pesanannya. Harga segelas kopi Starbucks rata-rata dibandrol empat puluh ribu rupiah. Harga yang berkali-kali lipat daripada kopi di warung. Agar cucuk dengan harga yang dibayarkan, pembeli kopi diperbolehkan duduk berlama-lama sambil meneguk kopi sedikit demi sedikit. Fasilitas pendingin ruangan dan akses internet gratis juga tersedia, sehingga pelanggan bisa tetap bekerja sambil ngopi. 

Ajang arisan dan nongkrong bareng teman juga bisa diadakan di sini bila tidak saat jam-jam santap makan. Cukup pesan satu gelas kopi saja sudah diperbolehkan duduk ngobrol berjam-jam. 

Kini,  kopi tak lagi dimonopoli kaum pria. Para wanita tak mau ketinggalan menikmati kopi juga nongkrong di kedai kopi. Menjadi sebuah tren dan perubahan gaya hidup, menjadikan secangkir kopi sebagai pengganti sarapan.  Secangkir kopi berguna sebagai  penyemangat di pagi hari. Orang terbiasa kopi tidak bisa beraktivitas tanpa kopi sebagai awal hari. Tanpa kopi kepala berat, tidak bisa diajak berpikir, ditambah cepat mengantuk  menjadikannya tidak produktif seharian. Bahkan pecandu kopi bisa sehari tiga kali menikmati kopi. Hidup tanpa kopi katanya kurang nikmat. 

Popularitas kopi jugalah yang dalam dekade terakhir ini turut membunuh bisnis minuman soda yang dulu pernah menjadi idola di abad XX. Minum kopi dianggap lebih prestise di mata masyarakat daripada minum soda. Di buku berjudul Millenials Kill Everyting (Yuswohady, 2019), terbaca keterangan: “Sejak tahun 2000-an muncul tren pergeseran gaya hidup sehat di masyarakat dari menghindari lemak berubah menjadi menghindari gula. Minuman bersoda manis masuk sebagai top priority jenis minuman yang harus dihindari.” Sebagai penggantinya, kaum milenial beralih ke air minum, jus buah serta kopi. 

Makin bertambahnya penggemar kopi, menambah menjamurnya kedai-kedai kopi bermerek lokal. Berlomba-lomba meracik kopi terenak dengan harga terjangkau. Promosi kebanyakan dilakukan melalui aplikasi-aplikasi layanan antar. Jika kita membuka aplikasi akan muncul nama-nama kedai kopi unik. Selain bernama unik, kedai kopi juga menambahkan kata-kata mutiara agar lebih mudah mempopulerkan nama. 

Kopi Janji jiwa berslogan “kopi dari hati”, disertai gambar tangan dengan kelingking pengikat janji. Minum kopi diharapkan akan selalu ingat dan pegah teguh janji. Lain lagi dengan kedai Kopi Kenangan. Logo Kopi Kenangan disertai simbol hati di sampingnya, bermaksud membangkitkan arti “kenangan” itu sendiri bagi tiap-tiap pelanggan. Kenangan bermakna mendalam, sesuatu yang tentu saja dikenang, tak mudah terlupakan. Meminum kopi, menghadirkan memori masa lalu yang ingin selalu diingat. Kenangan itu timbul dari hati yang terdalam, mahal harganya.  Kemudian ada yang menamai kedai dengan Kata Kopi, slogannya  “Karena kopi itu kata”. Pemberi nama berpikir, lewat kopi ingin mengungkapkan kalimat puitis. “Nikmatnya kopi, indahnya senja hari ini, juga kamu yang ada di sisi.” Kopi digunakan sebagai tema berpuisi dan menggombali pelanggan agar hati berbunga-bunga saat meneguk.

Kopi sudah lama berkata-kata dalam buku. Di novel Karnak Café (2008) gubahan Naguib Mahfoudz, kita menemukan sebuah kafe yang menjual kopi sebagai salah satu menunya. Namun bukan hanya kopi yang menjadi daya pikatnya, namun orang-orang yang datang dan pergi di kafe. Ruangan ditata sedemikian nyaman, meski sederhana hanya berupa satu ruangan besar, penataannya rapi dan teratur. Dindingnya ber-wallpaper dengan kaca cermin di sekeliling juga lampu berwarna-warni. Peralatan makan yang digunakan bersih. Menjadikannya makin layak sebagai tempat untuk bersantai dan berbincang.

Dikelola oleh seorang wanita mantan bintang penari di tahun 1940-an, keanggunannya menjadikan kafe lebih memikat. Kafe yang dirindukan oleh para pengembara. Tamu suka menikmati kopi dan juga cerita-cerita masa lalu: “Dari dulu hingga sekarang, kafe ini menjadi tempat berkumpulnya orang-orang ekstrem dan berpandangan provokatif; baik yang berteriak keras-keras ataupun yang bicara pelan-pelan, mereka mengekspresikan kenyataan sejarah yang ada.” Perbincangan menyoal revolusi dan penuh bahaya terucap didampingi secangkir kopi pahit. Manusia antusias revolusi sebagian berkomentar: “Masa lalu tidaklah selamanya buruk.” Seperti halnya kopi, meski pahit, tetap tersimpan sensasi yang tersembunyi.  

Kita tidak akan bisa menyamakan kopi dengan air tebu maupun minuman soda. Mau sesempurna apa pun meramunya, mau pakai biji kopi apa pun, kopi tetap kopi, tetap ada sisi pahitnya yang tidak dapat disembunyikan. Pahit kopi menjadi candu, kenikmatannya menjadi pengalih sekaligus pengingat. Karena dari kopi kita belajar tentang kehidupan bahwa rasa pahit itu juga dapat dinikmati. 


Indri K., penulis tinggal di Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s