Ruang Anak Bajang (1)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan di harian KOMPAS

Introduksi

Ruang Anak Bajang lapang membentang. Dua puluh satu hari perjalanan tertinggal di belakang. Masih ada empat purnama yang segera datang. Melangkah, berlari, terbang, berenang, tak bisa lagi ia dikekang. Tak juga oleh sang pengarang, yang seakan hanya comblang, pelantarnya dari tempat remang-remang ke ajang gamblang.

Untuk apa kita repot-repot mengikuti tingkah polahnya? Sepenting itukah nilai perjalanannya untuk kita cermati? Apa yang kita pertaruhkan jika begitu saja melupakannya, berlalu, dan menjalankan tugas sehari-hari seperti yang sudah-sudah?

Berkesenian – termasuk di dalamnya bersastra – telanjur melekat pada kehidupan makhluk berakal budi, alias manusia. Seribu satu alasan mudah dicarikan dari berbagai tulisan populer maupun ilmiah tentang motif dan perlunya berkesenian. Salah satu yang mewakili, mungkin, sebagaimana dilontarkan John Keating, guru bahasa dan sastra Inggris dalam film “Dead Poets Society” (1989): “Kedokteran, hukum, bisnis, teknik, ini merupakan pencarian mulia, dan diperlukan untuk menopang kehidupan. Tapi puisi, keindahan, romansa, asmara, untuk inilah kita hidup.”

Memang Anak Bajang Mengayun Bulan baru mulai. Namun, mempertimbangkan susastra serupa oleh penulis yang sama, yaitu Anak Bajang Menggiring Angin (Sindhunata, 1981) yang buku novelnya sudah dicetak ulang kedua belas tahun ini – hingga boleh diartikan setiap kemunculannnya selalu disambut hangat oleh penikmat sastra – tentu karya yang berikutnya pantas mendapatkan perhatian kita. Kalaupun dari situ tidak kita temukan alasan untuk meneruskan hidup, setidaknya kita dapat sejenak melepas penat sehari-hari dengan bersenang-senang bersama si anak bajang.

Trivia

  1. Anak Bajang Mengayun Bulan terbit pertama sebagai cerita bersambung harian di koran KOMPAS mulai Senin Legi, 27 September 2021.
  2. Anak Bajang Mengayun Bulan (ABMB) bukan kelanjutan dari Anak Bajang Menggiring Angin (ABMA) yang terbit pertama sebagai cerita bersambung mingguan di koran KOMPAS sepanjang tahun 1981.
  3. Anak Bajang Mengayun Bulan diangkat dari lakon Sumantri Ngenger, dengan tokoh cerita sepasang saudara, Sukrasana dan Sumantri. Sedangkan Anak Bajang Menggiring Angin dari epos Ramayana yang berlakon sepasang kekasih, Sinta dan Rama.
  4. Sumantri Ngenger berlatar waktu mendahului Ramayana, dengan dua karakter yang muncul di kedua wiracarita ini, yaitu Rahwana dan Resi Ramabargawa. Maka, kalaupun perlu memberikan posisi pada kedua cerita (ABMA dan ABMB), mungkin boleh dikatakan ABMB prekuel bagi ABMA yang malah duluan lahir.
  5. Secara literal, bajang berarti kerdil, bersinonim juga dengan katai. Dalam KBBI daring (diakses 16 Oktober 2021), kata bajang punya dua arti, yaitu: (1) hantu yang berkuku panjang, yang menurut kepercayaan sebagian masyarakat, suka mengganggu anak-anak dan wanita hamil, dan (2) tangkai padi yang kecil, biasanya tumbuh tidak sama tinggi dengan tangkai padi yang lain, walaupun umurnya sama. Dalam astronomi dikenal bintang bajang putih atau bintang katai putih, yang merujuk pada ukurannya yang kecil, jika dibandingkan bintang raksasa.
  6. Istilah “anak bajang” pada cerita ABMA dan ABMB mengacu pada Suluk Bocah Bajang. Suluk adalah lagu, kidung atau tembang yang dilantunkan oleh dalang untuk menggambarkan keadaan atau suasana yang terjadi dalam pakeliran. (id.quora.com) Pakeliran adalah semua bunyi vokal maupun instrumen yang dipergunakan untuk mendukung suasana yang ingin dibangun dalam pementasan wayang. (id.wikipedia.org)
  7. Suluk Bocah Bajang berlirik: bocah bajang nggiring angin, anewu banyu segoro, ngon ingone kebo dhungkul, sa sisih sapi gumarang. Artinya: anak bajang menggiring angin, menguras air samudra, berkawan kerbau bodoh dan sapi pintar. Maknanya: Dalam jagad wayang, anak bajang dipersonifikasi sebagai anak cacat (kerdil). Namun, di balik ketidaksempurnaannya, ia punya kemauan yang luar biasa kuat (untuk menguras isi samudra/pengetahuan). Dalam diri si anak bajang ada kebodohan (kerbau) sekaligus kepintaran dan keberanian (sapi gumarang). (aksara.com)
  8. ABMA yang terbit di KOMPAS sepanjang 1981 kemudian dibukukan perdana pada 1983. Adakah ABMB akan menjalani takdir serupa?

Resume per tujuh hari pemuatan di KOMPAS

Tujuh episode pertama:

Seorang raksasa bajang tinggal sebatang kara di hutan Jatirasa. Mestinya ia kesepian karena tak ada yang sejenisnya di hutan ini. Apalagi penampilan wajah dan badannya sangat mengerikan, tak tampak keindahan sedikit pun. Namun, nyatanya ia menemukan kehangatan keluarga dari binatang-binatang hutan. Mereka tidak keberatan dengan keburukan fisiknya dan hanya merasakan kebaikan hatinya. Sepanjang matahari bersinar ia dan anak-anak binatang bermain-main menjelajahi hutan, dan pulan ke sarang masing-masing jelang petang. Hingga suatu malam terang bulan, raksasa bajang enggan masuk ke gua rumahnya karena mendadak dicekam kesepian yang menyakitkan. Benar saja, cahaya bulan ternyata mengantarkan sesosok perempuan yang darinya ia dapat meluapkan kerinduan pada seorang ibu. Perempuan itu pun mengaku bahwa ia adalah ibunya.

Cerita beralih ke pertapaan Jatisrana di kaki gunung Jatimuka. Di situ tinggal seorang begawan bernama Swandagni yang ahli bertapa, bersama dengan istrinya yang cantik jelita, Dewi Sokawati. Di balik ketenteraman hidup, mereka merasa belum sempurna, yaitu tiadanya anak sebagai keturunan mereka. Mereka berdua mengkhayalkan kehadiran seorang anak yang akan menyemarakkan rumah. Di tengah keindahan alam pertapaan, mereka terbawa perasaan dan percakapan mengenai cinta dan nafsu.

Tema: kesunyian yang mengundang perenungan jati diri, kerinduan yang segera dipenuhi, cinta dan nafsu

Kutipan terpilih: “Selama ini kita melihat bulan sebagai terang. Kita tak mau melihat, bulan adalah bagian dari kegelapan. Tidakkah bulan bisa terang hanya karena ia berada dalam kegelapan?” (Begawan Swandagni pada Dewi Sokawati, episode 7)

Glosari: kalangkyang, tadahasih, cataka, sendaren, (me)lantam, renjana

Episode 1: Deskripsi hutan Jatirasa. Deskripsi raksasa bajang (badan kecil, kulit hitam, gigi beringgit, taring tajam keluar, hidung mengguntung, dahi menggantung, mata membelalak, leher cekak, rambut merah dan jarang, kaki pendek, punggung bungkuk sabut, pantat menggerumuk mangkuk, perut buncit). Penampilan buruk raksasa bajang tidak meninggalkan kesan pada penghuni hutan, semua hewan dan tumbuhan mencintainya. Hutan yang mestinya seram dan menakutkan ternyata damai dan indah. Anak-anak binatang akrab dan senang ditemani raksasa bajang untuk bermain sepanjang hari. Induk-induknya pun percaya pada raksasa bajang. Raksasa bajang serta anak-anak binatang bersenda gurau, berkejaran, berenang di telaga. Tanaman-tanaman turut bergembira. Jelang petang mereka pulang, diiringi raksasa bajang yang menggenggam batang daun kelapa mirip lidi jantan bercahaya.

Episode 2: Raksasa bajang pulang ke guanya, berpisah dengan anak-anak hewan yang pulang ke induknya masing-masing. Gua anak bajang terletak di tebing tinggi dengan sungai mengalir deras di bawahnya. Malam terang bulan mendorong raksasa bajang tetap di luar gua. Ia merasa hampa seorang diri, ditemani suara kalangkyang yang tajam meratapkan kerinduan mendalam. Setelah bersuka ria seharian, kesunyian malam mencekamnya. Perenungan raksasa bajang tentang makna kegelapan, kesepian, tapi juga kehangatan dan harapan. Aneka bunga mewarnai perasaannya.

Episode 3: Perasaan raksasa bajang disergap kesepian yang mengerikan. Ia sedih tak bisa menolong jiwanya yang merana berduka karena hidup sebatang kara. Kesedihannya ditemani suara tadahasih. Renungan raksasa bajang akan kesendiriannya selama ini yang sekarang mulai mengganggu kedamaiannya. Pertanyaan-pertanyaan raksasa bajang pada alam tak menemukan jawab. Namun, kegelapan malah mengajaknya menari. Kegelapanlah yang ternyata memandikannya, menyucikannya, menimangnya, menyelimuti, dan menghangatkannya.

Episode 4: Raksasa bajang dihibur terang bulan yang mempercantik bunga-bunga di sekitarnya. Ternyata cahaya bulan ini mengantarkan sesosok perempuan yang langsung memeluknya erat-erat. Kerinduan raksasa bajang seakan terbayar. Kicau cataka burung musim penghujan mewarnai kebahagiaan raksasa bajang. Perempuan itu menangis. Namun, raksasa bajang belum mengenalnya meskipun bisa merasakannya. Saat raksasa bajang menyusu pada perempuan itu barulah ia tahu bahwa ia sedang menyusu pada ibunya.

Episode 5: Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai ibu raksasa bajang. Keduanya berkomunikasi dengan bahasa masing-masing namun dapat saling merasakan. Ketika hari terang, para anak binatang yang menjemput raksasa bajang di rumahnya pun keheranan melihat sahabatnya berkasih-kasihan dengan seorang perempuan. Mereka berdua terus memuaskan kerinduan satu sama lain hingga semua mengerti bahasa yang digunakan. Ungkapan perempuan itu mengandung penyesalan, yang sekaligus membuka kisah sebelum pertemuan ini terjadi.

Episode 6: Deskripsi pertapaan Jatisrana di kaki gunung Jatimuka, tempat tinggal Begawan Swandagni dan istrinya, Dewi Sokawati. Keluh kesah Dewi Sokawati yang merasa keperempuanannya belum sempurna. Di balik kehidupan tenteram mereka masih ada keinginan yang belum mewujud, yaitu keturunan. Mereka berdua mengkhayalkan kehadiran anak yang pasti akan meramaikan hidup mereka.

Episode 7: Percakapan suami istri, Begawan Swandagni dengan Dewi Sokawati, mengenai terang dan gelap, kesucian dan asmara, sebagaimana cinta dan nafsu.


Dian Vita Ellyati, penyuka sastra, tinggal di Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s