Panu!

Anggrahenny Putri

ANAK berusia delapan tahun masih mendekatkan pipinya yang bertotol obat panu ke depan kipas angin. “Panas”, katanya selalu pada bapak yang rajin menotolkan obat panu di bercak-bercak putih kulit di pipi anak. 

Anak bermain dengan suka cita, serba terburu-buru membersihkan wajah. Saat mandi ia bergegas karena ia telah terlalu lama bermain sehingga ibu harus memanggil sambil memegang sapu. Dalam tuntutan waktu agar ibu tak makin marah ia pergi mandi, menggosok sabun sekenanya. Tangan tak merata, badan tak terseka seluruhnya, kaki bagian paling bawah pun hampir luput jika ibu tak meneriakinya dari luar: “Mandi yang bersih!” Walau ibu telah berteriak pun tak ada manfaatnya. Anak tetap mandi seadanya. Panu riang menghuni pipi sebagai penghias yang mencolok antara panu yang putih dan kulit melegam terbakar matahari. 

Dahulu anak disebut bertambah kemandirianya karena berhasil mandi sendiri. Ibu tak lagi repot menggosok badan sampai pedih. Usaha kemandirian harus dibayar dengan panu. Kemampuan mandinya masih terpengaruhi oleh teman yang sudah menunggunya bermain atau ibu yang kadung meraung-raung karena hari telah hampir gelap. Sehingga, mandi bukan bertujuan membersihkan diri namun sekadar menuntaskan kewajiban. 

Saat wajah mulai berpeluh, panu menimbulkan gatal. Digaruk dengan tangan seadanya yang membuat panu makin banyak “temannya”. Anak dan panu sama-sama tahu, mereka berteman karib sejak usia beranjak mandiri. Sesama anak tak merasa malu, justru orangtua yang saling mengejek panu-panu sekawan anaknya.

Betapa memalukannya orang dewasa yang juga berpanu. Panu adalah aib yang harus ditutupi beritanya. Tersebarnya berita panu merupakan suatu keterhinaan. Bertanya kepada penjaga apotek saat membeli obat panu saja bisa jadi urung, tak sanggup menanggung segan dianggap berpanu. 

Berbeda dengan perempuan yang terpajang dalam iklan Canesten, yang termuat dalam majalah Femina, 24 April 1984. Perempuan yang terpotong kepalanya pada gambar, menunjukan bagian ketiak, punggung, kaki dan tangannya: letak panu sering ditemui. Perempuan terselamatkan dengan penampakan bagian tubuh saja, tanpa menyodorkan wajah. Menunjukkan panu dengan jemari lentik terpoles cat kuku bukan cat tembok. 

“Jamur penyebab panu, kurap, kadas, gatal jamur dan kutu air ada di mana-mana”, begitu iklan Canesten menjelaskan. Jamur itu berlainan nama tergantung penampakan dan letaknya. Teriklankan berjamur pada foto dominasi kulit perempuan tak dianggap memalukan. Namun, tetap saja perempuan itu kesulitan memamerkan dirinya yang telah menjadi bintang iklan. Kesulitan membuktikan pada kerabat bahwa ia telah termuat dalam iklan majalah Femina. Ia mungkin malah tak sempat pamer pada sekitarnya sebab malu menunjukkan panu, khawatir orang malah akan menyelidik pada kaki tangan bahkan punggung dan ketiaknya. Penasaran dengan panunya! Serba salah jadinya.

Panu bisa muncul dalam kulit akibat jamur. Jamur bisa tumbuh di kulit akibat pemilik kulit tidak resik pun salah. Panu tak hanya lekat dengan anak tetapi sesungguhnya orang yang tinggal pada lingkungan yang panas hingga sering berkeringat dan lembab. Di Indonesia yang memiliki iklim tropis, orang rentan terkena panu. Namun, bukankan itu menarik? Panu khas Indonesia.

Di Indonesia yang memiliki iklim tropis, orang rentan terkena panu. Namun, bukankah itu menarik? Panu khas Indonesia.

Pemilik negeri empat musim konon katanya jarang mandi pasalnya jarang berpeluh. Dengan demikan, tak masuk akal pula bila panu dianggap penyakit orang yang jarang mandi. Panu memang sudah suratan bagi kita orang Indonesia. Kita boleh jarang mandi asal tak berkeringat, badan selalu kering. Sayangnya, bekerja tak berkeringat memang kurang elok. Keringat dianggap wujud dari kerja keras. Jadi bila bekerja tanpa berkeringat disangka belum bekerja. 

Keringat tak lagi berbau kecut, malah berbau harum. Panu sama dengan kerja.  Banggalah jika berpanau!

Melihat panu orang berkulit sawo matang bisa dibilang jamur pemberani. Warnanya yang kontras membuat ia mudah dikenali, hingga ia pantas disebut panu. Panu berani tampil walau tengah berada dalam situasi kulit lebih gelap. Siap dengan risikonya bakal diolesi obat jamur yang panasnya dapat membakar kulit. Berkulit terang malah kesulitan mengidentifikasi panu, mungkin hanya terasa gatalnya, biang keladi bersembunyi di balik kulit yang kadung terang dari sananya. Begitu artinya tak perlulah mengidealkan kulit terang dalam keseharian. Namun bila masih teguh pendirian bahwa yang terang selalu lebih baik, bisa saja kita “menernakkan” panu agar kulit kita putih merata. Kulit coklat dengan hiasan panu menandai kerja keras, keberanian, dan kelayakan di antara perbedaan yang kentara. 


Anggrahenny Putri, ibu suka membuat kliping, tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s