Menemukan Batas

Yulia Loekito

Mungkin setelah membaca buku ini, Anda akan memulai bisnis baru. Mungkin Anda akan bergabung dengan perusahaan yang sudah ada dengan satu misi yang menjadi komitmen Anda. Atau, mungkin Anda akan memutuskan sudah waktunya keluar dari pekerjaan Anda karena mulai menyadari pekerjaan Anda tidak lagi menunjuk ke arah yang sama dengan kompas moral yang Anda percayai. ((Nir Eyal bersama Ryan Hoover, Hooked: Bagaimana Aplikasi Membentuk Kebiasaan Kita, 2014)

          DALAM sketsa-sketsa film pada era sebelum telepon genggam atau telepon pintar—orang-orang perkotaan—bangun tidur biasanya ditandai dengan bunyi jam weker. Tangan orang sering digambarkan menggapai jam weker untuk mematikannya. Di era telepon genggam dan telepon pintar, fungsi jam weker digantikan oleh alarm telepon pintar. Zaman sudah begitu berubah, jangankan kokok ayam jantan, jam weker pun tidak banyak dikenal lagi.

          Tangan-tangan orang bangun tidur sekarang seringnya otomatis meraih telepon pintar. Bukan hanya untuk mematikan alarm, tapi juga untuk mengecek berbagai macam hal. Hidup di pagi hari kini jauh lebih riuh daripada kokok dan kotek ayam, lenguhan sapi, bahkan deru motor atau tumpukan pekerjaan. Satu sentuhan di layar telepon pintar biasanya jadi cikal bakal rentetan kegiatan di dunia maya sampai beberapa saat kemudian. Keasyikan atau terbelenggu, kegiatan pagi hari bisa keteteran. Air panas untuk menyeduh teh bisa menguap habis, telur ceplok pun bisa gosong, gara-gara si pelaku asyik membalas pesan email atau media sosial. Dunia maya punya banyak umpan untuk memancing agar kita berkegiatan tanpa batas. Dan itu bukan tidak disengaja!

          Kita simak kutipan lain dari dari buku Hooked: “Rasa takut akan kehilangan momen spesial yang menimbulkan sebersit rasa tertekan. Emosi negatif ini adalah pemicu internal yang membuat pengguna Instagram kembali menggunakan aplikasi tersebut, untuk menghilangkan rasa takut dengan cara mengambil gambar. Selagi pengguna terus menggunakan Instagram, pemicu internal baru pun terbentuk.” Nir Eyal memaparkan salah satu cara perusahaan pembuat aplikasi menggunakan perasaan pengguna sebagai umpan untuk selalu terikat dengan aplikasi. Seharusnya kita tidak begitu bodoh untuk terperangkap ke jerat yang sama lagi dan lagi. Barangkali kita hanya tidak terbiasa menetapkan batas-batas dalam hidup.

Seharusnya kita tidak begitu bodoh untuk terperangkap ke jerat yang sama lagi dan lagi. Berangkali kita hanya tidak terbiasa menetapkan batas-batas dalam hidup.

          Kita jadi penasaran apakah peristiwa ini hanya terjadi gara-gara munculnya teknologi dan dunia maya. Kita tengok sebentar penjelasan Yuval Noah Harari dalam buku Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia (2017): “Sementara orang-orang dalam masyarakat makmur masa kini bekerja rata-rata empat puluh lima jam per minggu, dan orang-orang di negara berkembang bekerja enam puluh jam atau bahkan delapan puluh jam per minggu, pemburu-pengumpul yang kini hidup di habitat-habitat paling tidak bersahabat—seperti Gurun Kalahari—bekerja rata-rata hanya tiga puluh lima sampai empat puluh lima jam per minggu. Mereka hanya berburu satu kali tiap tiga hari, dan mengumpulkan sumber daya hanya membutuhkan waktu tiga sampai enam jam setiap hari. Pada masa normal, itu sudah cukup untuk menyediakan makanan bagi kawanan …. Ditambah lagi, mereka menikmati beban pekerjaan rumah yang lebih ringan. Mereka tidak punya piring untuk dicuci, karpet untuk dibersihkan, lantai untuk dipel, popok untuk diganti, maupun tagihan untuk dibayar.”

          Jauh di masa purba, manusia hidup dalam batas-batas alami: iklim, ketersediaan makanan, jenis kegiatan, ruang gerak, migrasi tahunan hewan, juga siklus pertumbuhan tumbuhan. Namun, revolusi kognitif mengubah segalanya, manusia bisa berpikir dan memanipulasi banyak hal. Batas-batas itu kian lama bisa ditaklukkan, sehingga jangkauannya kian luas. Bergerak hingga hari ini, kita menyaksikan kemajuan dan peristiwa, bisa jadi manusia perlu latihan dan ketegasan menentukan batas-batas, karena yang alami makin terengkuh dalam kendali. Lebih jauh lagi, itu bisa dijadikan sumber-sumber penghasilan yang juga tanpa batas. Oh! Kita memang bermasalah dengan batasan.

          Nir Eyal justru mengungkap cara-cara aplikasi dalam ranah maya membentuk kebiasaan kita. Gamblang, Nir Eyal menunjukkan cara-cara pembentukan kebiasaan itu—dalam arti baik atau buruk—lalu mengusik kita, apa akan terus mengikuti atau tidak. Tulisan ini sangat berkait dengan  film dokumenter buatan Netflix yang rilis tahun 2020 di tengah wabah, The Social Dillema. Beberapa mantan pegawai perusahaan-perusahaan sosial media besar—yang dahulu punya peranan penting dalam bidangnya—bercerita. Kebanyakan bercerita tentang masalah etika dan moral yang akhirnya membuat mereka memutuskan mengundurkan diri dan menyerukan bahwa sesungguhnya di tengah perkembangan luar biasa ini, terselubung masalah besar.

          Di akhir film, kita tertarik dengan keputusan Justin Rosenstein—mantan pegawai Facebook yang menciptakan tombol like—memberi batas pada dirinya sendiri sembari mengingatkan dunia: “Aku sudah menghapus banyak aplikasi dari ponselku, yang kurasa hanya membuang waktuku. Semua aplikasi sosial media dan berita. Aku pun mematikan notifikasi pada apa pun yang menggetarkan kakiku dengan informasi yang tak tepat waktu dan penting bagiku saat ini. Karena alasan itu juga aku tak mengantongi kue.” Ia mengingatkan kita untuk tidak terperdaya oleh jerat-jerat dunia maya yang mengatakan seolah semua perlu dicek, semua perlu ditanggapi, dan semua informasi seolah penting dibaca pada saat bersamaan. Diperlukan nyali dan kesadaran besar supaya mampu menentukan batas.  

Ia mengingatkan kita untuk tidak diperdaya oleh jerat-jerat dunia maya yang mengatakan seolah semua perlu dicek, semua perlu ditanggapi, dan semua informasi seolah penting dibaca pada saat bersamaan. Diperlukan nyali dan kesadaran besar supaya mampu menentukan batas.

          Anak-anak suka terpukau mendengar nasihat orang tua: “Gapailah cita-citamu setinggi langit.” Petuah membuat mereka memandang bintang-bintang di langit yang Mahaluas tanpa batas lalu memberi analogi serupa pada masa depan. Ini cukup gawat dalam situasi hari ini. Nasihat tampaknya perlu diberi keterangan lanjutan: “Tapi kalau di jalan menuju langit kamu melihat pohon-pohon tumbang, menanamlah dulu. Kalau di jalan menuju langit kamu melihat orang-orang lapar, bantulah dulu. Kalau di jalan menuju langit ada semak berduri, babatlah dulu. Kalau di jalan menuju langit ada cuaca buruk, menepilah dulu. Kalau di tengah jalan menuju langit kamu tersesat, carilah jalan kembali.” Dengan begitu perjalanan itu akan menemukan batas-batasnya.


Yulia Loekito, penulis tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s