Ruang Anak Bajang (2)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan di harian KOMPAS

Tujuh episode kedua:

Begawan Swandagni dan Dewi Sokawati terbawa perasaan dan pemikiran tentang cinta dan nafsu hingga keduanya pun bercinta. Pergulatan batin ini terus membayangi. Sementara Dewi Sokawati telah menyerahkan diri utuh-utuh pada keberadaan nafsu berahinya, suaminya masih menyimpan kerisauan tak berujung. Padahal, justru di puncak kepasrahannya itu, Sokawati menyaksikan bagaimana sepasang golek kencana memasuki tubuhnya.

Kandungan Sokawati memasuki bulan ketiga ketika ia mulai mengidam. Meskipun berat, karena tahu idamannya ini sungguh mustahil ditemukan, ia toh menyampaikan pada suaminya bahwa sang bakal jabang bayi minta pisang emas. Dengan semangat seorang suami yang sangat mencintai istri dan mendambakan keturunan, Swandagni bertekad menemukan pisang emas itu. Ia sempat kehilangan arah saat memulai perjalanan. Dipandu berkas cahaya dari kejauhan, ia sampai di puncak gunung yang sangat indah. Dewi Luhwati, penjaga tempat itu atas perintah Batara Guru, memberi tahunya bahwa ia sampai di Gunung Taranggana Sekar. Luhwati membimbingnya menemukan pisang emas, dan memberi pesan khusus cara memakannya, yang harus sekaligus buah dan kulitnya. Setelah berjanji untuk memenuhi pesan itu, Swandagni pulang, tanpa sempat berterima kasih pada Luhwati.

Swandagni sampai di pertapaan Jatisrana ketika kandungan istrinya menginjak tujuh bulan. Lamanya perpisahan menempatkan kerinduan keduanya di puncak tertinggi dan mendesak mereka untuk memuaskannya. Pasutri itu pun bercinta sehangat sebelumnya.

Tema: cinta versus nafsu, penerimaan atas berahi, pencarian hasrat, kegigihan dan keberserahdirian

Karakter: Begawan Swandagni, Dewi Sokawati, Dewi Luhwati,

Lokasi peristiwa: pertapaan Jatisrana, Gunung Taranggana Sekar

Kutipan terpilih:

“Cinta mempunyai mata yang lebih terang daripada mata kita.” (Eps. 9)

Glosari: rara melayu, jaras (cahaya), clumpring-clumpring, (burung) cucur

Episode 8: Pergumulan fisik dan batin pasutri Begawan Swandagni dengan Dewi Sokawati. Di antara perbuatan cinta asmara, keduanya saling mempertanyakan hakikat kotor versus suci, terang versus gelap, cinta versus berahi. Mereka menyadari tak akan sampai ke puncak seandainya bukan berkat berahi, yang dalam penglihatan Sokawati berwujud sepasang golek kencana memasuki tubuhnya. Justru melalui berahilah cinta mereka berbuah keindahan lain. Namun demikian, Swandagni masih menyimpan suatu penyesalan.

Episode 9: Sokawati memberitahu suaminya bahwa ia mengandung. Sukacita Swandagni dirayakan kicauan kepodang. Menginjak bulan ketiga kehamilannya, Sokawati menyampaikan pada suaminya bahwa ia mengidam pisang emas yang bercahaya. Ia menyampaikannya dengan berat hati karena tahu bahwa untuk menemukannya adalah hal yang nyaris mustahil.  

Episode 10: Malam sebelum Swandagni berangkat mencari pisang emas idaman Sokawati, keduanya bercinta lagi sehangat sebelumnya. Paginya Swandagni berpamitan, dan dilepas dengan begitu berat oleh Sokawati yang merasa bersalah karena menyulitkan sang suami.  

Episode 11: Swandagni memulai perjalanan dengan keraguan menentukan arah pencarian. Desa dan hutan dilewatinya tanpa hasil. Kelelahan badan mengganggu pikirannya, bolehkah keinginan istrinya dilupakan saja? Suatu malam saat beristirahat dalam galau, tadahasih menghiburnya dengan mengantarkan suara sang istri yang menyemangati. Putus asanya hilang, malam menjadi terang oleh jaras cahaya yang muncul dari bumi ke arah langit. Mengikuti sumber terang itu, Swandagni tiba di kaki gunung saat matahari muncul. Ia tiba di puncaknya sore. Namun begitu ia tak bisa menemukan sumber terang itu. Dinasihati suatu suara, ia membersihkan hati dan pikiran untuk bisa menemukan yang ia cari-cari.

Episode 12: Swandagni tiba di Gunung Taranggana Sekar dan ditemui Dewi Luhwati, utusan Batara Guru untuk menjaga tempat itu. Dengan meminjam bintang-bintang sebagai matanya, Swandagni dapat menemukan pohon pisang emas yang dia cari-cari. Hanya ada sebuah pisang di pohon itu. Dewi Luhwati berpesan pada Swandagni agar istrinya makan pisang itu utuh-utuh, sekulit-kulitnya.

Episode 13: Swandagni bersiap-siap memetik buah pisang dari pohonnya yang tak seberapa tinggi. Tapi ia selalu gagal, pohon itu terus meninggi. Dewi Luhwati menasihatinya agar ia merendahkan dan memasrahkan diri pada kekayaan pohon pisang itu. Setelah mengosongkan diri dan menerima segenap kekayaan pohon pisang, Swandagni mendengar pohon itu berbicara padanya, mengingatkan agar ia dan istri memenuhi pesan Luhwati agar pohon itu bisa mati. Setelah berhasil memetik buah pisang emas, Luhwati menghilang, tempat sekitarnya menjadi kosong. Ia menuruni gunung saat fajar dan bergegas pulang dengan kerinduan mencekam.

Episode 14: Sokawati gelisah menanti suaminya pulang. Ia terus merasa bersalah telah meminta sesuatu yang sulit dipenuhi. Namun ia selalu mendapat pembenaran bahwa anak dalam kandungannyalah yang meminta itu. Usia kandungannya menjelang tujuh bulan. Suatu malam ketika bintang dan bulan bersinar terang, suaminya pulang. Ia pun melepaskan rindunya yang dibarengi dengan gairah berahi. Mereka bercinta ditemani suara cucur. Seusainya, Swandagni menyampaikan bahwa ia berhasil membawa pisang emas idaman sang istri, sambil mengingatkan bahwa usia kandungannya memasuki bulan ketujuh.


Dian Vita Ellyati, penyuka sastra, tinggal di Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s