Tiba Saatnya …

Yunie Sutanto

Pada usia delapan sampai sepuluh tahun, anak-anak mengalami tiga transisi besar-moral, biologis, dan sosial. Setiap transisi membawa penyesuaian, konflik dan perubahan-perubahan tersendiri. Ya, perubahan. (Gary dan Anne Marie Ezzo, Let The Children Come Along The Middle Years Way, 2002)

WAKTU berlalu tanpa menunggu, tanpa permisi. Anak-anak yang tadinya lucu dan imut dalam buaian itu telah memasuki usia praremaja. Usia 8 hingga 10 tahun sering dianggap usia tanggung. Serba tanggung fisiknya, yang terbukti dari sulitnya membeli pakaian dan alas kaki yang pas. Jika membeli di counter baju anak ukurannya sudah terlalu pendek, tetapi di counter baju dewasa juga terlalu gombrong buat mereka. Masa-masa peralihan yang bikin berbusana jadi serba salah. Beberapa anak perempuan sudah mulai bertumbuh bakal payudaranya pada usia 7-8 tahun (Lynda dan Area Madaras, 2011:36) dan mengharuskan mereka mulai mengenakan miniset. Orangtua pun bertanya-tanya: ke mana gerangan perginya bocah-bocah ingusan yang kemarin rasanya masih cengeng menangis dalam pelukannya? Waktu terus bergulir.

Anak-anak (ternyata) bertumbuh dan orang tua pun (harus) bertumbuh bersama mereka. Gaya parenting untuk anak balita tentu sudah tak cocok diterapkan di masa praremaja. Anak-anak yang tadinya begitu bergantung pada orangtuanya, kini perlahan mulai mengandalkan dirinya sendiri. Tahap paling awal dalam proses menjadi pribadi yang dewasa. Tahun-tahun pertengahan adalah tahun-tahun persiapan agar anak siap menjadi pribadi dewasa yang bertanggung jawab. Mengutip Ezzo dalam kata pengantar buku ini: “1500 hari adalah waktu yang anda miliki untuk mempersiapkan putera-puteri Anda menghadapi hampir 3700 hari masa remaja. Siapkah anda?” Sayangnya siap ataupun tidak siap, waktu terus berjalan.

Masa praremaja adalah seperti sebuah jendela sempit di mana orangtua jangan sampai terlewat kesempatannya untuk “hadir” bagi anak-anak. Anak-anak mulai lebih nyaman berada dalam pertemanan sebaya. Kehadiran orangtua di era digital memanglah akan lebih berat karena harus bersaing juga dengan suara-suara yang hadir lewat internet. Anak-anak yang tak nyaman berkomunikasi dengan orangtuanya akan dengan mudah mencari nasihat di internet. Hanya ada satu cara pamungkas: pentingnya menjaga jendela komunikasi tetap terbuka antara orangtua dan anak. Jendela ini harus dijaga tetap terbuka sejak dini. Mengutip Helen Andelin dalam All About Raising Children (1983), orangtua harus membangun keakraban hubungan dengan anak-anaknya sebelum mereka berharap bisa mempengaruhi kehidupan anak-anaknya dengan cara yang positif dan berdampak. Jika kita tidak memprioritaskan waktu dan mengisi hati anak-anak di masa kecil mereka, maka lebih sulit untuk tetap menjaga jendela komunikasi itu tetap terbuka di masa praremaja.

Gary Chapman membahas tentang lima bahasa kasih yang dimiliki manusia: waktu berkualitas, kata-kata peneguh, hadiah, pelayanan, dan sentuhan fisik. Mengetahui yang mana bahasa kasih utama anak akan sangat membantu orangtua dalam menjaga tangki kasih anak agar selalu terisi. Anak yang bahasa kasihnya sentuhan fisik mungkin lebih suka dipeluk daripada anak yang bahasa kasihnya hadiah. Tentunya bahasa kasih ini penting dalam upaya menjaga jendela komunikasi orangtua dan anak agar senantiasa terbuka. Saat anak merasa dikasihi dalam keluarga intinya, ia tidak akan mencari pengakuan di tempat lain. Ia tidak akan kesulitan mengadopsi nilai-nilai keluarga dan ia akan merasa menjadi bagian dari tim. Ia bangga menjadi dirinya dan bangga berada dalam keluarganya. Tangki kasih anak yang penuh tentu akan menjadi modal penting baginya saat dewasa. Tangki kasih yang penuh memungkinkannya bisa berelasi dengan sehat di masyarakat.

Dalam kursus-kursus parenting yang diadakan Gary dan Anne Marie Ezzo, sering diberikan kuesioner-kuesioner yang menjadi bahan refleksi dan evaluasi peserta. Tes-tes yang menilai apakah sesama anggota keluarga saling mengenali bahasa kasihnya satu sama lain. Apakah mereka termasuk kategori keluarga yang berkomunikasi dengan sehat antar anggota keluarga? Apakah keluarga memiliki nilai-nilai hidup yang dianut bersama? Apakah sesama anggota keluarga saling terbuka mengakui dosa satu sama lainnya dan bertekad senantiasa menyelesaikan konflik yang wujud?

Tes-tes yang ada dalam buku ini hanya akan berguna jika ada tekad kuat pembaca untuk berubah. Berubah itu berat. Masa-masa penuh perubahan memang bukan masa yang mudah. Semakin terasa butuhnya strategi matang untuk menciptakan kesempatan-kesempatan emas agar bisa berbicara hati ke hati dengan anak. Waktu makan malam dan menjelang tidur bisa menjadi kesempatan berkomunikasi dari hati ke hati. Satu sama lain bisa saling berempati dan berinteraksi. Ezzo menulis betapa orangtua perlu melakukan lebih dari sekadar membaca bibir anak-anaknya; mereka perlu membaca hatinya. Orangtua perlu mendengarkan jauh ke dalam hati anak, tak sekedar mendengar kata-katanya semata. Ada pesan-pesan tak terkatakan yang tersirat lewat ekspresi wajah, bahasa tubuh dan intonasi suara. Anak-anak juga peka akan perlakuan orantuanya, apakah mereka memprioritaskan waktu atau sekadar menyisakan waktu untuk bersama anak-anak. Waktu sisa tentu tidak seberharga waktu yang dijadwalkan khusus, bukan?

Anak-anak juga peka akan perlakuan orangtuanya, apakah mereka memprioritaskan waktu atau sekadar menyisakan waktu untuk bersama anak-anak. Waktu sisa tentu tidak seberharga waktu yang dijadwalkan khusus, bukan?

Siap atau tidak, wewenang orangtua mulai akan berkurang seiring anak memasuki usia praremaja. Orangtua tidak lagi menggunakan parenting ala otoritas macam mengasuh balita. Orangtua mulai ganti gigi dari otoritas ke pengaruh hubungan. Seiring anak menjadi semakin dewasa, mereka pun akan menjadi sahabat orangtua. Anak akan semakin matang secara fisik dan moral, puncaknya anak menjadi pribadi dewasa yang akan bisa mengambil keputusan mandiri atas hidupnya. Orangtua dan anak yang sudah dewasa kelak akan menjadi sahabat, sesama orang dewasa yang saling bertanggung jawab kepada kehidupan yang dianugerahkan Allah. Kiranya pertanyaan-pertanyaan ini terus terngiang-ngiang selepas khatam membaca buku yang satu ini.


Yunie Sutanto, penulis tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s