Jemuran

Grace

SEORANG lelaki berjanji pada calon istri: “Yang, besok kita lihat-lihat rumah, yuk. Aku mau beli rumah untuk memulai membangun keluarga kecil kita bersama.” 

Dan sang calon istri pun memerah pipinya, tesenyum lalu mengangguk-angguk dengan mata berkaca-kaca.

Begitulah, sesuai janji mereka berboncengan sepeda motor berkeliling di beberapa perumahan. Perumahan pertama yang mereka kunjungi milik pengembang terkenal, yang selalu diiklankan di televisi dengan slogan: “Besok Senin harga naik! Alam Asri, namanya. Sesuai namanya, perumahan di situ sungguh tampak sangat asri. Pohon-pohon yang tinggi serta rindang berjejeran di sepanjang jalan utama. 

Jalan di gerbang utama itu sangat luas, dengan dua akses pintu dan pos penjagaan di pintu utama, 24 jam. Setiap pengunjung keluar dan masuk harus izin dengan pihak sekuriti. Warga yang tinggal di sana memiliki stiker di mobilnya, sehingga sekuriti langsung membuka portal untuk mereka. Para tamu harus menyerahkan kartu identitas yang ditukar dengan kartu tamu.

Kepala Ayang, sang calon istri, sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri: mengagumi desain arsitektur yang indah. Setelah melihat di rumah beberapa kompleks, mereka menuju ke club house di ujung jalan yang eksklusif dan elegan. Ada tempat fitnes dan kolam renang. Ada juga kafe kecil. Ada beberapa anak kecil dan baby sitter-nya sedang berjalan-jalan di taman yang luas di sekitar club house itu. Ah, sangat menyenangkan sekali! Pikiran si Ayang sudah berkelana. Eh, apakah boleh menggelar kain untuk berpiknik di sana? Kok sepi sekali, padahal taman itu cukup luas dan rindang?

Mereka lalu menuju ke kantor pemasaran perumahan. Meminta brosur pada marketing yang bertugas di sana, mendapat penjelasan singkat tentang harga rumah, luas, fasilitas yang didapat. Setelah memasukkan brosur dan kertas penuh tabel angka ke dalam tas, mereka mengucap terima kasih. Lalu, berboncengan lagi menuju perumahan kedua.

Kompleks perumahan kedua tujuan mereka sama terkenalnya dengan yang pertama. Milik pengembang “Sang Putra”. Tak jauh beda dengan Alam Asri, jalanan beraspal hitam lebar memisahkan dua rumah yang berseberangan. Tiap rumah di satu jalan itu tampak mirip semua. Semua dibangun tanpa pagar. Bahkan tempat untuk menempelkan nomor rumah pun sama: dari batu alam hitam dengan huruf dan angka berwarna putih. Hanya angkanya saja yang berbeda. Di sini malah ada kolam renang di setiap kompleksnya. Jadi penghuni yang tinggal di sini tak perlu berjalan jauh untuk berenang. Tak banyak mobil terparkir di sana. Mungkin karena ini hari kerja, jadi banyak penghuninya yang sedang keluar bekerja.

Setelah keluar dari kantor pemasaran kedua, mereka menuju sebuah rumah makan tak jauh dari situ untuk beristirahat sambil mengisi perut. Sudah waktunya makan siang. Sambil menunggu pesanan datang, si Ayang mengeluarkan brosur-brosur dari dalam tasnya. Dia mengagumi gambar yang tercetak di kertas yang berukuran besar, tebal dengan laminasi doff. Di kertas itu penuh dengan gambar tampak depan rumah dan denah ruangannya. Abang mengambil kertas fotokopian yang penuh dengan angka. Memandang angka-angka yang bertebaran di sana sambil pikirannya melayang.

Tak lama kemudian. 

“Yang,” Abang memulai percakapan, “Sepertinya aku tak sanggup kalau membeli rumah di kedua perumahan tadi.”

Si wanita meletakkan brosur yang tadi masih diamatinya, lalu tangannya meraih tangan Abang. 

“Iya Bang. Aku tahu kok. Ketika tadi marketing menyebutkan angkanya, aku tahu itu terlalu muluk untuk kita. Jangan kuatir, Bang, kita masih bisa cari di perumahan lain.” 

Ayang tersenyum lembut menyejukkan hati pasangannya. Ah, beruntungnya Ayang. Sepertinya dia tidak salah memilih pasangan hidupnya ini. Calon istrinya sangat mengerti dan tidak banyak menuntut.

“Permisi, Mas, Mbak, ini ayam goreng sama nasinya mau ditaruh di mana?”

Suara berat pelayan perempuan mengacaukan suasana hening romantis milik mereka berdua. Wajahnya cemberut sambil membawa dua piring nasi dan satu piring lagi berisi dua potong ayam goreng. Ih, sepertinya sirik sekali perempuan itu melihat mereka saling berpandangan penuh kasih.

Singkat cerita, mereka akhirnya membeli sebuah rumah mungil di perumahan kecil yang baru saja dibangun. Tanpa pos penjagaan 24 jam, tanpa tepat kebugaran, kolam renang, bahkan pohon yang tinggi dan rindang pun belum ada. Tidak apa-apa, yang penting aku punya kamu, pikir si Ayang sambil melirik Abang. Ternyata Abang pun memikirkan hal yang sama. 

Setelah mereka mengucap janji untuk sehidup semati dan sementara menunggu rumah selesai dibangun, mereka menyewa sebuah unit apartemen dengan tipe studio. Tak ada kamar di sana. Dapur, kamar, dan ruang keluarga menjadi satu tanpa sekat. Hanya ada kamar mandi kecil yang terpisah. Furnitur pun tampak seadanya. Sebuah ranjang berukuran 160 x 200 cm, sebuah meja bundar kecil dengan dua buah kursi untuk makan atau sekadar duduk, sebuah lemari es kecil, kompor dengan satu tungku, lemari pakaian dan meja dengan televisi di atasnya. Sementara itu cukup bagi mereka. Toh, hampir semua waktu mereka dihabiskan di kantor. Mereka hanya pulang untuk melepas lelah setelah seharian di luar. Bahkan untuk makan pun biasanya mereka lakukan di luar.

Hari Sabtu dan Minggu diisi mereka dengan kegiatan membersihkan apartemen dan mencuci baju. Abang bertugas menyapu dan mengepel lantai, Ayang mencuci baju-baju mereka. Lumayan, ada fasilitas laundry baju kerja dari kantor, jadi Ayang hanya perlu mencuci baju-baju rumah. Abang pernah menawarkan untuk membeli sebuah mesin cuci, namun Ayang menolak. 

“Kayaknya masih belum butuh deh, Bang. Cucianku paling hanya pakaian rumah kita saja. Mending uangnya ditabung dulu, nanti beli yang bagus sekalian. Temanku pernah bercerita, mesin cucinya bagus. Agak mahal memang, tapi sudah otomatis, bahkan sudah kering 90%, katanya. Jadi jemurnya cuma perlu diangin-anginkan sebentar saja.”

Begitulah Ayang menolak tawaran Abang. Jadi Ayang mencuci cukup bermodalkan dua buah ember bulat. Tak lama kemudian, Ayang baru menyadari bahwa mereka belum punya jemuran. Apalagi apartemen mereka cukup sempit. Jadi Ayang meminta Abang yang sudah selesai mengepel untuk membelikan jemuran.

“Bang, tolong belikan jemuran, ya. Yang bisa muat ditaruh di apartemen kita yang kecil ini.” 

Sambil mengatakan itu, Ayang berpikir jemuran model seperti apa yang cocok untuk apartemen mereka ini. Kalau jemuran handuk, sepertinya perlu beberapa. Kalau mau yang lipat besar, sepertinya akan membutuhkan ruang yang cukup banyak.

“Baiklah, Yang, Abang turun dulu. Sekalian Abang mau beli makan untuk kita.”

Beberapa waktu kemudian, pulanglah Abang sambil membawa makanan dan jemuran.

Ketika melihat jemuran yang dibawa Si Abang, Ayang ternganga. 

“Abaaang, kok belinya jemuran bayi sih?”  sambil menunjuk jemuran lipat berbentuk payung terbalik berwarna biru muda.

“Nah, katanya tadi cari jemuran yang cocok buat apartemen kita yang kecil ini. Tadi aku lihat ini aku pikir cocok, bisa muat banyak dan tidak makan tempat.”

“Tapi maksudku, Bang, bukan jemuran bayi begini. Jemuran model stainless steel yang bisa muat banyak baju. Kalau jemuran ini mana bisa buat jemur celana jeans-mu yang berat itu. Lagian, jemuran itu mau digantung di mana?” Nada si Ayang mulai meninggi. Mungkin karena dia sudah capek mencuci dan sudah kelaparan.

Sepertinya itu pertengkaran mereka yang pertama. Dan mungkin menjadi bibit pertengkaran di masa mendatang. Maklumlah, dua manusia yang berbeda pasti mempunyai bayangan dan pikiran yang beda pula walaupun menghadapi kata yang sama: jemuran.


Grace, penulis tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s