Panggilan

Agita Y.

“MULAI sekarang, panggilan miss dan mister kita ganti dengan sebutan dalam bahasa Indonesia: pak dan bu,” demikian penjelasan kepala sekolah yang baru di sekolah tempat saya bekerja dulu.

Pada awalnya terasa sulit dan canggung karena sudah terbiasa anak-anak memanggil gurunya dengan miss atau mister tadi. Namun, kesepakatan baru ini telah kami bicarakan dan pertimbangkan masak-masak. Tujuannya lebih berbangga dengan bahasa Indonesia. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk mengubah kebiasaan ini, apalagi kami saling mengingatkan. Meskipun saya sudah tak bekerja di tempat itu, sampai kini jika bertemu dengan murid baik secara langsung maupun lewat media sosial, saya tetap dipanggil “Bu”.

Apa salahnya memanggil dengan Pak atau Bu? Apa membuat kita lebih ndeso atau terkesan tua? Iya sih saya setuju yang kedua. Kadang kala merasa tidak cocok dengan panggilan “Bu” karena merasa bukan ibu-ibu, padahal anak sudah dua. Rasanya ingin dipanggil “Mbak” terus saja biar awet muda.

Lain tempat, lain panggilannya. Saya pernah merasa aneh dipanggil “Tante”. Kalau yang memanggil anak-anak, saya masih agak maklum. Tapi ini sesama ibu di komplek perumahan di desa tempat saya dulu mengontrak rumah. Mereka memanggil “Tante”. Aih, gatal kuping saya, saya bukan “tante-tante”! Sepertinya kalau dipanggil “Tante” itu terkesan wanita dewasa yang modern sekali. Padahal itu di desa lho bukan kota. Rasa-rasanya lebih cocok Mbak atau Mbakyu atau Ibu sajalah.

Panggilan berbeda lagi yaitu Jeng. Ha, ini saya juga masih merasa aneh sampai sekarang. Biasanya yang memanggil seperti itu adalah orang-orang yang lebih sepuh, ibu-ibu zaman dululah. Tidak ada yang salah sih dengan panggilan itu, wong artinya juga panggilan dalam bahasa Jawa untuk menyebut perempuan yang seusia atau lebih muda. Asal katanya, diajeng.

Tapi, saya lalu membayangkan sosok perempuan berkebaya, berkain dan bersanggul jika mendengar kata jeng dan diajengmlaku thimik-thimik dengan tutur kata halus, yang jelas sama sekali tidak menggambarkan wanita grusa-grusu seperti saya.

Lucu lagi panggilan “Kak”. Saya merasa terlalu Indonesia dan resmi mendengar panggilan ini. Biasanya dipakai sebagai sebutan dalam ritual jual-beli. Di toko-toko tertentu, ada standar penyebutan pengunjung dengan sebutan itu. Di jualan daring juga lazim penggunaan “Kak”. Sekarang, saya sudah agak terbiasa jika disebut “Kak”. Namun, di desa tempat tinggal saya sekarang, sesuai harapan saya,  orang-orang atau tetangga memanggil nama saya biasa, dengan tambahan “Bu” atau “Mbak”.


Agita Y., Ibu suka menulis, tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s