Ruang Anak Bajang (3)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan di harian KOMPAS

Tujuh-episode ketiga:

Begawan Swandagni pulang ketika kandungan istrinya mencapai tujuh bulan. Ia menceritakan pada istrinya pengalaman mencari pisang emas, lalu mempersiapkan upacara mitoni. Rangkaian upacara mereka lakukan sebagai permohonan pada para dewa agar kandungan Sokawati selamat hingga kelahirannya. Upacara mitoni ini meliputi siraman air dari tujuh sumber yang ditaburi bunga tujuh rupa, bermakna penyucian ibu dari segala noda. Di tengah siraman, Sokawati merasakan air upacara yang ditumpangi niat manusia tidak lagi menyegarkannya. Maka ia pun mengulangi siraman di bawah pancuran buluh bambu kesayangannya. Setelah istrinya mentas, Swandagni melanjutkan upacara dengan sehelai janur yang melambangkan ikatan duniawi yang merugikan ibu dan calon bayi. Ia pun memutus ikatan itu agar si bayi dan ibunya terbebas dari belenggu keinginan buruk. Berikutnya adalah perlambang untuk jenis kelamin bayi yang diinginkan, melalui dua butir kelapa bergambar Batara Kamajaya yang menyiratkan bayi lelaki, dan Dewi Ratih yang menyimbolkan perempuan. Swandagni, di luar kesadarannya, memilih kelapa bergambar Batara Kamajaya. Namun, Sokawati tetep menginginkan kelapa lain bergambar Dewi Ratih. Puncak upacara adalah Sokawati menyantap pisang emas idamannya yang telah diperoleh suaminya dengan perjuangan. Suaminya mengingatkan Sokawati akan pesan Dewi Luhwati. Sokawati pun memakan pisang itu sekaligus buah dan kulitnya. Manis dan sepat rasanya membuat Sokawati merenungkan kelahiran dan kematian. Usai upacara, Swandangi melanjutkan pemujaan di sanggarnya, sedangkan Sokawati kembali ke pancuran untuk mandi bersama kelapa bergambar Dewi Ratih.

Waktu berlalu hingga tiba saatnya Sokawati melahirkan. Mereka dianugerahi sepasang kembar lelaki yang sangat berlainan wujudnya. Yang satu bayi manusia yang tampan rupawan, sedangkan lainnya bayi raksasa yang sangat mengerikan. Sokawati mulanya menolak bayi raksasa sebagai anaknya. Namun, tangisan sang bayi menyadarkannya bahwa kedua bayi itu adalah anak-anaknya. Sementara suaminya tetap tidak bisa menerima bahwa anaknya berwujud raksasa, dan menuduhnya sebagai noda. Swandagni bahkan menyudutkan Sokawati yang dianggapnya telah menyeretnya ke tengah dosa dengan nafsu berahinya.

Tema: pengakuan (melalui upacara) makhluk lemah pada Kuasa Yang Maha, kelahiran dan kematian, penerimaan dan penolakan atas nafsu

Karakter: Begawan Swandagni, Dewi Sokawati, sepasang bayi kembar

Lokasi peristiwa: pertapaan Jatisrana, pancuran buluh bambu di kompleks pertapaan

Kutipan terpilih:

“Kekhawatiran memang akan selalu datang sebagai godaan, bila kau sedang memimpikan kebahagiaan.” (Eps. 15)

“Belum tentu air upacara itu suci, karena bisa saja air itu tercampur dengan hasrat manusia yang belum tentu murni dan suci.” (Eps. 16)

Tiba-tiba ia merasa hatinya harus menerima, kelahiran itu tak ubahnya kematian. (Eps. 18)

 “Buah cinta selalu indah. Tapi tak pernah kita tahu dan bisa memastikan wujud dan rupa buah cinta itu. Jika jelek, ia tetap indah karena ia adalah buah cinta.” (Eps. 20)

Justru dalam kegelapan itu, ia tak melihat adanya yang jelek atau yang baik. Kegelapan itu ada, seperti terang juga ada. (Eps. 21)

Ia sadar, kendati hidup kependetaannya memuncak tinggi, tak mungkinlah sebagai manusia ia bisa seluruhnya mengalami raganirmukta, pembebasan dari nafsu. (Eps. 21)

Glosari: mitoni, sentong, emban, cantrik, pengaron, janur, titah, memaras, (burung) walik, ragabahni, mangsa kasanga, kirana, kinaragan, raganirmukta, ragawarsa

Episode 15: Pada istrinya, Swandagni menceritakan pengalamannya mencari pisang emas. Sokawati kembali mengungkapkan penyesalannya telah meminta idamannya yang sulit ditemukan. Swandagni menenangkannya dan menyuruhnya beristirahat agar esok siap untuk upacara mitoni. Sokawati bermimpi buruk dan membangunkan suaminya. Swandagni menenangkannya, dan mengingatkan itulah perlunya upacara, memohon para dewa menjauhkan bala dan memberikan keselamatan pada calon jabang bayi. Sokawati memandangi pisang emas yang dikelilingi kepodang kuning emas yang ingin mematukinya, seraya memikirkan makna idamannya ini. Ia gelisah, tak yakin dengan mimpinya yang mencampur keindahan dengan malapetaka. Paginya ia mandi di pancuran buluh bambu kesukaannya dan bersiap-siap melakoni upacara yang dipimpin sendiri oleh suaminya.

Episode 16: Sokawati dan Swandagni melaksanakan upacara mitoni. Swandagni memulainya dengan berdoa dan mewejang tentang cinta yang melahirkan harapan nan suci, sambil menyiramkan air dari tujuh sumber dan ditaburi bunga tujuh warna sebagai simbol penyucian. Anehnya, Sokawati tidak merasakan kesegaran dari air upacara ini. Menurutnya air pancuran buluh bambu masih lebih segar, hingga ia meminta izin suaminya untuk mengulangi mandi di tempat itu. Sambil mandi ia memikirkan penyebab air upacara tidak terasa segar, apakah mungkin karena sudah dinodai hasrat manusia yang belum tentu suci, berbeda dari air pancuran. Ia bermain-main di pancuran ditemani kicau prenjak. Suaminya mengingatkannya untuk segera mentas dan melanjutkan upacara. Swandagni mengelus-eluskan sebutir telur ke perut istrinya sambil mendoakan sang jabang bayi melengkapi kehidupan jagat raya, lalu menetaskannya dengan permohonan kelancaran persalinannya kelak.

Episode 17: Swandagni melanjutkan mitoni dengan mengikatkan sehelai janur di perut istrinya. Ia lalu memutuskan ikatan itu dengan harapan sirnanya ikatan (berupa keinginan-keinginan buruk) yang membelenggu sang ibu. Swandangi lalu menanyai istrinya tentang jenis kelamin jabang bayi yang diinginkannya. Istrinya ingin anak lelaki agar bisa melindunginya. Swandangi mengambil dua butir kelapa, yang masing-masing bergambar Batara Kamajaya dan Dewi Ratih, sebagai simbol jenis kelamin calon jabang bayi. Dengan ritual tertentu, akhirnya ia, di luar kesadarannya, memilih butir kelapa bergambar Batara Kamajaya. Swandangi sangat senang. Sementara Sokawati yang selama itu mengalami penglihatan munculnya cahaya hitam dan putih dari kedua kelapa, yang kemudian memasukinya, menegur suaminya agar memilih kedua-duanya. Tak menghiraukan keberatan sang istri, Swandagni memaras kelapa pilihannya dan memberikan airnya pada istrinya untuk diminum. Sokawati memaksa untuk tetap menyimpan kelapa bergambar Dewi Ratih, betapapun suaminya tidak memahaminya.

Episode 18: Sokawati dan Swandagni tiba di puncak upacara, yaitu menyantap pisang emas idaman sang calon jabang bayi. Pisang emas di ujung tumpeng diambil Swandangi dan diserahkannya pada sang istri. Keduanya sempat terkenang pada malam penuh gairah di pelataran Jatisrana. Swandangi mengendalikan gairahnya, dan mengingatkan istrinya untuk menjalankan pesan Luhwati. Sokawati memakan sekaligus buah dan kulit pisang emas sambil merasakan ia bagaikan dipaksa menelan terang dan gelap sekalian. Kicau riang kutilang dan tangis sedih walik menemaninya mengunyah manis dan sepat, laksana kelahiran dan kematian. Pengalaman batin ini tak bisa dibagikan Sokawati pada suaminya. Suaminya tampak lega melihatnya menghabiskan pisang emas sesuai pesan Dewi Luhwati.

Episode 19: Usai upacara, Swandagni meneruskan doanya dengan pemujaan di sanggar pemujaan, memohon para dewa mengabulkan seluruh harapan sepanjang upacara. Sokawati, yang diminta beristirahat oleh sang suami, kembali ke pancuran buluh bambu kesayangan untuk sekali lagi mandi, merasakan kesegaran air. Ia menggendong kelapa bergambar Dewi Ratih yang tak dipilih suaminya. Ia mandi di bawah pancuran sambil mendekapkan kelapa itu ke buah dadanya dan merasakan kenikmatan ragahbahni, api berahi, hingga pecah kulit kelapa itu dan menyiramkan airnya ke tubuh Sokawati. Setelah puas, ia pun pulang ke pedepokan.

Episode 20: Bulan kesembilan yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Proses persalinan yang menyakitkan itu ditanggung Sokawati dengan tabah dan sabar, membuat iri suaminya yang tegang, kaku, dan memberontak. Kelihatannya Swandagnilah yang menenangkan istrinya di tengah perjuangan, namun sebenarnya Sokawati yang membantu sang suami menyingkirkan perasaan khawatirnya. Bersamaan Sokawati mendapatkan penglihatan sepasang golek kencana keemasan berwarna hitam dan putih menghilang ke dalam rahimnya, seperti saat mencapai puncak bercinta dengan sang suami, lahirlah anaknya. Anaknya kembar sepasang lelaki, yang satu bayi manusia biasa yang tampan, dan yang lain bayi raksasa yang jelek.

Episode 21: Sokawati seketika menolak anaknya yang berwujud raksasa. Namun, demi mendengar tangisnya, ia pun luluh dan memeluknya erat. Perasaan damai dari kehangatan yang ditularkan jabang bayi menyadarkan Sokawati. Persis bersamaan itu, Swandagni tak mempercayai bahwa anaknya adalah raksasa buruk rupa. Swandagni menganggap anaknya yang buruk rupa lahir dari kenodaan, bukan kesucian. Belum cukup puas, ia menuduh istrinyalah yang membawakan noda itu, membuatnya bernafsu, saat malam terang bulan di pelataran Jatisrana. Malam itu ia sadar nafsu adalah bagian dari cintanya pada sang istri. Namun, menghadapi bayi raksasa, ia serta-merta mengingkarinya.


Dian Vita Ellyati, penyuka sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s