Nisan yang Mengingatkan

Rachmawati

Tolong tebarkan atasku bayang-bayang hidup yang lindap 

Kalau kau berziarah kemari

Tak tahan rasanya terkubur, megap 

Di bawah terik si matahari

(Sapardi Djoko Damono, “Tulisan di Batu Nisan”)

MEMBACA puisi di atas sekilas mengingatkanku tentang tradisi berziarah dalam keluargaku. Setiap akan melakukan hajatan besar seperti pesta perkawinan atau hal apapun yang dianggap besar dalam hidup, kami diwajibkan berziarah ke makam leluhur. Gunanya meminta doa agar diberi kemudahan dalam tiap rencana kami. Selain itu, setiap hari raya keagamaan, ziarah ke makam para leluhur merupakan hal yang wajib, yang tidak bisa dilewatkan. Berziarah membawa kita mengingat kematian.

Kematian adalah hal yang pasti terjadi bagi setiap makhluk hidup. Manusia yang memilki kemampuan nalar tidak terhindar dari lupa dan lalainya  tentang kematian. Manusia justru sering melupakan kematian, seakan kematian adalah hal yang bisa ditawar olehnya. Untuk itu, ziarah mengingatkan manusia akan peristiwa kematian, yang tidak akan bisa dihindari. 

Sekitar lima tahun yang lalu, saya melahirkan putra ketiga dengan jarak yang begitu dekat dengan putri kedua saya. Setelah putri kedua saya berusia 5 bulan, tiba-tiba saya dapat kejutan hamil anak ketiga. Pada waktu itu, saya merasa belum menginginkan anak itu. Jarak dengan putri kedua saya masih sangat dekat. 

Namun seiring berkembangnya waktu, kandungan makin tua dan sudah bisa diprediksi bahwa anak kami yang ketiga ini berjenis kelamin laiki-laki, rasa penerimaan dan senang pun menyelimuti keluarga kami. Yah, berhubung anak pertama dan kedua berjenis kelamin perempun. Jadi, ketika mendapat kabar bahwa yang ketiga adalah laki-laki, kami merasa senang. Rasa tidak siap di awal kehamilan seketika hilang, berubah menjadi rasa bahagia. Segala upaya kami lakukan agar anak ketiga kami ini lahir dengan sehat. Kami sudah mempersiapkan berbagai hal untuknya kelak. Sebab, dia akan menjadi anak lelaki pertama di keluarga besar kami.

Namun, ironis. Pada saat kami begitu menyayangi dan menanti kehadirannya, kematian ternyata menjemputnya. Dia lahir dengan gangguan pernafasan sehingga tidak mampu bertahan hidup. Dia hanya bisa menikmati udara di dunia sekitar tujuh jam dari kelahirannya. Di awal keberadaannya, kami tidak begitu menginginkannya. Kami merasa dia terlalu cepat datang dalam hidup kami karena jarak dengan sang kakak begitu dekat. Namun, ketika kami mulai menyayangi dan menanti kehadirannya, dia menuju kematian yang pada hakikatnya semua manusai akan merasakannya. Waktu itu kami sadar betul bahwa kematian adalah hal yang tidak bisa dihindari manusia. Entah, mengapa rasa sakit akibat kehilangan itu terlalu. Butuh waktu yang cukup lama untuk berdamai dengan kehidupan, setelah kematian putra ketiga.

Waktu itu kami sadar betul bahwa kematian adalah hal yang tidak bisa dihindari manusia. Entah mengapa rasa sakit akibat kehilangan itu terlalu. Butuh waktu yang cukup lama untuk berdamai dengan kehidupan setelah kematian putra ketiga.

Semua itu seketika menyadarkan saya bahwa hidup adalah teka-teki, yang sulit untuk dipecahkan. Ketika kita hidup dan bertumbuh di dunia ini, lalu memiliki keluarga, lalu kita mencintai keluarga, lalu kita akan dijemput malaikat maut. Padahal, sebenarnya jika ditelaah dengan baik, manusia tidak pernah menginginkan atau meminta keberadaannya di dunia ini.

Hal yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainya, manusia memiliki jiwa-spiritual. Ketika manusia sudah mati, maka semua itu akan hilang dengan sendirinya, berubah menjadi mayat yang tidak memiliki jiwa-spiritual lagi.  

Oleh sebab itu, kita sering jumpai manusia yang sudah mencapai tingkat spiritual yang sangat tinggi mempersiapkan kematiannya. Dia sudah merasa ada tanda-tanda kematian dalam dirinya. Beberapa orang juga mempersiapkan kematiannya, biasanya tempat pemakaman dan hal-hal yang akan ditulis di nisannya. Nisan sebagai pengingat.

Salah satu contoh yang bisa kita lihat adalah film yang berjudul Sabtu Bersama Bapak. Seorang bapak mempersiapkan kematiannya dengan membuat video. Itu dia siapkan agar anaknya tetap bisa merasakan kebersamaan meskipun bapak sudah meninggal. Kemudian, kisah dalam buku Selasa Bersama Morrie. Kita membaca kisah seorang profesor yang sedang menunggu ajalnya. Beliau mempersiapkan lokasi pemakamannya yang begitu sejuk dan dilengkapi dengan kata-kata yang sangat indah di nisannya. Inginnya, kelak para peziarah bisa serasa merasakan keakraban dengannya meskipun dia sudah tidak ada lagi di dunia ini.     


Rachmawati, penulis tinggal di Prambanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s