Tawa Apa Saja

Eva Rini Tampubolon

TAWA bayi itu lucu dan menggemaskan. Keletihan seorang ibu bisa seketika lenyap ketika melihat bayinya tertawa. Rata-rata orang yang berpapasan dengan bayi akan otomatis mengembangkan senyum. Biasanya bayi akan membalas dengan senyuman, tawa, tapi bisa juga tangisan. 

Kita lalu teringat pada sebuah film yang berkali-kali diputar di layar televisi: Baby’s Day Out (1994). Bayi yang masih merangkak bertualang sendiri di kota, mengalami kejadian-kejadian konyol dan menegangkan. Kita akan terpingkal-pingkal melihat ekspresi si bayi berambut pirang dengan pipi semu merah jambu itu setiap kali bertemu hal-hal baru dan selalu lolos dari kejaran si penculik. Bayi ini ternyata diperankan oleh dua bayi kembar dan kini mereka sudah dewasa yang tentu saja kelucuannya sudah tinggal kenangan.

Tujuan film ini murni untuk menghibur. Makanya, bayi di film ini sepanjang waktu terlihat lucu dan menggemaskan meskipun dia menghadapi berbagai macam peristiwa. Padahal di dunia nyata, tidak ada bayi yang senantiasa gembira. Bayi itu jujur. Artinya, dia akan mengekspesikan apapun perasaannya yang selalu berubah-ubah. Dia akan menangis jika lapar, haus, ngantuk, atau bosan. Dia akan tertawa jika suasana hatinya gembira. Bayi jauh dari sikap pura-pura apalagi ingin menyenangkan semua orang.

Hidup orang dewasa berbeda dengan bayi. Di balik tawa orang dewasa, ada beragam makna. Bisa saja tawa itu memang karena gembira tapi bisa juga tersimpan kesedihan, bisa pula kegeraman atau ejekan. Tawa tidak lagi sederhana. Regis Machdy menceritakan kisahnya dalam buku Loving The Wounded Soul (2020) sebagai seorang yang selalu tampil ceria dan menyenangkan banyak orang. Tampak luar kehidupannya tidak ada masalah, tetapi di dalam hatinya dia merasa kelelahan hingga ke level depresi. Dia punya banyak teman. Anehnya, temannya tidak menyadari dan sulit percaya bahwa Regis mengalami depresi. Regis selalu memakai topeng tawa menutupi kabut gelap dalam dirinya.

Dia punya banyak teman. Anehnya, temannya tidak menyadari dan sulit percaya bahwa Regis mengalami depresi. Regis selalu memakai topeng tawa menutupi kabut gelap dalam dirinya.

Hari-hari ini kita juga sering bertemu dengan kelompok-kelompok yang menampilkan keceriaan. Pernah suatu waktu, saya dan keluarga sedang makan di sebuah rumah makan bernuansa desa. Tak jauh dari tempat kami duduk ada sekelompok ibu-ibu yang memakai atasan kompak berwarna putih. Sepertinya mereka sudah selesai makan dan waktu itu tinggal menikmati acara kebersamaan. Tak lama terdengar lantunan lagu Karo dari arah mereka. Dua di antaranya berdiri mengenakan selendang di bahu sambil menari-nari mengikuti gerakan musik. 

Satu orang di depannya memegang ponsel yang terarah ke kedua orang ini. Sebentar kemudian rekaman selesai lalu bersama-sama melihat ke ponsel. Ada terdengar teriakan: “Jelek kali!” Lalu, mereka tertawa. Selanjutnya, menari lagi. Tertawa lagi. Ibu-ibu lain yang tidak ikut menari juga turut riuh menyaksikan dua rekannya ini beraksi di depan kamera. Besar kemungkinan mereka saat itu sedang menggunakan Tiktok, istilahnya tiktokkan

Kita patut berterima kasih ada aplikasi seperti Tiktok yang bisa dipakai untuk seru-seruan bersama tanpa perlu bersusah-susah mencari topik senda gurau. Seru-seruan sampai tertawa lepas sangat penting untuk mengusir penat. Orang dewasa, terkhusus ibu-ibu, butuh tertawa sambil sejenak melupakan urusan rumah tangga. 

Tawa biasanya menularkan kegembiraan pada orang lain tapi bisa juga memicu amarah dan ketakutan. Tawa yang mengintimidasi. Dalam kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang berjudul Laba-laba (2003), ada satu kisah yang berjudul “Laba-laba” juga. Ditulis di sana: “Perlahan, mereka mendekat. Golok dan pedang itu teracung ke mukaku. Aku mundur ke tepi telaga. Tapi mereka terus melangkah mendekatiku seraya tertawa-tawa. Aku takut. Aku cemas. Golok mereka, tawa mereka, dan sebelum mereka mulai merancahku, aku tersentak. Tubuhku basah. Napasku sesak.” Para sosok ini merasa bangga melakukan kejahatan, senang melihat orang lain menderita. 

Penderitaan orang lain atau sengaja membuat orang lain menderita untuk ditertawakan terjadi juga dalam kehidupan nyata. Misalnya, kebiasaan mengerjai teman yang ulang tahun. Telur busuk dan tepung dilempari ke tubuhnya persis di malam usianya genap sekian tahun. Tubuh berbau busuk dan berlumuran tepung itu jadi bahan olok-olok temannya, direkam lalu diunggah ke media sosial. Atas nama pertemanan, tindakan ini dianggap sah dan menyenangkan. Jika sama-sama senang tentu tidak masalah. Banyak pula, kesenangan mengerjai teman ini menjadi kebiasaan malah kecanduan. Ada rasa puas ketika berhasil merundung temannya. Orangtua sering dihinggapi kekhawatiran anak-anaknya jadi korban perilaku semacam ini di sekolah. 

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anak-anak. Mereka tidak ujug-ujug tumbuh bernurani tumpul. Apa yang disajikan sebagai makanan sehari-hari, itulah yang membentuk kepribadian mereka. Kita boleh memeriksa tayangan televisi dan video-video singkat di kanal media sosial. Contoh-contoh menertawakan penderitaan orang lain ada di situ. Jauh lagi kita mundur, film-film komedi zaman dulu juga berisi lawakan atas kekonyolan para pemainnya. 

Pada waktu yang sama, ketika saya melihat kumpulan ibu-ibu beratasan putih itu, saya menyaksikan salah seorang pengunjung terjungkal dari ayunan gantung yang diikatkan ke dua pohon kelapa. Dia datang berkelompok juga. Tebakanku itu teman-temannya. Seketika, teman-temannya tertawa sedangkan dia berjalan dengan wajah tersipu malu kembali ke kumpulannya. Kejadian konyol itu bisa jadi sulit dilupakan menambah deretan kejadian memalukan dalam hidup.

Hidup ini memang tidak selalu mulus. Walaupun sudah dewasa bisa saja masih jatuh saat jalan, menabrak ketika menyetir, tinggal kelas, tidak lulus, ritsleting celana terbuka dan berbagai kesalahan, kecerobohan, dan kekonyolan lainnya. Ini bisa jadi bahan tertawaan orang lain, bisa juga ikut menertawakan diri sendiri. Tidak apa-apa. Toh, tertawa itu sehat. Asalkan tidak terus-terusan tertawa padahal sedang sedih, ketagihan tertawa hingga membuat orang lain menderita, atau tiktokan terus hingga lupa waktu supaya bisa selalu tertawa. 


Eva Rini Tampubolon, penulis tinggal di Medan 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s